TOBELO — Tujuh belas warga berhasil dievakuasi secara dramatis setelah Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, memuntahkan erupsi abu vulkanik pekat pada dini hari Rabu, 25 Maret 2026. Operasi penyelamatan gabungan dilakukan intensif menyusul peningkatan status aktivitas vulkanik yang mendadak, menyebabkan belasan individu terisolasi di area rawan.
Erupsi masif ini terpantau pukul 02.15 WIT, menyemburkan kolom abu setinggi 3.000 meter dari puncak kawah ke arah utara dan barat. Material vulkanik menyebar cepat, menutupi sejumlah desa di sekitar kaki gunung, memperparah jarak pandang dan mengancam kesehatan pernapasan penduduk.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera merespons dengan mempertahankan status Gunung Dukono pada Level III (Siaga). PVMBG merekomendasikan agar masyarakat maupun wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Kawah Malupang Warirang.
Tim SAR gabungan, terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halmahera Utara, diterjunkan ke lokasi. Mereka berhadapan dengan medan sulit, gelap, dan hujan abu tebal untuk mencapai warga yang terjebak di Desa Mamuya dan sekitarnya.
Proses evakuasi belasan warga berlangsung heroik. Petugas harus memandu mereka berjalan kaki menembus kegelapan dan tumpukan abu, sembari memastikan setiap individu, termasuk lansia dan anak-anak, aman dari ancaman susulan letusan.
“Kami menghadapi kesulitan besar dengan jarak pandang yang sangat terbatas dan material abu yang terus turun. Namun, prioritas kami adalah keselamatan jiwa,” ujar Kepala Basarnas Ternate, Bapak Ardiansyah (bukan nama sebenarnya), yang memimpin langsung operasi di lapangan.
Seluruh warga yang berhasil diselamatkan segera dibawa ke posko pengungsian darurat yang didirikan di Kecamatan Galela. Di sana, tim medis siaga memberikan pemeriksaan kesehatan awal dan penanganan bagi mereka yang mengalami iritasi pernapasan atau mata akibat paparan abu.
Kepala BPBD Maluku Utara, Bapak Herman Sugiarto (bukan nama sebenarnya), memastikan ketersediaan logistik dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan masker untuk memenuhi kebutuhan pengungsi. “Koordinasi lintas sektor terus kami perkuat untuk memastikan semua kebutuhan terpenuhi,” katanya.
Berdasarkan pantauan PVMBG, aktivitas vulkanik Gunung Dukono menunjukkan fluktuasi signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kepala PVMBG, Ibu Dr. Intan Permata (bukan nama sebenarnya), mengimbau masyarakat agar selalu mematuhi instruksi dari pihak berwenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak valid.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang memiliki letusan bersifat eksplosif dan efusif. Sejarah mencatat, aktivitas signifikan telah berlangsung sejak awal abad ke-20 dan kerap menjadi ancaman laten bagi permukiman di sekitarnya.
Dampak lingkungan dari letusan ini mencakup kerusakan lahan pertanian dan perkebunan, yang menjadi mata pencaharian utama warga. Abu vulkanik tebal juga berpotensi mencemari sumber air bersih dan mengganggu ekosistem lokal.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama pemerintah kabupaten telah menyiapkan rencana kontingensi jangka panjang. Ini mencakup pembangunan jalur evakuasi yang lebih permanen dan edukasi mitigasi bencana secara berkala kepada masyarakat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut memberikan dukungan penuh, mengerahkan bantuan teknis dan finansial untuk penanganan darurat dan pasca-bencana. Komunikasi intensif dilakukan dengan pemerintah daerah untuk memetakan kebutuhan mendesak.
Salah satu warga yang dievakuasi, Ibu Siti Aisyah (55), mengungkapkan rasa syukurnya. “Kami pikir kami tidak akan selamat. Asap pekat dan suara gemuruh begitu menakutkan. Syukurlah tim penyelamat datang tepat waktu,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kejadian ini kembali mengingatkan akan kerentanan wilayah Indonesia terhadap ancaman bencana geologi. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus bersinergi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan, meminimalkan risiko di masa mendatang.