JAKARTA — Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom senior sekaligus pejabat yang memiliki peran strategis dalam formulasi kebijakan ekonomi nasional, berencana menunaikan ibadah haji pada musim 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Niat mulia ini bukan sekadar perjalanan spiritual pribadi, melainkan juga dibarengi doa tulus agar fondasi perekonomian Republik Indonesia kian kokoh dan berdaya saing di tengah dinamika global. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah kesempatan diskusi terbatas dengan awak media di ibu kota kemarin.
Purbaya, yang menjabat sebagai salah satu Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengungkapkan bahwa ibadah haji merupakan panggilan jiwa yang telah lama dinantinya. Namun, sebagai figur yang lekat dengan denyut nadi ekonomi negara, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyertakan hajat bangsa dalam setiap lantunan doanya di Tanah Suci.
“Kami senantiasa berikhtiar secara lahiriah melalui perumusan kebijakan yang pruden dan implementasi program yang efektif,” ujar Purbaya. “Namun, sebagai insan beriman, kami juga percaya pada kekuatan doa. Melalui ibadah haji nanti, saya ingin secara khusus memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Indonesia diberikan keberkahan, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di tahun 2026 dan seterusnya.”
Fokus doa Purbaya mencerminkan tantangan sekaligus peluang yang dihadapi ekonomi Indonesia memasuki paruh kedua dekade 2020-an. Gejolak geopolitik, volatilitas harga komoditas global, serta percepatan transisi energi merupakan beberapa isu krusial yang menuntut respons kebijakan adaptif dan inovatif.
Pada tahun 2026, pemerintah Indonesia terus gencar memprioritaskan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah produk domestik, menjaga ketahanan pangan melalui intensifikasi pertanian, serta mendorong investasi di sektor-sektor strategis. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Para pengamat ekonomi menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berintegritas dan memiliki visi jangka panjang dalam mengelola ekonomi negara. Sikap Purbaya yang menyatukan dimensi spiritual dengan komitmen profesionalnya dianggap sebagai representasi dari nilai-nilai luhur yang dibutuhkan para pemangku kebijakan.
“Ini menunjukkan bahwa pejabat publik tidak hanya bekerja berdasarkan kalkulasi rasional semata, tetapi juga didasari oleh keyakinan spiritual dan kepedulian mendalam terhadap nasib bangsanya,” komentar seorang ekonom senior dari universitas terkemuka di Jakarta yang tidak ingin disebut namanya.
Doa untuk ekonomi yang lebih kuat juga menjadi relevan mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Dengan haji sebagai momentum refleksi, Purbaya berharap dapat kembali dengan semangat baru dan inspirasi segar untuk berkontribusi lebih optimal bagi kemajuan Indonesia.
Persiapan perjalanan haji Purbaya telah dimulai, mencakup aspek fisik, mental, dan spiritual. Ia berharap keberangkatannya dapat berjalan lancar dan kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur, serta membawa energi positif bagi tim ekonomi pemerintah.
Dengan demikian, ibadah haji Purbaya Yudhi Sadewa tidak hanya menandai perjalanan personal seorang pejabat, tetapi juga menjadi simbol harapan kolektif akan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih cerah dan tangguh di tengah persaingan global yang kian intensif pada tahun 2026 ini.