TEHERAN — Republik Islam Iran secara resmi meminta seluruh warganya untuk bersatu dan bertindak sebagai 'perisai manusia' dalam menghadapi potensi ancaman yang terus disuarakan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Seruan ini muncul pada awal tahun 2026 di tengah memanasnya retorika geopolitik dan kekhawatiran Teheran terhadap kebijakan luar negeri Washington di bawah pengaruh politisi konservatif.
Langkah drastis ini diumumkan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Teheran kemarin. Khatibzadeh menegaskan bahwa persatuan rakyat adalah benteng pertahanan paling kokoh Iran melawan segala bentuk intervensi atau agresi eksternal.
Donald Trump, meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden, terus menjadi figur sentral dalam perdebatan kebijakan luar negeri AS, terutama terkait Iran. Pernyataan-pernyataan kerasnya mengenai program nuklir Iran dan dukungan terhadap sanksi ekonomi tetap menjadi sorotan utama yang memicu kewaspadaan Teheran.
Ancaman yang disinyalir Trump, baik melalui media sosial maupun wawancara, seringkali diinterpretasikan sebagai upaya untuk terus menekan Iran secara maksimal, bahkan tanpa jabatan formal. Kondisi ini membuat Teheran memandang eskalasi retorika sebagai ancaman nyata terhadap kedaulatan dan keamanan nasional.
Seruan 'perisai manusia' ini bukan kali pertama dilontarkan dalam sejarah Iran, namun konteksnya kini berbeda. Ini merupakan respons langsung terhadap retorika yang dianggap provokatif dan berpotensi memicu ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Para analis politik di kawasan melihat seruan ini sebagai upaya Teheran untuk menunjukkan solidaritas internal dan mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa setiap agresi akan berhadapan langsung dengan persatuan rakyat Iran. Strategi ini juga bertujuan untuk mencegah eskalasi konflik menjadi perang terbuka.
Pemerintah Iran berpendapat bahwa tekanan sanksi ekonomi dan ancaman militer tidak hanya menyasar rezim, tetapi juga seluruh populasi. Oleh karena itu, persatuan rakyat dianggap sebagai cara paling efektif untuk memitigasi dampak buruk dari tekanan eksternal tersebut.
Menurut Profesor Hassan Abbasi dari Universitas Teheran, kebijakan 'perisai manusia' ini merupakan bagian dari doktrin pertahanan asimetris Iran. “Ini adalah strategi psikologis dan praktis untuk menunjukan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memiliki konsekuensi besar, melibatkan setiap individu di negara ini,” ujar Abbasi.
Seruan ini turut diperkuat oleh berbagai kampanye media dan pertemuan publik yang menggalang dukungan nasional. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei secara implisit mendukung pendekatan ini, menekankan pentingnya resistensi dan kemandirian Iran.
Situasi di Timur Tengah sendiri masih sangat volatil. Perkembangan terbaru di Jalur Gaza dan Laut Merah menambah kompleksitas dinamika regional, menjadikan ancaman eksternal semakin relevan dalam perhitungan strategis Iran.
Meski demikian, sejumlah pihak internasional mengkritik seruan 'perisai manusia' sebagai taktik yang membahayakan warga sipil. Organisasi hak asasi manusia khawatir langkah ini dapat menempatkan populasi rentan di garis depan potensi konflik, meskipun Teheran bersikeras ini adalah langkah pertahanan diri non-militer.
Respons publik di Iran bervariasi. Sebagian besar menyatakan kesetiaan dan dukungan terhadap pemerintah, melihatnya sebagai kewajiban patriotik. Namun, ada pula kekhawatiran di kalangan minoritas mengenai potensi implikasi personal dari seruan tersebut.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atas seruan Iran ini. Namun, isu Iran diproyeksikan akan menjadi salah satu agenda utama dalam debat calon presiden AS mendatang pada tahun 2028, di mana Donald Trump diperkirakan akan kembali menjadi kandidat kuat.
Dengan demikian, seruan 'perisai manusia' ini bukan hanya strategi pertahanan, tetapi juga manuver politik yang mengirimkan pesan kuat tentang tekad Iran untuk mempertahankan diri di panggung global yang penuh ketidakpastian pada tahun 2026 dan seterusnya.