TAIPEI — Presiden Taiwan William Lai Ching-te menegaskan hak dasar setiap negara untuk membela diri dan menjaga kedaulatannya, usai merampungkan kunjungan diplomatik ke sejumlah negara sahabat di Afrika pada awal tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Lai dari Istana Kepresidenan Taipei, menanggapi sorotan internasional dan tekanan geopolitik yang terus membayangi status Taiwan.
Dalam konferensi pers yang digelar tak lama setelah kepulangannya, Presiden Lai menekankan bahwa kedaulatan adalah pilar utama eksistensi sebuah negara. “Setiap negara berhak atas integritas teritorial dan hak untuk melindungi rakyatnya dari ancaman eksternal,” ujar Lai, tanpa secara langsung menyebut Tiongkok, namun implikasinya jelas merujuk pada ketegangan lintas selat.
Kunjungan Presiden Lai ke Afrika, yang mencakup negara-negara seperti Eswatini dan Palau, bertujuan memperkuat ikatan bilateral serta menegaskan kehadiran Taiwan di panggung global. Delegasi Taiwan menandatangani beberapa nota kesepahaman di bidang pertanian, kesehatan, dan pendidikan, menunjukkan komitmen Taiwan untuk kemitraan yang konstruktif dan saling menguntungkan.
Langkah diplomatik ini datang di tengah meningkatnya upaya Tiongkok daratan untuk mengisolasi Taiwan di kancah internasional. Beijing secara konsisten menerapkan kebijakan Satu Tiongkok, mendesak negara-negara lain untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Taipei dan mengakui klaim Tiongkok atas Taiwan.
Di dalam negeri, pernyataan Presiden Lai mendapat dukungan luas dari Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa, serta berbagai elemen masyarakat yang mendukung kemandirian Taiwan. Mereka melihat kunjungan ke Afrika sebagai demonstrasi nyata kemauan Taiwan untuk berinteraksi dengan dunia, terlepas dari tekanan yang ada.
Sebaliknya, Beijing segera mengeluarkan kecaman keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menuduh kunjungan tersebut sebagai provokasi dan upaya untuk menciptakan “dua Tiongkok” atau “satu Tiongkok, satu Taiwan”. Mereka menegaskan kembali bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Tiongkok dan bahwa setiap upaya separatis akan dihadapi dengan tegas.
Beberapa analis hubungan internasional menilai bahwa pernyataan “bela diri” dari Presiden Lai adalah respons strategis terhadap eskalasi retorika Tiongkok, sekaligus untuk menggalang dukungan domestik dan internasional. Ini menunjukkan keseriusan Taiwan dalam menjaga otonominya di tengah ancaman.
Negara-negara Afrika yang masih menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan memiliki arti penting yang tak bisa diremehkan. Mereka menjadi suara Taiwan di forum-forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, meskipun tidak memiliki kursi resmi di sana. Kehilangan salah satu sekutu ini akan menjadi pukulan telak bagi diplomasi Taipei.
Meski dihadapkan pada tantangan besar, pemerintahan Presiden Lai bertekad untuk terus memperjuangkan ruang internasional Taiwan. Strategi ini mencakup diversifikasi hubungan diplomatik dan penguatan kerja sama dengan negara-negara yang memiliki nilai-nilai demokrasi serupa, di luar sekutu tradisionalnya.
Komitmen Taiwan untuk berinteraksi dengan komunitas global dan mempertahankan identitasnya sebagai entitas demokratis yang berdaulat menjadi inti dari kebijakan luar negerinya. Pernyataan Presiden Lai ini menegaskan bahwa Taiwan tidak akan menyerah pada tekanan dan akan terus membela hak-haknya sebagai sebuah bangsa.
Para pengamat politik memprediksi bahwa tensi antara Taipei dan Beijing akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026, dengan isu kedaulatan Taiwan tetap menjadi titik api utama di kawasan Asia-Pasifik. Dunia akan mengamati bagaimana Taiwan menavigasi dinamika geopolitik yang rumit ini sambil mempertahankan prinsip-prinsip demokrasinya.