BEIJING — Presiden Tiongkok Xi Jinping pada awal tahun 2026 mengeluarkan pernyataan yang menggarisbawahi urgensi menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Seruan ini, yang disampaikan di tengah meningkatnya tensi di kawasan Teluk Persia, secara eksplisit menuntut agar segala bentuk potensi blokade harus segera dibuka demi mencegah gejolak ekonomi global dan krisis energi yang lebih luas.
Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, merupakan salah satu titik cekik energi terpenting di dunia. Melalui selat ini, sekitar sepertiga dari seluruh minyak mentah dan produk minyak bumi yang diperdagangkan secara global diangkut setiap harinya, menjadikannya arteri vital bagi perekonomian dunia.
Kekhawatiran Tiongkok terhadap stabilitas Selat Hormuz tidak lepas dari posisinya sebagai importir energi terbesar dunia. Dengan mayoritas pasokan minyaknya berasal dari kawasan Timur Tengah, Beijing memiliki kepentingan strategis yang sangat besar dalam menjaga kelancaran navigasi melalui selat tersebut. Gangguan sekecil apa pun berpotensi melumpuhkan rantai pasokan energinya.
Xi Jinping, dalam pernyataannya yang dilaporkan oleh media pemerintah Tiongkok, menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz adalah prasyarat mutlak bagi stabilitas ekonomi global. Ia menyerukan semua pihak untuk menahan diri dari tindakan provokatif yang dapat membahayakan jalur pelayaran internasional.
Situasi geopolitik di kawasan Teluk Persia memang kian rumit memasuki tahun 2026. Eskalasi konflik regional, persaingan kekuatan besar, serta isu keamanan maritim telah menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpastian. Isyarat atau ancaman blokade, baik tersirat maupun tersurat, selalu menjadi perhatian serius bagi komunitas internasional.
Pernyataan Tiongkok ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya proaktif untuk meredakan ketegangan dan menegaskan komitmen Beijing terhadap tatanan perdagangan global yang bebas dan terbuka. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan pemain ekonomi utama, Tiongkok memposisikan diri sebagai penjamin stabilitas regional.
Para analis politik internasional mengamati bahwa desakan Xi Jinping ini juga mencerminkan kekhawatiran Tiongkok terhadap dampak domino yang mungkin timbul jika terjadi penutupan Selat Hormuz. Harga minyak global dapat melonjak tajam, memicu inflasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di banyak negara, termasuk Tiongkok sendiri.
Pada tahun 2026, meskipun dunia sedang bergerak menuju energi terbarukan, ketergantungan pada minyak bumi masih sangat tinggi, terutama untuk sektor industri dan transportasi. Oleh karena itu, gangguan pada pasokan minyak strategis akan berdampak langsung pada stabilitas dan kesejahteraan miliaran penduduk dunia.
Pernyataan Presiden Xi ini juga dapat dilihat sebagai pesan kepada negara-negara yang berpotensi memicu atau terlibat dalam konflik di Teluk Persia. Beijing menyiratkan bahwa setiap tindakan yang mengganggu Selat Hormuz akan memiliki konsekuensi serius dan akan ditanggapi dengan respons diplomatik yang tegas.
Diplomasi Tiongkok di kawasan ini sering kali menekankan pendekatan non-intervensi, namun isu energi dan stabilitas ekonomi global merupakan pengecualian. Beijing tidak ragu untuk menggunakan pengaruhnya ketika kepentingan vitalnya terancam, terutama terkait keamanan pasokan energi yang menopang pertumbuhan ekonominya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah meningkatkan kehadirannya di Timur Tengah melalui inisiatif seperti Jalur Sutra Maritim, yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan itu dengan Tiongkok. Ini semakin memperkuat urgensi Selat Hormuz sebagai bagian integral dari strategi konektivitas globalnya.
Seruan Xi Jinping ini juga berpotensi memicu respons dari negara-negara konsumen energi utama lainnya, seperti India, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa, yang juga sangat bergantung pada Selat Hormuz. Kolaborasi diplomatik lintas negara mungkin akan terbentuk untuk mendukung posisi Tiongkok.
Adapun respons dari negara-negara Teluk Persia, terutama Iran dan Arab Saudi, yang memiliki peran sentral dalam keamanan selat tersebut, akan sangat menentukan. Pernyataan Tiongkok ini dapat menjadi tekanan tambahan bagi mereka untuk memastikan stabilitas regional.
Mempertahankan Selat Hormuz tetap terbuka merupakan tantangan kompleks yang membutuhkan kerjasama internasional dan komitmen kuat dari semua pihak untuk menghindari eskalasi. Desakan Tiongkok ini menjadi pengingat penting akan kerapuhan sistem energi global di tengah dinamika geopolitik yang tak menentu di tahun 2026.
Langkah Beijing ini menunjukkan bahwa meskipun Tiongkok seringkali menghindari terlibat langsung dalam konflik regional, ia akan berbicara keras ketika stabilitas ekonomi dan keamanan pasokan energinya terancam. Ini adalah salah satu contoh bagaimana kekuatan ekonomi global juga mengemban tanggung jawab menjaga jalur perdagangan vital dunia.
Ancaman terhadap Selat Hormuz bukan hanya isu militer atau politik, melainkan juga isu kemanusiaan dan ekonomi yang luas. Pernyataan Xi Jinping ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi dialog dan de-eskalasi, memastikan bahwa salah satu urat nadi terpenting dunia tetap berfungsi tanpa hambatan.
Pada akhirnya, stabilitas Selat Hormuz akan terus menjadi barometer penting bagi ketahanan ekonomi global. Komentar tegas dari pemimpin Tiongkok ini menegaskan kembali bahwa menjaga jalur ini bebas dari blokade adalah prioritas utama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Dunia menanti langkah konkret berikutnya dari para pemain geopolitik untuk menindaklanjuti seruan ini.