BRUSSELS — Sebuah pernyataan keras dari seorang mantan Sekretaris Jenderal NATO pada tahun 2026 telah mengguncang fondasi aliansi pertahanan terbesar di dunia, memicu spekulasi tentang masa depan hubungan transatlantik. Mantan pemimpin tersebut secara terbuka mengkritik sikap Donald Trump, yang ia sebut sebagai “menyakitkan dan berbahaya” bagi persatuan dan efektivitas NATO, sekaligus mengisyaratkan potensi perpecahan antara Amerika Serikat dan mitra-mitranya di Eropa. Kekhawatiran ini muncul di tengah ketidakpastian geopolitik global yang semakin kompleks.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif di London, menyoroti kekhawatiran yang sudah lama membayangi di kalangan para diplomat dan pemimpin militer Eropa. Mantan pejabat tinggi NATO ini menggarisbawahi bagaimana retorika yang meragukan komitmen AS terhadap Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara, yang menyatakan serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua, dapat melemahkan daya gentar aliansi.
“Sikap yang mempertanyakan relevansi atau bahkan menantang prinsip inti solidaritas NATO adalah pukulan telak bagi kepercayaan,” ujar mantan Sekretaris Jenderal tersebut, yang enggan disebutkan namanya secara spesifik untuk menghindari polarisasi lebih lanjut, namun profilnya jelas merujuk pada salah satu figur senior yang pernah memimpin aliansi tersebut selama era Trump pertama. “Hal itu bukan hanya menyakitkan bagi sekutu yang telah berinvestasi dalam aliansi ini, tetapi juga berbahaya karena memberi sinyal kelemahan kepada musuh potensial.”
Retorika Trump, yang seringkali mengkritik negara-negara anggota NATO karena tidak memenuhi target pengeluaran pertahanan 2% dari PDB mereka, telah lama menjadi sumber ketegangan. Pada tahun 2026, isu ini tetap menjadi salah satu batu sandungan utama. Meskipun banyak negara Eropa telah meningkatkan anggaran pertahanan, peningkatan tersebut dianggap tidak cukup signifikan di mata beberapa politisi AS.
Ancaman potensial untuk menarik diri dari NATO atau mengurangi kontribusi AS secara drastis, seperti yang pernah disuarakan oleh Trump, menciptakan iklim ketidakpastian. Para analis berpendapat bahwa skenario terburuk dapat berupa “perceraian strategis” antara AS dan Eropa, memaksa negara-negara Benua Biru untuk merumuskan ulang arsitektur keamanan mereka sendiri secara fundamental.
Kekhawatiran akan perpecahan ini diperparah oleh situasi perang di Ukraina yang masih berlanjut pada tahun 2026, serta ketegangan yang meningkat di Indo-Pasifik. Stabilitas Eropa sangat bergantung pada dukungan AS, baik dalam kapasitas militer maupun kapasitas politik. Kehilangan dukungan tersebut dapat meninggalkan kekosongan kekuatan yang sulit diisi.
Beberapa pemimpin Eropa, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz, telah secara aktif mengupayakan otonomi strategis yang lebih besar bagi Eropa. Konsep ini mencakup penguatan kapasitas pertahanan bersama Eropa dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Namun, upaya tersebut memerlukan waktu, investasi besar, dan konsensus politik yang kuat dari seluruh anggota Uni Eropa.
“Gagasan untuk sepenuhnya mandiri dari AS dalam waktu singkat adalah ilusi,” tutur seorang diplomat senior Uni Eropa dari Brussels. “Namun, kita harus mengakui bahwa pesan dari Washington telah berubah, dan Eropa harus siap untuk melindungi kepentingannya sendiri, dengan atau tanpa tingkat komitmen AS yang sebelumnya.”
Sejarah NATO menunjukkan bahwa aliansi ini selalu mampu beradaptasi dengan perubahan lanskap geopolitik. Dari Perang Dingin hingga ancaman terorisme global, NATO telah membuktikan resiliensinya. Namun, tantangan yang ditimbulkan oleh keraguan internal dari anggota terkuatnya sendiri adalah sesuatu yang belum pernah dihadapi dalam skala sebesar ini.
Keterlibatan AS di NATO bukan hanya soal anggaran militer, melainkan juga kepemimpinan politik dan intelijen yang tak ternilai. Hilangnya kepemimpinan tersebut akan menciptakan kekosongan besar yang dapat melemahkan kemampuan aliansi untuk merespons krisis secara cepat dan efektif. Ini akan menjadi sebuah titik balik penting bagi keamanan global di tahun 2026.
Pertanyaan mendasar yang kini dihadapi para pemimpin NATO adalah bagaimana menavigasi periode yang penuh gejolak ini. Apakah mereka dapat meyakinkan Amerika Serikat untuk tetap berpegang pada komitmennya, ataukah Eropa harus bersiap untuk sebuah masa depan di mana aliansi transatlantik, dalam bentuknya yang sekarang, mungkin tidak lagi relevan? Jawaban atas pertanyaan ini akan membentuk tatanan dunia dekade mendatang.