JAKARTA — Ratusan pengemudi ojek daring (ojol) memenuhi Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 17 Maret 2026. Mereka berunjuk rasa di depan kantor Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), menuntut peneliti senior Saiful Mujani mencabut pernyataannya yang dinilai merendahkan profesi pengemudi ojek daring.
Aksi massa ojol ini dipicu oleh komentar Saiful Mujani dalam sebuah diskusi publik yang tersebar luas di media sosial. Dalam pernyataannya, Mujani disebut meragukan signifikansi kontribusi ekonomi para pengemudi ojek daring, bahkan mengisyaratkan bahwa profesi tersebut kurang produktif dibandingkan sektor formal lainnya.
Koordinator lapangan aksi, Budi Santoso, dalam orasinya menegaskan bahwa pernyataan tersebut melukai harga diri jutaan pengemudi ojol di seluruh Indonesia. “Kami bukan pengangguran, kami pahlawan keluarga yang mencari nafkah halal di tengah kerasnya persaingan,” seru Budi dengan pengeras suara, disambut sorakan massa.
Massa membawa sejumlah spanduk bertuliskan protes seperti “Saiful Mujani Cabut Pernyataanmu!” dan “Ojol Juga Punya Martabat”. Sebagian besar peserta aksi mengenakan jaket hijau khas profesi mereka, menimbulkan lautan warna di sepanjang jalan sekitar kantor SMRC.
Menurut Budi, pernyataan Mujani tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga menunjukkan ketidakpahaman mendalam terhadap realitas ekonomi digital. “Platform ojek daring telah membuka lapangan kerja bagi jutaan orang yang sebelumnya kesulitan. Kami adalah roda penggerak UMKM dan ekonomi kerakyatan,” tambahnya.
Perwakilan massa diterima oleh pihak SMRC untuk menyampaikan tuntutan mereka. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Saiful Mujani maupun SMRC terkait tuntutan pencabutan pernyataan yang dilayangkan para pengemudi ojol.
Situasi sempat memanas ketika beberapa pengunjuk rasa mencoba merangsek masuk ke halaman kantor, namun berhasil diredam oleh aparat kepolisian yang bersiaga. Pihak kepolisian mengerahkan puluhan personel untuk mengamankan jalannya aksi, memastikan ketertiban dan kelancaran arus lalu lintas yang sempat tersendat.
Juru bicara Gerakan Nasional Pengemudi Ojol (GNPO), M. Fajar, menyatakan bahwa jika Saiful Mujani tidak merespons tuntutan mereka dalam waktu 3x24 jam, mereka akan menggalang aksi yang lebih besar dan serentak di berbagai kota.
“Kami tidak main-main. Ini adalah suara dari bawah, suara rakyat kecil yang bekerja keras untuk menyambung hidup. Jangan pernah meremehkan perjuangan kami,” tegas Fajar saat diwawancarai di lokasi.
Insiden ini menyoroti kembali sensitivitas publik terhadap pandangan akademisi atau tokoh publik yang dinilai bias atau merendahkan profesi tertentu. Komentar yang keluar dari ranah intelektual seringkali memiliki dampak luas, terutama jika menyentuh hajat hidup orang banyak.
Profesi pengemudi ojek daring telah berkembang pesat di Indonesia dalam dekade terakhir, menjadi salah satu tulang punggung ekonomi informal dan digital. Mereka tidak hanya menyediakan layanan transportasi, tetapi juga pengiriman makanan, logistik, hingga jasa kurir, yang sangat vital bagi mobilitas dan bisnis masyarakat urban.
Kritik terhadap kontribusi profesi ini, terutama dari figur publik yang memiliki pengaruh, dapat memicu sentimen negatif dan mengikis kepercayaan publik. Oleh karena itu, akurasi dan kehati-hatian dalam menyampaikan pandangan menjadi krusial.
Aksi unjuk rasa ini berlangsung tertib hingga sore hari. Para pengemudi ojol membubarkan diri setelah berjanji akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak diindahkan. Tekanan terhadap Saiful Mujani dan SMRC kini berada di titik puncak, menunggu respons yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat opini untuk senantiasa mempertimbangkan dampak dari setiap pernyataan yang dilontarkan. Kekuatan massa ojol dalam menyuarakan aspirasi mereka bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata dalam dinamika sosial politik Indonesia.