Ben Gvir Cemooh Aktivis, Italia Murka Kecam Perlakuan Biadab

Demian Sahputra Demian Sahputra 21 May 2026 03:24 WIB
Ben Gvir Cemooh Aktivis, Italia Murka Kecam Perlakuan Biadab
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam sebuah penampilan publik pada awal tahun 2026. Tindakannya mengejek aktivis yang diborgol memicu respons keras dari para pemimpin Italia dan komunitas internasional. (Foto: Ilustrasi/Sumber Ansa.it)

YERUSALEM – Tindakan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang mengejek para aktivis yang diborgol dan ditutup matanya telah memicu gelombang kecaman keras dari para pemimpin senior Italia. Presiden Sergio Mattarella secara tegas menyebut perlakuan itu 'tidak beradab' dan 'tingkat terendah seorang menteri', sementara Perdana Menteri Giorgia Meloni dan Menteri Luar Negeri Antonio Tajani juga menyatakan insiden tersebut 'tidak dapat diterima' pada tahun 2026 ini.

Peristiwa ini, yang diduga berkaitan dengan intersepsi flotilla kemanusiaan menuju Gaza, menggarisbawahi ketegangan yang terus membara di kawasan tersebut dan menarik perhatian tajam komunitas internasional. Kecaman dari Italia, salah satu mitra penting Israel di Eropa, menambah tekanan diplomatik terhadap pemerintah Benjamin Netanyahu.

Presiden Italia Sergio Mattarella, dikenal karena sikapnya yang teguh terhadap hak asasi manusia dan martabat, tidak ragu mengutuk insiden tersebut. "Perlakuan semacam itu terhadap individu yang telah ditahan, terlepas dari alasan penahanan mereka, mencerminkan tingkat incivilitas yang mengkhawatirkan dan sangat tidak layak bagi seorang menteri di negara beradab," ujar Mattarella, mengutip pernyataan yang dirilis kantor kepresidenan.

Senada dengan Presiden, Perdana Menteri Giorgia Meloni dan Menteri Luar Negeri Antonio Tajani juga menyuarakan keprihatinan mendalam. Meloni, dalam sebuah pernyataan pers, menegaskan, "Italia tidak dapat mentoleransi bentuk perlakuan tidak manusiawi semacam ini. Kami mengharapkan penjelasan dan jaminan bahwa insiden serupa tidak akan terulang." Tajani menambahkan bahwa tindakan Ben-Gvir sungguh 'tidak dapat diterima' dan bertentangan dengan nilai-nilai universal.

Di tengah badai kritik, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha menyeimbangkan situasi. Netanyahu mengakui hak Israel untuk menghentikan flotilla yang dianggap mengancam keamanan negaranya. "Kami memiliki hak untuk menghentikan flotilla yang berusaha melanggar blokade sah kami," kata Netanyahu.

Namun, Netanyahu dengan jelas menyatakan bahwa tindakan Ben-Gvir dalam mengejek para aktivis adalah sebuah kesalahan. "Menteri Ben-Gvir telah bertindak keliru dalam insiden ini. Pemerintah kami akan mengevaluasi secara serius setiap tindakan yang melanggar standar etika dan hukum internasional," tambahnya, mencoba meredakan ketegangan diplomatik.

Insiden flotilla kemanusiaan ke Gaza memang kerap menjadi titik panas antara Israel dan komunitas internasional. Pada tahun 2026 ini saja, sudah beberapa kali terjadi intersepsi, termasuk penahanan puluhan aktivis Italia (baca selengkapnya) dan ratusan aktivis lain dari berbagai negara (detail di sini), yang tak jarang diwarnai ketegangan bahkan tembakan peringatan (kisah lengkapnya).

Aksi provokatif Menteri Ben-Gvir ini memperkeruh suasana yang sudah tegang. Sebagai figur kontroversial, pernyataan dan tindakannya seringkali memicu perdebatan sengit di dalam negeri maupun di panggung internasional. Ini bukan kali pertama kritik keras ditujukan padanya terkait penanganan isu-isu keamanan dan hak asasi.

Kecaman dari Roma ini berpotensi merenggangkan hubungan bilateral antara Italia dan Israel, meskipun kedua negara memiliki sejarah kerja sama yang erat. Italia, di bawah kepemimpinan Meloni, juga sedang aktif menjalin kemitraan strategis global (lihat juga), menjadikan insiden ini sebagai ujian terhadap komitmen mereka pada nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan.

Para pengamat politik internasional menilai bahwa insiden ini akan menjadi catatan hitam dalam rekam jejak diplomatik Israel. Tekanan untuk menjunjung tinggi hukum internasional dan hak asasi manusia akan semakin menguat, dan Israel diharapkan untuk segera mengambil langkah konkret guna mengatasi keprihatinan yang disampaikan oleh para pemimpin dunia.

Dampak jangka panjang dari insiden ini terhadap stabilitas regional dan persepsi global terhadap Israel masih harus diamati. Namun, jelas bahwa kritik dari para pemimpin Italia, yang dikenal dengan sikap moderat dan diplomatik, adalah sinyal serius yang tidak dapat diabaikan oleh pemerintah Israel.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.ansa.it
Demian Sahputra

Tentang Penulis

Demian Sahputra

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!