Banjir Parah Kepung Jakarta-Tangerang Semalam: Warga Terjebak, Aktivitas Lumpuh

Dodi Irawan Dodi Irawan 09 Mar 2026 04:10 WIB
Banjir Parah Kepung Jakarta-Tangerang Semalam: Warga Terjebak, Aktivitas Lumpuh
Petugas SAR mengevakuasi warga terdampak banjir yang merendam permukiman padat di Jakarta setelah hujan deras semalaman. (Foto: Ilustrasi/Net)

JAKARTA — Hujan deras yang mengguyur ibu kota dan sekitarnya semalam suntuk, hingga Rabu pagi, 24 Juni 2026, telah mengakibatkan banjir parah yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Jakarta dan beberapa area di Tangerang. Ribuan warga dilaporkan terjebak di rumah masing-masing, sementara akses transportasi dan kegiatan perekonomian terhenti total.

Beberapa titik terparah meliputi kawasan Jakarta Timur seperti Kampung Melayu dan Bidara Cina, Jakarta Selatan di Pejaten dan Kemang, serta Jakarta Barat di Cengkareng dan Kebon Jeruk. Di Tangerang, wilayah seperti Ciledug, Karang Tengah, dan Larangan juga tidak luput dari rendaman air dengan ketinggian bervariasi antara 50 sentimeter hingga lebih dari 2 meter di beberapa permukiman.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan, lebih dari 150 rukun warga (RW) terdampak banjir. Hingga berita ini diturunkan, sekitar 3.500 jiwa telah mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman, seperti masjid, sekolah, dan posko darurat yang didirikan pemerintah provinsi.

“Kami terus melakukan upaya evakuasi dan pendistribusian bantuan logistik, terutama di area yang sulit dijangkau,” ujar Kepala BPBD DKI Jakarta, Budi Santoso, saat dihubungi Cognito Daily. Ia menambahkan, petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan bekerja tanpa henti untuk mengevakuasi warga yang terjebak.

Infrastruktur vital turut terganggu. Sejumlah ruas jalan protokol di Jakarta tidak dapat dilalui kendaraan, termasuk Jalan Sudirman-Thamrin, MT Haryono, dan DI Panjaitan, memaksa penutupan total dan pengalihan arus lalu lintas yang menyebabkan kemacetan parah di jalan alternatif.

Layanan kereta rel listrik (KRL) dan TransJakarta juga mengalami pembatalan serta penyesuaian rute signifikan akibat rel dan jalur yang tergenang air, menambah kesulitan mobilitas warga yang hendak beraktivitas ke kantor atau sekolah.

Sektor pendidikan paling merasakan dampaknya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menginstruksikan penutupan sementara sekolah-sekolah di wilayah terdampak banjir. Proses belajar mengajar dialihkan secara daring untuk menjaga keselamatan siswa dan guru.

“Situasi ini memaksa kami untuk menunda seluruh agenda pekerjaan dan fokus pada upaya penyelamatan diri dan keluarga,” tutur Budi Utomo, salah seorang warga Bidara Cina yang rumahnya terendam setinggi pinggang orang dewasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem yang terjadi merupakan kombinasi dari faktor lokal dan fenomena global La Nina yang masih berlangsung, memperparah intensitas hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat.

“Intensitas hujan semalam mencapai rekor baru dalam beberapa tahun terakhir, diperburuk dengan sistem drainase perkotaan yang belum mampu menampung volume air sebesar itu,” terang seorang pakar hidrologi dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Kusuma.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Tangerang telah mengaktifkan status siaga darurat banjir. Sejumlah pompa air portabel dikerahkan ke titik-titik genangan, namun kapasitasnya belum memadai untuk mengatasi volume air yang masif.

Koordinasi antarwilayah menjadi krusial. Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Marwan Effendi, menyatakan, “Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten untuk manajemen aliran air dari hulu, agar tidak memperparah kondisi di hilir.”

Penumpukan sampah di saluran air juga disinyalir memperparah genangan. Sejak pagi, petugas kebersihan diterjunkan untuk membersihkan sampah-sampah yang menyumbat aliran air, meskipun upaya ini terhambat oleh derasnya arus.

Banjir tahunan ini kembali menyoroti urgensi penanganan masalah tata kota dan lingkungan yang lebih komprehensif. Proyek-proyek normalisasi sungai dan pembangunan tanggul laut yang telah berjalan diharapkan dapat dipercepat dan diperluas cakupannya.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, memantau informasi dari otoritas terkait, dan segera melapor jika membutuhkan bantuan darurat. Bantuan medis dan kebutuhan dasar terus disalurkan ke posko-posko pengungsian.

Kondisi cuaca ekstrem diprediksi masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, meskipun dengan intensitas yang menurun. Pemerintah mengimbau warga untuk tidak kembali ke rumah sebelum situasi benar-benar aman dan air telah surut sepenuhnya.

Evaluasi menyeluruh terhadap sistem penanggulangan banjir Jakarta dan Tangerang menjadi agenda utama pascabencana ini, guna merumuskan strategi jangka panjang yang lebih efektif dan berkelanjutan. Insiden ini menegaskan kembali tantangan besar Jakarta sebagai megapolitan rentan bencana hidrometeorologi.

Cognito Daily akan terus memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi terbaru mengenai dampak serta upaya penanganan banjir di kedua wilayah tersebut.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Dodi Irawan

Tentang Penulis

Dodi Irawan

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!