JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara tegas membantah spekulasi mengenai 'Godzilla El Nino' yang berpotensi melanda Indonesia pada musim kemarau tahun 2026. Meskipun demikian, BMKG mengakui bahwa periode kemarau tahun ini diperkirakan akan jauh lebih kering dari kondisi normal, walau tidak mencapai tingkat ekstremitas parah seperti yang terjadi pada tahun 2015.
Kepala BMKG, Dr. Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan Selasa (14/1/2026), menegaskan bahwa narasi 'Godzilla El Nino' tidak didasarkan pada kajian ilmiah atau data observasi yang valid. Istilah tersebut, menurutnya, cenderung menciptakan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat tanpa dasar yang kuat.
"Kami memahami kekhawatiran publik mengenai dampak fenomena iklim. Namun, perlu kami luruskan, istilah 'Godzilla El Nino' bukanlah terminologi ilmiah yang diakui dan tidak merefleksikan kondisi yang kami proyeksikan untuk kemarau 2026," ujar Dr. Dwikorita.
Prediksi BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dan durasi yang lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis. Ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer dan laut yang saling memengaruhi.
Salah satu faktor dominan adalah anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang masih menunjukkan kecenderungan positif, meskipun tidak sekuat El Nino kuat yang memicu kekeringan parah pada tahun 2015. Indeks Dipol Samudra Hindia (IOD) juga diprediksi akan berada dalam fase positif, memperparah potensi kekeringan.
Kondisi ini berimplikasi pada berkurangnya curah hujan secara signifikan di banyak wilayah agraris, khususnya di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera. Sektor pertanian dan ketersediaan air bersih menjadi dua area yang paling rentan terhadap dampak kekeringan ini.
"Meskipun tidak seekstrem 2015, masyarakat dan pemerintah daerah tetap perlu bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih kering dari rata-rata. Kesiapsiagaan dini akan menjadi kunci mitigasi risiko," tambah Dr. Dwikorita, menekankan pentingnya manajemen sumber daya air yang efektif.
Pengalaman kemarau 2015 yang menyebabkan krisis air, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masif, serta kerugian ekonomi signifikan menjadi pelajaran berharga. BMKG secara aktif berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Pertanian dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk menyusun strategi adaptasi dan mitigasi.
Pemerintah telah menginstruksikan dinas terkait di daerah untuk mengoptimalkan penampungan air, memperbaiki infrastruktur irigasi, dan mengedukasi masyarakat mengenai konservasi air. Selain itu, pemantauan Karhutla akan ditingkatkan sejak dini untuk mencegah meluasnya titik api.
BMKG akan terus memutakhirkan informasi prakiraan iklim setiap bulan dan menyediakan peringatan dini jika ada perubahan signifikan pada dinamika atmosfer dan laut. Masyarakat didorong untuk mengakses informasi resmi BMKG dan tidak mudah termakan isu-isu yang tidak berdasar secara ilmiah.