Turin, Italia—Profesor sejarah terkemuka, Alessandro Barbero, berhasil memukau publik pada ajang Salone del Libro 2026 yang berlangsung di Turin. Melalui sesi bertajuk "Non solo consorti", Barbero secara mendalam mengupas tuntas peran krusial kaum wanita dalam pusaran politik signorie Italia, menyingkap narasi kekuasaan tersembunyi yang kerap terabaikan dalam catatan sejarah konvensional. Diskusi ini, yang dihelat pada pertengahan Mei 2026, menyoroti bagaimana perempuan tidak hanya bertindak sebagai pendamping, melainkan juga aktor politik independen dengan pengaruh signifikan.
Reputasi Barbero sebagai sejarawan yang piawai dalam menyajikan kompleksitas masa lalu dengan gaya yang jernih dan menarik telah menarik ribuan pengunjung. Keahliannya dalam menggali sumber-sumber primer dan menyusun analisis yang provokatif menjadikannya salah satu suara paling berpengaruh dalam historiografi kontemporer. Pendekatannya yang kritis terhadap narasi dominan membuka jalan bagi pemahaman baru mengenai struktur kekuasaan dan dinamika sosial di era lampau.
Periode signorie, yang meliputi rentang waktu abad pertengahan hingga awal renaisans di semenanjung Italia, merupakan fase transisi politik dari komune menuju bentuk pemerintahan yang lebih terpusat di bawah keluarga-keluarga bangsawan. Dalam sistem ini, keluarga penguasa, seperti Visconti, Sforza, dan Medici, seringkali menentukan nasib kota dan wilayah. Lingkungan politik yang bergejolak ini secara mengejutkan memberikan ruang bagi perempuan untuk bermanuver dan mengukir pengaruh.
Barbero menyoroti bagaimana perempuan bangsawan, meski secara formal terpinggirkan dari struktur politik patriarkal, seringkali memegang kendali di balik layar. Mereka berperan sebagai diplomat ulung, negosiator perjanjian penting, bahkan memimpin pasukan atau mengelola wilayah atas nama suami atau anak-anak mereka yang masih muda. "Seringkali kita hanya melihat mereka sebagai bidak dalam permainan dinasti, padahal sesungguhnya mereka adalah pemain catur yang strategis," tegas Barbero, seperti yang dikutip oleh peserta acara.
Kuliah Barbero secara eksplisit menentang gagasan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai alat perkawinan atau penerus garis keturunan. Ia memberikan contoh-contoh nyata tentang bagaimana beberapa di antaranya mampu memanfaatkan posisi mereka sebagai ibu, istri, atau saudari untuk mengonsolidasikan kekuasaan keluarga, menggalang aliansi, atau bahkan menyingkirkan lawan politik. Mereka adalah agen aktif, bukan sekadar pelengkap narasi sejarah.
Aspek lain yang ditekankan Barbero adalah bagaimana perempuan ini juga menjadi pelindung seni dan budaya, membentuk identitas kota-kota yang mereka kuasai. Mereka membiayai seniman, arsitek, dan pujangga, meninggalkan warisan budaya yang tak ternilai hingga kini. Kontribusi ini, meskipun bukan politik langsung, memiliki dampak signifikan terhadap legitimasi dan kemuliaan dinasti mereka.
Antusiasme hadirin terhadap presentasi Barbero begitu besar, terlihat dari diskusi interaktif yang memicu pertanyaan-pertanyaan mendalam. Banyak peserta menyatakan bahwa pandangan Barbero membuka perspektif baru tentang sejarah perempuan dan mendorong mereka untuk meninjau kembali asumsi-asumsi lama. Sesi ini menjadi salah satu daya tarik utama Salone del Libro tahun ini.
Refleksi Barbero mengenai perempuan dalam politik feodal memiliki relevansi yang kuat dengan dinamika kekuasaan kontemporer. Diskusi ini mengingatkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan, baik formal maupun informal, seringkali lebih kompleks dan berpengaruh dari yang terlihat. Ini menjadi panggilan untuk terus menggali dan menghargai kontribusi perempuan dalam membentuk peradaban.
Meskipun demikian, Barbero juga tidak mengabaikan tantangan dan batasan yang dihadapi perempuan pada masa itu. Norma sosial dan agama seringkali membatasi ruang gerak mereka, memaksa mereka untuk beroperasi melalui jalur yang tidak konvensional. Hal ini menyoroti adaptasi dan ketangguhan luar biasa yang harus mereka tunjukkan untuk dapat bertahan dan berkuasa.
Diskusi di Salone del Libro 2026 ini tidak hanya memperkaya khazanah pengetahuan sejarah, tetapi juga memberikan inspirasi bagi studi gender dan kepemimpinan di masa kini. Karya Barbero menegaskan pentingnya meninjau ulang sejarah dari berbagai sudut pandang untuk mengungkap cerita-cerita yang belum terungkap, terutama yang melibatkan peran sentral perempuan dalam kancah politik global.