JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menggelar pertemuan bilateral tertutup yang intens selama tiga jam di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 15 Januari 2026. Agenda utama diskusi krusial tersebut menyoroti situasi geopolitik yang memanas di Selat Hormuz serta implikasinya terhadap stabilitas dan keamanan regional Asia Tenggara.
Kedua pemimpin negara tetangga ini membahas secara mendalam dampak potensi eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap jalur pelayaran vital yang menjadi nadi ekonomi global. Pertemuan ini menunjukkan keseriusan kedua negara dalam menyikapi ancaman terhadap rantai pasok energi dan perdagangan internasional.
Presiden Prabowo Subianto, setelah pertemuan, menyatakan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki kepentingan strategis yang sama dalam menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. "Stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, bukan hanya isu regional, melainkan juga isu global yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi dan energi negara-negara Asia Tenggara," ujar Presiden Prabowo.
Selat Hormuz merupakan titik choke point maritim krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak global dan seperempat pasokan gas alam cair. Gangguan di selat ini berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi berskala dunia.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim, dalam kesempatan terpisah, menegaskan pentingnya diplomasi preventif. "Kami sepakat untuk terus memantau situasi dan berkoordinasi erat, baik secara bilateral maupun melalui platform ASEAN, guna mengadvokasi solusi damai dan menghindari konfrontasi yang merugikan semua pihak," kata Anwar.
Diskusi tersebut juga menyentuh potensi dampak kenaikan harga energi global terhadap perekonomian kedua negara yang bergantung pada impor minyak dan gas. Konsolidasi kebijakan energi dan langkah mitigasi turut menjadi bahan pembicaraan serius.
Para analis geopolitik menilai pertemuan ini sebagai sinyal kuat komitmen Jakarta dan Kuala Lumpur untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di luar lingkup langsung Asia Tenggara, mengingat dampak domino yang bisa ditimbulkan oleh ketegangan di Selat Hormuz.
Pembahasan selama tiga jam itu mencakup berbagai skenario dan langkah antisipasi, termasuk penguatan kapasitas pertahanan maritim regional dan perlindungan jalur perdagangan. Kedua negara menekankan pentingnya respons kolektif dalam menghadapi tantangan keamanan non-tradisional.
Selain isu Selat Hormuz, Prabowo dan Anwar juga meninjau perkembangan kerja sama bilateral di bidang ekonomi, investasi, dan pertahanan. Pertemuan ini menegaskan kembali eratnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia sebagai sesama anggota ASEAN.
Kerja sama dalam kerangka ASEAN menjadi kunci utama dalam upaya kedua negara untuk menyuarakan kepentingan bersama di forum internasional. Mereka bersepakat untuk mendorong ASEAN agar mengambil sikap yang lebih solid dan proaktif terhadap isu-isu geopolitik global yang relevan.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia berkomitmen untuk menjaga komunikasi berkelanjutan dalam menanggapi dinamika global yang cepat berubah. Pertemuan bilateral ini diharapkan menjadi fondasi bagi koordinasi yang lebih intensif di masa mendatang, demi kepentingan stabilitas regional dan global.
Langkah diplomatis ini diharapkan dapat memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai kawasan yang stabil dan damai, sekaligus menegaskan peran penting Indonesia dan Malaysia dalam arsitektur keamanan regional dan global.