JAKARTA — Nama Arief Kamarudin kian mencuat sebagai inisiator utama gerakan "Angkat Sapu-Sapu", sebuah inisiatif revitalisasi Sungai Ciliwung yang fokus pada penanganan invasi ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) serta edukasi lingkungan. Gerakan ini, yang telah berjalan intensif sepanjang tahun 2026, bertujuan mengembalikan keseimbangan ekosistem Ciliwung yang kritis akibat polusi dan dominasi spesies asing.
Krisis ekologi di Sungai Ciliwung bukan fenomena baru. Keberadaan ikan sapu-sapu, yang dikenal sebagai spesies invasif, telah lama menjadi ancaman serius. Mereka bersaing dengan ikan lokal untuk makanan, merusak habitat dengan kebiasaan menggali dasar sungai, dan mempercepat sedimentasi, memperparah kondisi pencemaran air.
Arief Kamarudin, seorang pegiat lingkungan yang telah mendedikasikan lebih dari satu dekade untuk pelestarian Ciliwung, melihat kebutuhan mendesak untuk tindakan konkret. "Kita tidak bisa lagi hanya bicara. Ciliwung adalah urat nadi Jakarta, dan kondisinya kini sekarat," ujarnya dalam sebuah diskusi di awal Februari 2026, menyoroti urgensi pemulihan sungai.
Gerakan Angkat Sapu-Sapu bermula dari keprihatinan Arief dan beberapa rekannya pada akhir 2025. Dengan modal semangat dan relasi komunitas, mereka mulai mengorganisir aksi pembersihan berskala kecil. Metode yang digunakan tidak hanya berfokus pada penangkapan ikan sapu-sapu, tetapi juga pemilahan sampah dan penanaman vegetasi asli di tepi sungai.
Setiap akhir pekan di tahun 2026, puluhan sukarelawan, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga warga sekitar, turut berpartisipasi dalam aksi nyata ini. Mereka menyusuri aliran sungai, menggunakan jaring khusus untuk mengangkat ikan sapu-sapu dan mengumpulkan berbagai jenis sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat.
Tentu, upaya ini tidak luput dari berbagai tantangan. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga Ciliwung masih menjadi pekerjaan rumah besar. Selain itu, keterbatasan peralatan dan sumber daya finansial seringkali menghambat laju gerakan yang semakin masif ini. "Dukungan pemerintah daerah dan swasta sangat kami harapkan untuk keberlanjutan," tambah Arief.
Meskipun demikian, hasil dari gerakan ini mulai terlihat. Laporan awal dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) pada pertengahan 2026 menunjukkan penurunan populasi ikan sapu-sapu di beberapa titik pembersihan. Kualitas air juga menunjukkan indikasi perbaikan, meski masih memerlukan pemantauan jangka panjang.
Kolaborasi menjadi kunci. Arief Kamarudin dan timnya telah menjalin kemitraan dengan beberapa komunitas pegiat lingkungan lain, institusi pendidikan, dan pemerintah kota Jakarta. Agenda bersama seperti edukasi ke sekolah-sekolah di sepanjang Ciliwung dan program "Adopsi Sungai" turut digalakkan untuk memperluas dampak positif.
Visi Arief jauh melampaui sekadar membersihkan. Ia bercita-cita Ciliwung kembali menjadi habitat yang sehat bagi biota asli dan sumber air bersih bagi warga Jakarta. "Ini bukan hanya tentang ikan sapu-sapu atau sampah, tetapi tentang kesadaran kolektif kita terhadap lingkungan hidup," tegasnya, mencerminkan filosofi di balik gerakannya.
Melalui dedikasi Arief Kamarudin dan ribuan sukarelawan, gerakan Angkat Sapu-Sapu menjadi contoh nyata bagaimana inisiatif akar rumput mampu memicu perubahan besar. Mereka membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong, sungai-sungai di perkotaan pun memiliki harapan untuk pulih, menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.