JAKARTA — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada awal tahun 2026 ini secara tegas mengumumkan bahwa faktor kesalahan manusia atau human error masih menjadi penyebab utama dari serangkaian insiden kecelakaan kereta api di Indonesia. Temuan ini didapat setelah analisis mendalam terhadap berbagai kasus kecelakaan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti urgensi reformasi sistemik dalam operasional perkeretaapian nasional.
Pengungkapan ini menyoroti bagaimana aspek kelalaian operasional, kelelahan petugas, serta kurangnya kepatuhan terhadap prosedur standar seringkali menjadi pemicu fatal. Laporan KNKT memaparkan bahwa meskipun teknologi telah banyak diimplementasikan, celah dalam rantai komando dan eksekusi di lapangan masih sangat rentan terhadap kegagalan individu.
Kepala KNKT, dalam konferensi pers virtual dari kantornya, menekankan perlunya evaluasi komprehensif terhadap seluruh aspek sumber daya manusia dalam sistem perkeretaapian. "Data kami menunjukkan bahwa lebih dari 60% insiden yang kami selidiki memiliki benang merah pada faktor manusia. Ini bukan sekadar menyalahkan individu, melainkan sistem yang belum mampu memitigasi risiko human error secara efektif," ujarnya.
Menanggapi laporan tersebut, Menteri Perhubungan pada Kabinet Indonesia Maju 2026 segera memerintahkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk menyusun rencana aksi mitigasi yang lebih revolusioner. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan program pelatihan, penguatan pengawasan, serta penerapan teknologi bantu yang dapat mengurangi ketergantungan pada keputusan manual petugas.
Direktur Utama PT KAI (Persero) mengamini temuan ini dan menyatakan komitmen penuh untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia. "Kami mengakui bahwa perbaikan berkelanjutan adalah kunci. Investasi pada sistem peringatan dini, otomatisasi operasional, dan kesejahteraan masinis serta petugas lapangan akan menjadi prioritas utama kami tahun ini," paparnya.
Salah satu contoh kasus yang banyak disorot adalah insiden anjloknya kereta di jalur trans-Jawa pada akhir tahun lalu, yang menurut investigasi KNKT, sebagian besar disebabkan oleh miskomunikasi dan prosedur perawatan yang tidak sesuai standar yang dijalankan oleh kru pemeliharaan.
Pemerintah dan PT KAI berencana untuk mengadopsi praktik terbaik dari negara-negara maju yang memiliki rekam jejak keselamatan perkeretaapian yang sangat baik. Penerapan sistem manajemen keselamatan terintegrasi (SMS) yang telah terbukti efektif di Eropa dan Jepang menjadi acuan utama dalam upaya transformasi ini.
Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Dr. Purnomo Hadi, menyambut baik transparansi temuan KNKT. "Ini adalah langkah awal yang krusial untuk perbaikan. Namun, tantangan terbesar adalah implementasi dan konsistensi. Perlu political will yang kuat dan alokasi anggaran yang memadai untuk memastikan program ini berjalan optimal," katanya.
Lebih lanjut, Dr. Purnomo menyarankan agar PT KAI juga mempertimbangkan aspek psikologis dan kesejahteraan kerja petugas. "Kelelahan, tekanan kerja, dan minimnya waktu istirahat seringkali menjadi akar masalah yang tidak terlihat namun sangat vital dalam memicu kesalahan fatal," tambahnya.
Pada dasarnya, upaya penekanan angka kecelakaan kereta api tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi semata, melainkan juga pada kemampuan sistem untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, mendukung, dan adaptif terhadap faktor manusia. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dan PT KAI bertekad menjadikan keselamatan sebagai budaya utama dalam setiap lini operasional. Dengan demikian, diharapkan layanan transportasi kereta api di Indonesia dapat mencapai standar keselamatan kelas dunia pada akhir dekade ini.