TAKENGON — Sebuah longsor raksasa memutus total akses jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah sejak Minggu dini hari, 15 Maret 2026. Peristiwa ini terjadi setelah curah hujan ekstrem melanda kawasan dataran tinggi Gayo selama beberapa hari terakhir, menyebabkan ribuan warga di beberapa kecamatan terisolasi dan mengganggu distribusi logistik vital.
Material longsor berupa tanah, bebatuan, dan pohon tumbang menimbun ruas jalan nasional di KM 12 hingga KM 15, tepatnya di jalur Takengon-Bireuen. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah melaporkan, ketinggian timbunan material mencapai lebih dari 10 meter di beberapa titik, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat sama sekali tidak bisa melintas.
Kepala BPBD Aceh Tengah, Fajarudin, menjelaskan timnya langsung bergerak ke lokasi sesaat setelah menerima laporan dari masyarakat. “Kami menerima laporan sekitar pukul 03.00 WIB. Tim reaksi cepat langsung menuju lokasi untuk memverifikasi dan melakukan asesmen awal,” ujar Fajarudin dalam keterangannya kepada Cognito Daily.
Longsor ini bukan hanya menghambat mobilitas, tetapi juga mengancam pasokan kebutuhan pokok bagi masyarakat di beberapa kampung terpencil yang bergantung pada jalur tersebut. Distribusi bahan pangan, BBM, dan obat-obatan kini terhambat, memicu kekhawatiran akan kelangkaan dan kenaikan harga.
Penjabat Bupati Aceh Tengah, Dr. Mirza Zulfikar, menyatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) dan TNI/Polri, untuk mempercepat penanganan. “Prioritas utama adalah memastikan keselamatan warga dan secepatnya membuka kembali akses utama. Alat berat sudah dikerahkan,” tegas Dr. Mirza.
Namun, upaya pembukaan jalur menghadapi tantangan besar. Kondisi medan yang labil dengan kontur perbukitan curam serta potensi longsor susulan akibat intensitas hujan yang masih tinggi menjadi kendala utama bagi tim di lapangan. Cuaca buruk juga mempersulit pengiriman alat berat tambahan.
Beberapa warga yang terjebak di kedua sisi longsor terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer demi mencapai tujuan atau mencari pasokan makanan. “Kami berharap pemerintah bisa segera membuka jalan. Stok sembako di warung-warung mulai menipis,” keluh Arman, salah seorang warga yang ditemui di lokasi.
Dampak jangka panjang dari insiden ini diperkirakan akan mempengaruhi perekonomian lokal, terutama sektor pertanian dan perkebunan kopi Gayo yang merupakan komoditas unggulan Aceh Tengah. Petani kesulitan mengirim hasil panen, sedangkan pasokan pupuk dan kebutuhan pertanian lainnya juga terhambat.
Pihak kepolisian telah mengalihkan arus lalu lintas ke jalur alternatif, meski dengan kapasitas terbatas dan memakan waktu tempuh yang jauh lebih lama. Pengguna jalan diimbau untuk bersabar dan mematuhi arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama.
Dalam mitigasi jangka panjang, BPBD Aceh Tengah bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) berencana untuk melakukan kajian geologi lebih mendalam di titik-titik rawan longsor. “Kami harus mencari solusi permanen agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa mendatang,” tambah Fajarudin. Hingga berita ini diturunkan, alat berat masih berjuang membersihkan timbunan material, dan akses belum sepenuhnya pulih.
Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan posko darurat serta distribusi bantuan awal bagi masyarakat yang paling terdampak. Diharapkan, dengan sinergi semua pihak, kondisi darurat ini dapat segera teratasi dan kehidupan warga kembali normal.