Terkuak: Ahli Unair Ungkap Asal Mula dan Bahaya Ikan Sapu-Sapu Jakarta

Angel Doris Angel Doris 22 Apr 2026 15:37 WIB
Terkuak: Ahli Unair Ungkap Asal Mula dan Bahaya Ikan Sapu-Sapu Jakarta
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) di sebuah sungai di Jakarta pada tahun 2026, menunjukkan adaptasinya terhadap lingkungan perairan perkotaan yang padat. (Foto: Ilustrasi/Net)

JAKARTA — Universitas Airlangga (Unair) baru-baru ini menyoroti serius keberadaan dan dampak destruktif ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) di perairan ibu kota. Seorang ahli biologi lingkungan dari Unair, Profesor Dr. Indah Sari, membeberkan secara detail asal mula invasi spesies asing ini serta potensi bahaya laten yang mengancam ekosistem sungai dan kesehatan publik di Jakarta. Penemuan ini mendesak perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap isu lingkungan yang kian mendalam.

Profesor Indah Sari menjelaskan, ikan sapu-sapu, yang dikenal dengan nama ilmiah Hypostomus plecostomus, bukan merupakan fauna asli Indonesia. Keberadaannya di sungai-sungai Jakarta berawal dari hobi masyarakat memelihara ikan hias, yang kemudian melepaskan hewan peliharaan mereka ke saluran air ketika sudah tidak diinginkan atau terlalu besar. Perilaku ini, walau terlihat sepele, memicu masalah ekologis yang masif.

Spesies ini berasal dari Amerika Selatan, dengan adaptasi luar biasa terhadap berbagai kondisi lingkungan. Kemampuan bertahan hidup di air yang kotor dan tingkat reproduksi yang tinggi membuat ikan sapu-apu dengan cepat mendominasi habitat baru, termasuk sungai-sungai di Jakarta yang seringkali tercemar. Ini menjadi faktor krusial dalam proliferasi mereka.

Dampak ekologis yang ditimbulkan sangat mengkhawatirkan. Ikan sapu-apu adalah kompetitor tangguh bagi spesies ikan asli dalam memperebutkan makanan dan ruang hidup. Mereka memakan telur ikan lain serta alga, yang secara fundamental merusak rantai makanan alami dan menyebabkan penurunan populasi ikan endemik Jakarta.

"Ikan sapu-sapu memiliki laju pertumbuhan dan adaptasi yang sangat cepat. Mereka bukan hanya menggerogoti sumber daya, tetapi juga merusak dasar sungai dengan kebiasaan mencari makan yang agresif. Ini mengubah struktur dasar habitat perairan dan mengganggu keseimbangan ekosistem secara menyeluruh," ujar Profesor Indah Sari dalam sebuah diskusi ilmiah beberapa waktu lalu.

Selain itu, bahaya ikan sapu-sapu tidak hanya terbatas pada aspek ekologis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar, terutama di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta, cenderung mengakumulasi logam berat dalam tubuhnya. Kadar timbal, kadmium, dan merkuri yang tinggi ditemukan dalam daging ikan ini.

Konsumsi ikan sapu-sapu, yang seringkali dilakukan oleh sebagian masyarakat karena kemudahan mendapatkannya, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius. Logam berat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan kronis, mulai dari kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga masalah perkembangan pada anak-anak. Edukasi tentang bahaya ini sangat penting.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2026 telah berupaya mengatasi masalah sampah dan pencemaran sungai, namun penanganan spesies invasif seperti ikan sapu-sapu memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan komprehensif. Strategi penangkapan massal atau metode bio-kontrol mungkin perlu dipertimbangkan untuk mengendalikan populasinya.

Profesor Sari menambahkan bahwa edukasi publik menjadi kunci utama. "Masyarakat harus memahami bahwa melepaskan hewan peliharaan eksotis ke alam bebas adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan berdampak jangka panjang. Pengetahuan mengenai spesies invasif dan dampaknya harus terus disosialisasikan," tegasnya.

Kerja sama lintas sektor antara akademisi, pemerintah, komunitas lokal, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) diharapkan mampu merumuskan solusi efektif. Pengawasan ketat terhadap perdagangan ikan hias eksotis juga perlu ditingkatkan untuk mencegah masuknya spesies invasif baru.

Invasi ikan sapu-sapu di Jakarta adalah sebuah krisis lingkungan senyap yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Tanpa intervensi yang serius, keberadaan ikan ini akan terus menggerus biodiversitas perairan lokal dan menimbulkan ancaman kesehatan yang signifikan bagi warga ibu kota. Ini menjadi panggilan darurat bagi semua pihak.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Angel Doris

Tentang Penulis

Angel Doris

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!