Menteri Pertahanan AS Guncang Singapura: Peringatan Keras Tiongkok dan Kritik Eropa

Debby Wijaya Debby Wijaya 30 May 2026 12:12 WIB
Menteri Pertahanan AS Guncang Singapura: Peringatan Keras Tiongkok dan Kritik Eropa
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, berbicara tegas mengenai dinamika geopolitik global di Forum Dialog Shangri-La, Singapura, tahun 2026. Ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap ambisi Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik serta menuntut komitmen lebih besar dari sekutu Eropa dalam urusan pertahanan. (Foto: Ilustrasi/Sumber Welt.de)

Singapura, 28 Mei 2026 – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyampaikan peringatan keras terhadap ambisi hegemoni Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik, seraya melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan pertahanan sekutu Eropa. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi utama Dialog Shangri-La yang berlangsung di Singapura, sebuah forum keamanan Asia paling prestisius, di mana Washington menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan kekuatan regional.

Dalam pidatonya yang menarik perhatian delegasi dari berbagai negara, Hegseth menggarisbawahi upaya Amerika Serikat guna memastikan stabilitas dan kebebasan navigasi di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia. Ia menyoroti peningkatan aktivitas militer Tiongkok serta ekspansi klaim teritorial yang berpotensi mengancam kedaulatan negara-negara kecil di sekitar Laut Cina Selatan.

Tidak hanya memusatkan perhatian pada dinamika Asia, Hegseth juga secara eksplisit mengkritik negara-negara Eropa karena dianggap kurang serius dalam berinvestasi pada kapabilitas pertahanan mereka. Menurutnya, ketergantungan berlebihan terhadap Amerika Serikat dalam hal keamanan global, terutama setelah konflik berkepanjangan di Eropa Timur, merupakan beban yang tidak berkelanjutan.

Washington, lanjut Hegseth, memiliki harapan agar para mitra transatlantik dapat memikul tanggung jawab lebih besar. Ini selaras dengan tujuan besar Amerika Serikat untuk mengamankan keseimbangan kekuatan yang rapuh di Indo-Pasifik, sehingga membutuhkan alokasi sumber daya pertahanan yang optimal dari semua pihak.

Kekhawatiran terhadap Tiongkok bukan hanya berkutat pada ekspansi maritim. Hegseth juga menyinggung potensi destabilisasi ekonomi dan politik yang dapat ditimbulkan oleh dominasi Tiongkok. Isu seperti perang dagang, pencurian kekayaan intelektual, dan praktik ekonomi tidak adil turut menjadi sorotan dalam konteks ancaman terhadap tatanan global.

Kritik terhadap Eropa muncul setelah beberapa tahun di mana pengeluaran pertahanan di banyak negara anggota NATO masih jauh dari target yang disepakati. Meskipun terdapat dorongan untuk meningkatkan anggaran pasca-invasi ke Ukraina, implementasinya dianggap lamban dan tidak cukup responsif terhadap ancaman geopolitik yang terus berkembang. Isu seperti insiden drone Rusia yang menghantam Rumania, misalnya, seharusnya menjadi alarm kuat.

Dialog Shangri-La secara tradisional menjadi barometer hubungan kekuatan besar dan isu keamanan regional. Pernyataan Hegseth ini memperkuat pandangan bahwa Amerika Serikat semakin melihat Tiongkok sebagai penantang strategis utama, sekaligus menekan sekutu lama untuk memperkuat front pertahanan kolektif.

"Era di mana satu negara dapat dengan leluasa mengejar ambisi hegemoni tanpa menghadapi perlawanan yang berarti harus berakhir," ujar Hegseth, menegaskan bahwa Amerika Serikat dan mitra-mitranya akan terus memperkuat aliansi serta kehadiran mereka di kawasan. Ia juga menyerukan persatuan yang lebih kuat di antara negara-negara demokrasi.

Analisis para ahli keamanan regional menafsirkan pernyataan ini sebagai upaya Washington untuk membentuk blok pertahanan yang lebih solid melawan Tiongkok, sekaligus mendesak Eropa agar tidak lengah terhadap tantangan keamanan mereka sendiri. Hal ini penting agar Amerika Serikat dapat lebih fokus mengerahkan sumber dayanya ke Asia.

Respons dari perwakilan Tiongkok yang hadir di forum tersebut diperkirakan akan menyusul dengan bantahan keras, menekankan hak kedaulatan mereka di perairan yang disengketakan. Sementara itu, bola ada di tangan negara-negara Eropa untuk menunjukkan komitmen nyata dalam kebijakan pertahanan mereka, sebagaimana disinyalir oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat dalam forum internasional prestisius ini.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.welt.de
Debby Wijaya

Tentang Penulis

Debby Wijaya

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!