TEL AVIV — Iran melancarkan serangan rudal balasan dahsyat ke beberapa kota di wilayah selatan Israel dini hari tadi, menewaskan dua warga sipil dan melukai sejumlah lainnya. Aksi militer ini diklaim sebagai pembalasan atas kematian Jenderal Ali Larijani, tokoh senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang tewas dalam insiden misterius sepekan sebelumnya.
Otoritas Israel mengonfirmasi bahwa rentetan rudal presisi, diduga berjenis balistik jarak menengah, menghantam permukiman warga dan fasilitas infrastruktur krusial. Sistem pertahanan rudal Iron Dome milik Israel berhasil mencegat sebagian besar proyektil, namun beberapa rudal berhasil menembus pertahanan dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan materiil yang signifikan.
Kematian Jenderal Larijani pada 19 Oktober 2026, yang dilaporkan sebagai akibat ledakan di sebuah fasilitas militer di dekat Teheran, telah memicu kemarahan di Iran. Meskipun Teheran tidak secara eksplisit menyalahkan pihak mana pun pada awalnya, intelijen Iran mengisyaratkan adanya campur tangan asing, menunjuk Israel sebagai dalang utama di balik insiden tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, sebelumnya telah memperingatkan akan adanya “respons yang menyakitkan dan tegas” jika keterlibatan Israel terbukti. Pernyataan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui media nasional Iran mengonfirmasi bahwa serangan rudal ini adalah “babak awal dari pembalasan adil” terhadap “agresi Zionis.”
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidato daruratnya mengecam keras serangan ini sebagai “tindakan terorisme terang-terangan.” Ia menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri dan akan mengambil tindakan balasan yang proporsional untuk melindungi kedaulatan serta warganya. Dua korban tewas diidentifikasi sebagai seorang wanita paruh baya dan seorang anak laki-laki.
Selain korban jiwa, beberapa bangunan tempat tinggal rusak parah, dan infrastruktur listrik di beberapa titik sempat terganggu. Tim penyelamat dan medis segera bergerak menuju lokasi kejadian, menghadapi situasi darurat di tengah puing-puing dan kepanikan warga.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, menyerukan penghentian segera eskalasi ini, mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomatik. Amerika Serikat, melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, mengutuk keras serangan Iran dan menegaskan kembali dukungan penuh terhadap keamanan Israel.
Analis geopolitik kawasan, Dr. Maya Cohen dari Universitas Tel Aviv, menilai serangan ini menandai peningkatan signifikan dalam “perang bayangan” antara Iran dan Israel. “Ini bukan lagi sekadar serangan siber atau sabotase tertutup. Iran kini mengambil langkah militer terbuka, yang berisiko menyeret kawasan ke dalam konflik yang jauh lebih luas,” ujarnya.
Kekhawatiran global kini berpusat pada kemungkinan balasan Israel yang dapat memicu siklus kekerasan tak berkesudahan. Sejarah mencatat bahwa konflik sekecil apa pun di Timur Tengah berpotensi memicu reaksi berantai dari kelompok-kelompok proksi dan negara-negara lain di kawasan tersebut.
Ketegangan antara Iran dan Israel telah memuncak selama bertahun-tahun, berakar pada isu program nuklir Iran, dukungan terhadap kelompok bersenjata di Gaza dan Lebanon, serta kehadiran militer Iran di Suriah. Insiden kematian Jenderal Larijani menjadi titik didih yang memicu respons langsung ini.
Di tengah ketidakstabilan ini, harga minyak global menunjukkan lonjakan tajam, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar dunia. Kondisi ini menambah tekanan ekonomi global yang masih berjuang pulih.
Uni Eropa, melalui perwakilan tingkat tingginya untuk urusan luar negeri, Josep Borrell, mendesak kedua belah pihak untuk berkomitmen pada dialog dan menghindari tindakan yang bisa memperparah krisis. Langkah-langkah diplomatik intensif kini diharapkan dapat meredakan ketegangan sebelum mencapai titik kritis yang tak terkendali.