JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadwalkan aksi pemadaman lampu serempak di seluruh wilayah ibu kota mulai Sabtu, 25 April 2026, malam ini. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya masif mewujudkan konservasi energi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan global.
Aksi simbolis ini akan berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. Seluruh penerangan non-esensial di gedung-gedung pemerintahan, fasilitas publik, hingga area komersial diharapkan turut serta mematikan lampu.
Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Budi Santoso, MT, dalam konferensi pers kemarin menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar penghematan, melainkan pesan kuat tentang tanggung jawab kolektif. "Kita harus berani beraksi nyata demi masa depan energi dan bumi kita," tegasnya.
Langkah tersebut diambil menyikapi tren konsumsi energi listrik yang terus meningkat di ibu kota, yang berpotensi membebani infrastruktur kelistrikan dan berkontribusi pada jejak karbon. Data terbaru menunjukkan peningkatan konsumsi listrik sebesar tujuh persen dalam setahun terakhir.
Oleh karena itu, pemadaman serempak ini diharapkan dapat menekan penggunaan energi secara signifikan, meski hanya bersifat sementara. Lebih dari itu, diharapkan muncul kesadaran berkelanjutan dari warga Jakarta untuk menghemat listrik dalam aktivitas sehari-hari.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Distribusi Jakarta Raya menyatakan kesiapannya mendukung penuh kebijakan Pemprov DKI. Pihak PLN telah menyiapkan prosedur operasional standar untuk memastikan tidak ada gangguan layanan vital selama periode pemadaman.
"Fasilitas kesehatan, pusat data, dan infrastruktur transportasi publik tetap akan beroperasi normal dengan dukungan pasokan cadangan," jelas juru bicara PLN, Bapak Hadi Susilo. Prioritas utama adalah keselamatan dan kenyamanan warga Jakarta.
Respons masyarakat terhadap kebijakan ini beragam. Beberapa warga menyambut baik sebagai bentuk kepedulian lingkungan, sementara sebagian lain menyuarakan kekhawatiran terkait keamanan dan aktivitas malam hari, khususnya bagi sektor usaha kecil.
Seorang pemilik kafe di kawasan Kemang, Ibu Lina Wijaya, mengatakan, "Kami tentu mendukung niat baik pemerintah, namun berharap ada sosialisasi yang lebih intensif agar masyarakat dan pelaku usaha dapat mempersiapkan diri dengan optimal."
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Pemerintah Provinsi mengimbau seluruh lapisan masyarakat, termasuk rumah tangga dan sektor swasta, untuk turut berpartisipasi aktif. Disarankan menyiapkan pencahayaan alternatif yang ramah lingkungan seperti lilin atau lampu bertenaga surya portabel.
Ini bukan kali pertama Jakarta terlibat dalam kampanye serupa. Beberapa tahun silam, inisiatif "Earth Hour" juga mendapatkan atensi luas. Namun, kegiatan ini menandai skala dan komitmen yang lebih besar dari pemerintah daerah dalam menangani isu energi.
Diharapkan, pemadaman lampu serempak malam ini menjadi titik awal bagi program-program konservasi energi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan di masa mendatang, menjadikan Jakarta sebagai kota yang lebih hijau dan efisien energi.