Pramono Deklarasi Perang Basmi Ikan Sapu-sapu di Sungai Jakarta, Ekosistem Terselamatkan

Chris Robert Chris Robert 15 Apr 2026 20:33 WIB
Pramono Deklarasi Perang Basmi Ikan Sapu-sapu di Sungai Jakarta, Ekosistem Terselamatkan
Pj Gubernur DKI Jakarta Pramono meninjau kondisi sungai dan berinteraksi dengan petugas kebersihan serta komunitas peduli sungai, menandai dimulainya kampanye penumpasan ikan sapu-sapu pada tahun 2026. (Foto: Ilustrasi/Net)

JAKARTA — Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Pramono, secara resmi mendeklarasikan "perang" terhadap populasi ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) di seluruh jaringan sungai Ibu Kota, sebuah inisiatif besar yang diluncurkan mulai Januari 2026. Kebijakan ini bertujuan memulihkan ekosistem perairan, meningkatkan kualitas air, dan menjaga keberlangsungan hidup spesies ikan lokal yang terancam.

Invasi ikan sapu-sapu telah lama menjadi persoalan krusial di sungai-sungai Jakarta. Spesies eksotis ini, dikenal karena ketahanannya dan kemampuan beradaptasi tinggi, merusak habitat alami, mengurangi keanekaragaman hayati, serta mengganggu siklus nutrisi air. Keberadaannya secara masif memperparah sedimentasi dan mengakibatkan air keruh.

Program pembasmian ikan sapu-sapu ini merupakan upaya kolaboratif lintas sektor. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menginisiasi sinergi antara Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP), komunitas pecinta sungai, hingga partisipasi aktif masyarakat umum. Target utama adalah pengurangan signifikan populasi dalam dua tahun ke depan.

Pramono menegaskan urgensi langkah ini. "Kita tidak bisa lagi menunda. Ikan sapu-sapu bukan hanya masalah ekologi, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan sungai dan mata pencarian masyarakat yang bergantung pada perairan," ujarnya dalam konferensi pers di Balai Kota pada Rabu, 8 Januari 2026. Ia menambahkan, "Jakarta harus memiliki sungai yang bersih, sehat, dan lestari bagi generasi mendatang."

Data dari Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan peningkatan drastis populasi ikan sapu-sapu dalam lima tahun terakhir. Sebuah survei pada akhir 2025 mengungkapkan bahwa ikan ini mendominasi hingga 70 persen biomassa di beberapa titik sungai krusial, seperti Ciliwung dan Kanal Banjir Barat. Angka ini jauh melampaui ambang batas toleransi ekologis.

Dampak ekonomi tidak kalah merugikan. Petani ikan dan nelayan tradisional melaporkan penurunan hasil tangkapan ikan endemik secara signifikan. Ikan sapu-sapu bersaing langsung dalam perebutan pakan dan ruang hidup, bahkan ada laporan konsumsi telur ikan lain oleh spesies invasif ini.

Secara lingkungan, aktivitas ikan sapu-sapu yang gemar mengaduk dasar sungai mempercepat erosi dan sedimentasi. Ini berimbas pada pendangkalan sungai serta penurunan kemampuan sungai dalam menyerap polutan, sehingga kualitas air semakin memburuk dan rentan terhadap pencemaran.

Pemerintah mengundang seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam program ini. Sosialisasi dan pelatihan metode penangkapan yang efektif akan diselenggarakan di berbagai kelurahan sepanjang aliran sungai. Warga didorong untuk melaporkan penemuan sarang atau konsentrasi ikan sapu-sapu yang tinggi.

Metode penangkapan mencakup penggunaan jaring, pancing, hingga perangkap khusus yang didesain agar selektif. Hasil tangkapan ikan sapu-sapu tidak akan dibuang begitu saja. Pemerintah sedang menjajaki kerja sama dengan industri pakan ternak dan pupuk organik untuk mengolah biomassa ikan tersebut, mengubah masalah menjadi potensi ekonomi berkelanjutan.

Selain program pembasmian, Pemprov DKI Jakarta juga menyusun strategi jangka panjang. Ini mencakup pemantauan rutin kualitas air, edukasi masyarakat tentang pentingnya tidak membuang ikan non-endemik ke perairan umum, serta penegakan regulasi lebih ketat terkait penjualan dan pemeliharaan spesies ikan invasif.

Profesor Budi Santoso, pakar ekologi perairan dari Universitas Indonesia, menyambut baik inisiatif ini. "Langkah komprehensif seperti ini sudah sangat mendesak. Pembasmian harus dibarengi dengan rehabilitasi habitat dan edukasi masyarakat agar hasilnya optimal dan berkelanjutan," komentarnya.

Namun, tantangan dalam implementasi program ini tidaklah kecil. Luasnya jaringan sungai di Jakarta, kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, serta adaptasi ikan sapu-sapu yang tinggi memerlukan konsistensi dan komitmen jangka panjang dari semua pihak.

Dengan sinergi dan komitmen kuat, Pj Gubernur Pramono optimistis sungai-sungai di Jakarta dapat kembali bersih dan lestari. Visi "Jakarta Bebas Ikan Sapu-Sapu" bukan sekadar mimpi, melainkan target nyata yang dapat dicapai demi masa depan lingkungan Ibu Kota yang lebih baik.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Chris Robert

Tentang Penulis

Chris Robert

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!