Paris – Gelombang persiapan Pemilihan Presiden Prancis 2027 mulai terasa, dan sebuah narasi krusial muncul dari kalangan intelektual: pendidikan harus menjadi poros utama bagi proyek politik demokratis. Sylvain Wagnon, seorang sejarawan terkemuka sekaligus profesor ilmu pendidikan, secara tegas menyerukan pendekatan ini melalui tulisan opininya di media kenamaan Le Monde.
Menurut Wagnon, jika gerakan kiri ingin terus memperjuangkan visi emansipasi dan keadilan, mereka harus menempatkan pendidikan sebagai fondasi program utama. Ia berargumen bahwa pendidikan adalah satu-satunya instrumen transformatif yang berkelanjutan untuk membentuk ulang masyarakat.
Pandangan Wagnon hadir di tengah lanskap politik Prancis yang dinamis, menuntut para kandidat untuk menawarkan solusi konkret terhadap tantangan sosial. Fokus pada pendidikan, baginya, bukan sekadar janji kampanye, melainkan strategi fundamental untuk membangun masyarakat yang lebih egaliter dan sadar politik.
Dalam konteks Pilpres 2027, usulan ini menyoroti perlunya pergeseran paradigma. Alih-alih hanya berfokus pada isu ekonomi atau keamanan, Wagnon mengajak aktor politik untuk melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang membentuk warga negara kritis dan berpartisipasi aktif dalam demokrasi.
Pendidikan, sebagaimana diulas Wagnon, memiliki kapasitas untuk membangkitkan kesadaran, mengikis kesenjangan sosial, dan mendorong mobilitas vertikal. Ini sejalan dengan diskusi yang sebelumnya muncul mengenai perlunya sekolah membentuk nalar, bukan kepatuhan buta.
Kritik terhadap sistem pendidikan Prancis sendiri bukan hal baru. Berbagai laporan mengindikasikan bahwa reformasi pendidikan sering kali terjebak dan gagal mengeksplorasi inovasi digital secara optimal. Ini memperkuat argumen bahwa perubahan mendalam diperlukan, yang hanya bisa dicapai melalui komitmen politik yang kuat.
Wagnon juga menyoroti bagaimana pendidikan dapat menjadi antidot terhadap polarisasi dan ekstremisme politik yang kian marak. Dengan memupuk pemikiran kritis dan nilai-nilai republik sejak dini, masyarakat dapat lebih tangguh menghadapi propaganda dan manipulasi.
Menteri Pendidikan Prancis pada tahun 2026 juga telah menekankan pentingnya 'exigence' (ketelitian) dalam ujian Baccalauréat, menunjukkan bahwa kualitas dan standar pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah.
Meski demikian, tantangan besar menanti. Implementasi program pendidikan yang ambisius membutuhkan anggaran besar, perubahan kurikulum yang komprehensif, serta dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Selain itu, perdebatan tentang meritokrasi sekolah yang sering disebut sebagai janji palsu mobilitas sosial juga perlu diatasi.
Dalam konteks politik 2026 dan menjelang 2027, partai-partai kini dihadapkan pada pilihan fundamental: apakah mereka akan merangkul pendidikan sebagai inti dari tawaran politik mereka, ataukah akan terus menempuh jalan konvensional yang mungkin kurang berdampak jangka panjang?
Jelas, seruan Sylvain Wagnon bukan sekadar refleksi akademis. Ini adalah sebuah manifesto yang menantang para calon presiden dan partai politik untuk merevolusi pendekatan mereka terhadap masa depan Prancis, menempatkan pendidikan sebagai kunci utama bagi proyek demokratis yang lebih adil dan berkeadilan.