BEIJING — Pemerintah Tiongkok melalui juru bicara Kantor Urusan Taiwan belum lama ini mengumumkan paket sepuluh insentif ekonomi komprehensif. Langkah ini menyusul kunjungan delegasi tingkat tinggi dari partai oposisi Kuomintang (KMT) Taiwan ke Beijing pada awal tahun 2026, bertujuan mempererat hubungan lintas selat di tengah ketegangan regional.
Kunjungan KMT, dipimpin oleh Ketua partai, merupakan upaya dialog strategis dengan Beijing. Partai oposisi ini secara tradisional memiliki pandangan yang lebih akomodatif terhadap Tiongkok daratan dibandingkan dengan Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa di Taiwan.
Tawaran insentif ini dilihat sebagai bagian dari strategi jangka panjang Tiongkok untuk mempromosikan "penyatuan damai" dengan Taiwan di bawah kerangka "Satu Negara, Dua Sistem". Beijing secara konsisten menekankan pentingnya integrasi ekonomi untuk memperkuat ikatan budaya dan politik.
Paket insentif yang diuraikan mencakup berbagai sektor. Di antaranya, Tiongkok menjanjikan fasilitas tarif preferensial lebih lanjut untuk produk pertanian dan perikanan Taiwan, serta pembukaan lebih banyak akses pasar bagi perusahaan teknologi dan jasa Taiwan.
Selain itu, Beijing berkomitmen meningkatkan investasi lintas selat dua arah, mempermudah prosedur visa dan izin kerja bagi warga Taiwan yang ingin bekerja atau tinggal di daratan, dan memperluas program pertukaran pendidikan serta kebudayaan.
Terdapat pula janji dukungan finansial dan kemudahan kredit bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Taiwan yang beroperasi di Tiongkok. Pemerintah Tiongkok juga berencana memprioritaskan partisipasi perusahaan Taiwan dalam proyek infrastruktur berskala besar di daratan.
Di Taipei, tawaran ini diperkirakan akan memicu respons beragam. Partai berkuasa DPP, yang cenderung pro-kemerdekaan dan skeptis terhadap niat Beijing, kemungkinan akan melihat insentif ini sebagai upaya Tiongkok untuk mengikis kedaulatan Taiwan melalui daya tarik ekonomi.
Sementara itu, KMT mungkin menyambut baik peluang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga Taiwan, namun tetap berhati-hati agar tidak terlihat tunduk pada tekanan Beijing. Opini publik Taiwan sendiri terbagi, dengan sebagian menyambut peluang ekonomi dan sebagian lain khawatir akan ketergantungan yang berlebihan.
Komunitas internasional, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Indo-Pasifik, akan memantau perkembangan ini dengan cermat. Washington berulang kali menegaskan dukungan terhadap status quo Taiwan dan menentang segala bentuk koersi yang dapat mengganggu stabilitas regional.
Analis geopolitik menilai, insentif ini adalah manuver strategis Beijing untuk menekan Taiwan secara ekonomi sekaligus meredakan ketegangan di Laut China Selatan. Ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga daya tarik ekonomi sebagai alat kebijakan luar negeri.
Profesor Chen Yixin, pakar hubungan lintas selat dari Universitas Nasional Singapura, menyatakan, "Tawaran insentif ini adalah pedang bermata dua. Ia menawarkan potensi keuntungan ekonomi jangka pendek, namun berisiko meningkatkan pengaruh Beijing secara politis di Taiwan dan mengikis otonomi yang ada."
Pemerintah Tiongkok berharap paket ini dapat menarik lebih banyak warga Taiwan, khususnya generasi muda dan kalangan bisnis, untuk melihat peluang di daratan. Strategi ini dirancang untuk secara bertahap mengintegrasikan ekonomi Taiwan ke dalam jaringan ekonomi Tiongkok yang lebih besar, membentuk ketergantungan mutual.
Namun, tantangan utama tetap ada. Sentimen identitas Taiwan semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda, yang melihat diri mereka sebagai entitas berbeda dari Tiongkok daratan. Beijing perlu mengatasi perbedaan politik dan identitas yang mendasar ini agar insentif ekonomi dapat berbuah hasil jangka panjang yang signifikan.
Keberhasilan atau kegagalan tawaran sepuluh insentif ini akan menjadi barometer penting bagi masa depan hubungan lintas selat. Ini akan menguji sejauh mana daya tarik ekonomi Tiongkok dapat menandingi aspirasi kedaulatan dan identitas nasional Taiwan di panggung global.