TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran baru-baru ini memublikasikan peta maritim kontroversial yang mengklaim kedaulatan lebih luas atas Selat Hormuz. Langkah sepihak ini seketika memicu kekhawatiran serius di kalangan negara-negara Arab dan komunitas internasional pada awal tahun 2026, berpotensi menyulut eskalasi konflik di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Peta tersebut secara signifikan mengubah batas-batas navigasi yang diakui secara internasional, menempatkan kapal-kapal non-Iran di bawah pengawasan ketat IRGC.
Publikasi peta ini datang di tengah ketegangan regional yang memang sudah memanas, terutama antara Iran dan beberapa negara Teluk yang didukung oleh kekuatan Barat. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, adalah jalur krusial bagi sekitar sepertiga pasokan minyak mentah dunia yang diangkut melalui laut. Setiap perubahan status atau pengawasan di sana dapat berdampak langsung pada pasar energi global dan keamanan maritim.
Menurut analisis dari para ahli geostrategis, peta baru IRGC tidak hanya memperluas zona pengaruh teritorial Iran tetapi juga memperkenalkan aturan navigasi yang berpotensi membatasi kebebasan bergerak kapal dagang dan militer asing. Beberapa koridor pelayaran internasional yang sebelumnya dianggap netral kini diklaim berada dalam yurisdiksi Iran, sebuah langkah yang secara langsung menantang Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).
Reaksi keras segera muncul dari berbagai ibu kota Arab. Riyadh dan Abu Dhabi secara terbuka mengecam tindakan Iran, menyebutnya sebagai “provokasi tidak beralasan” dan “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.” Para diplomat regional menyerukan agar komunitas internasional segera menekan Teheran untuk menarik klaim-klaim kontroversial tersebut demi menjaga stabilitas kawasan.
Pemerintahan Amerika Serikat di Washington juga menyatakan keprihatinan mendalam. Juru bicara Departemen Luar Negeri menegaskan kembali komitmen Washington terhadap kebebasan navigasi di perairan internasional dan memperingatkan Iran agar tidak mengambil tindakan yang dapat membahayakan jalur pelayaran vital. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya dialog diplomatik untuk menyelesaikan perbedaan, bukan melalui ancaman militeristik.
Secara historis, Selat Hormuz telah menjadi titik panas konflik berulang. Insiden-insiden seperti penyitaan kapal tanker dan serangan terhadap infrastruktur minyak telah sering terjadi, menyebabkan gejolak harga minyak dan kekhawatiran tentang keamanan pasokan global. Peta baru ini berisiko memperparah ketidakpastian tersebut, mendorong perusahaan pelayaran untuk mencari rute alternatif atau meningkatkan biaya asuransi secara drastis.
Dari perspektif Iran, langkah ini diklaim sebagai upaya untuk melindungi kedaulatan nasional dan menanggapi apa yang mereka anggap sebagai “campur tangan asing” di perairan Teluk. Komandan IRGC, Jenderal Hossein Salami, dalam sebuah pernyataan, menyatakan, “Kedaulatan kami di Teluk Persia adalah mutlak. Peta ini adalah refleksi dari tekad kami untuk mempertahankan perbatasan maritim dari setiap ancaman.”
Namun, banyak analis memandang deklarasi ini lebih sebagai alat tawar-menawar politik atau upaya untuk menegaskan kembali pengaruh Iran di tengah negosiasi regional yang stagnan. Mereka khawatir bahwa tanpa mekanisme de-eskalasi yang jelas, langkah ini dapat memicu respons militer dari pihak-pihak yang merasa terancam, mengubah Selat Hormuz menjadi zona konfrontasi langsung.
Beberapa negara Eropa, meski tidak secara langsung terlibat dalam konflik regional, turut menyuarakan kekhawatiran atas potensi dampak terhadap perdagangan global dan pasokan energi. Uni Eropa mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menyelesaikan sengketa melalui jalur diplomatik yang konstruktif, menekankan perlunya menjaga stabilitas di jalur laut yang krusial.
Situasi ini diperkirakan akan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan keamanan regional mendatang pada pertengahan tahun 2026. Para pengamat politik internasional percaya bahwa tanpa kompromi yang substansial dari semua pihak, peta baru Selat Hormuz versi IRGC ini berpotensi menjadi katalisator bagi konflik yang lebih besar, dengan konsekuensi yang tak terbayangkan bagi Timur Tengah dan ekonomi global.