JAKARTA — Wakil Ketua DPR RI, Dasco, baru-baru ini menguak motif di balik langkah Danantara, entitas investasi besar, yang secara agresif mengakuisisi saham substansial di sejumlah perusahaan aplikator ojek daring (ojol) terkemuka di Indonesia. Menurut Dasco, langkah ini bukan sekadar investasi finansial biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk dominasi pasar ekonomi digital di sektor transportasi.
Dasco menjelaskan bahwa Danantara melihat potensi besar dalam integrasi data pengguna, ekosistem layanan, serta infrastruktur logistik yang dimiliki oleh para penyedia jasa ojol. “Investasi Danantara di saham aplikator ojol memiliki tujuan yang jauh melampaui sekadar mencari keuntungan cepat. Mereka berupaya membangun fondasi dominasi layanan digital yang terintegrasi, mulai dari transportasi, logistik, hingga pembayaran,” ujar Dasco dalam sebuah pernyataan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada awal pekan ini.
Manajemen Danantara sendiri, hingga berita ini diturunkan, belum memberikan respons resmi terkait pernyataan Dasco. Namun, kalangan analis pasar menilai pergerakan Danantara selaras dengan tren konsolidasi industri teknologi yang semakin marak di Asia Tenggara memasuki tahun 2026.
Konsolidasi ini, tambah Dasco, dapat membawa dampak dua sisi. Di satu sisi, investasi besar berpotensi mendorong inovasi dan efisiensi layanan, yang pada akhirnya menguntungkan konsumen. Di sisi lain, dominasi pasar oleh satu atau beberapa entitas besar dapat memicu kekhawatiran terkait persaingan sehat dan praktik monopoli.
“Pemerintah dan DPR akan terus memonitor ketat dinamika ini. Kami memastikan bahwa setiap investasi besar di sektor strategis seperti aplikator ojol tidak mengorbankan kepentingan publik dan menciptakan iklim persaingan yang adil bagi pelaku usaha lainnya,” tegas Dasco, menekankan peran regulator dalam menjaga keseimbangan pasar.
Perusahaan aplikator ojol kini menjadi tulang punggung mobilitas dan ekonomi mikro di Indonesia. Jutaan pengemudi dan pedagang UMKM bergantung pada platform ini. Oleh karena itu, perubahan kepemilikan saham dan strategi bisnis di sektor ini selalu menarik perhatian luas dari berbagai pemangku kepentingan.
Dasco juga menyoroti aspek perlindungan data konsumen. Dengan masuknya Danantara ke dalam struktur kepemilikan, isu keamanan dan privasi data menjadi krusial. “Pengumpul data besar seperti aplikator ojol harus memiliki standar perlindungan data yang sangat tinggi. Ini adalah aspek yang tidak bisa ditawar,” imbuhnya.
Para pengamat ekonomi digital memprediksi bahwa langkah Danantara ini akan memicu gelombang investasi serupa atau merger antarperusahaan di sektor teknologi. Persaingan tidak lagi hanya berpusat pada harga dan fitur, melainkan pada ekosistem layanan yang komprehensif.
Implikasinya terhadap pasar modal juga signifikan. Pergerakan saham aplikator ojol menjadi sorotan investor, dengan harapan adanya valuasi yang lebih tinggi pasca-investasi Danantara. Namun, volatilitas tetap menjadi tantangan, mengingat sektor teknologi yang dinamis.
Pada akhirnya, tujuan Danantara dalam menguasai saham aplikator ojol memang strategis. Ini mencerminkan visi untuk mengintegrasikan berbagai layanan digital di bawah satu payung besar, membentuk kekuatan ekonomi digital yang berpotensi mengubah lanskap bisnis di Indonesia dan regional.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perdagangan diharapkan dapat merumuskan regulasi yang adaptif untuk mengantisipasi gejolak pasar ini. Tujuannya adalah memastikan inovasi tetap tumbuh, tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dan perlindungan konsumen di tahun 2026 dan seterusnya.
Diskusi mengenai isu ini diperkirakan akan terus berlanjut di parlemen, dengan fokus pada bagaimana menjaga inovasi, melindungi pelaku usaha kecil, serta menjamin hak-hak konsumen di tengah era konsolidasi industri digital yang masif.