Rupiah Loyo Dekati Rp17.500/US$, Bank Indonesia Buka Suara

Dorry Archiles Dorry Archiles 13 May 2026 21:26 WIB
Rupiah Loyo Dekati Rp17.500/US$, Bank Indonesia Buka Suara
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan pernyataan resmi mengenai stabilitas nilai tukar rupiah dan langkah-langkah strategis pemerintah pada awal tahun 2026. (Foto: Ilustrasi/Net)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan signifikan, kini menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat, memicu kekhawatiran publik dan pelaku usaha. Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara, menjelaskan bahwa tekanan eksternal dan dinamika domestik menjadi pemicu utama di balik kondisi ini. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor pusat BI pada Kamis (17/1/2026), Perry Warjiyo merinci bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebetulnya masih solid. Namun, gejolak eksternal yang dipicu oleh ketidakpastian global menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan mata uang domestik. Tekanan ini datang dari kebijakan moneter ketat bank sentral utama dunia dan eskalasi ketegangan geopolitik.

Perry menjelaskan bahwa keputusan Federal Reserve Amerika Serikat untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama dari perkiraan awal telah memperkuat daya tarik dolar AS. Hal ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mencari aset yang lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih tinggi di AS.

Selain itu, dinamika geopolitik global, seperti konflik yang berkepanjangan di Eropa Timur dan potensi ketegangan baru di kawasan Asia, turut meningkatkan permintaan aset berdenominasi dolar AS sebagai "safe haven". Situasi ini secara langsung memberikan tekanan depresiasi pada mata uang rupiah.

Di sisi domestik, permintaan impor yang masih tinggi, terutama untuk barang modal dan bahan baku industri, juga berkontribusi pada pelebaran defisit transaksi berjalan di beberapa kuartal terakhir. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing di pasar domestik, memperburuk tekanan pada rupiah.

Bank Indonesia menegaskan telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar spot dan pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta optimalisasi cadangan devisa. Strategi intervensi terukur ini bertujuan untuk meredam volatilitas jangka pendek dan menjaga ketersediaan likuiditas dolar AS di pasar.

Selain intervensi, BI juga terus mengoptimalkan kebijakan suku bunga acuan untuk menjaga daya tarik investasi di aset rupiah. Kebijakan ini diharapkan dapat menarik kembali aliran modal asing portofolio dan menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan valuta asing.

Koordinasi erat dengan pemerintah juga menjadi kunci. Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan terus berupaya meningkatkan kinerja ekspor dan mengerem impor yang tidak esensial. Program hilirisasi industri dan peningkatan daya saing produk ekspor diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap barang impor dalam jangka panjang.

Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Dr. Indah Permata, menyoroti bahwa pelemahan rupiah ini adalah cerminan dari tantangan global yang kompleks. "Indonesia memiliki fondasi yang kuat, tetapi tidak imun dari guncangan eksternal. Perlu kebijakan makroprudensial yang adaptif dan koordinasi fiskal-moneter yang lebih intensif," ujarnya.

Dampak dari pelemahan rupiah ini terasa di berbagai sektor. Importir menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, yang berpotensi memicu kenaikan harga barang konsumsi. Sementara itu, sektor ekspor komoditas mungkin mendapatkan keuntungan jangka pendek, namun stabilitas harga bahan bakar dan energi domestik menjadi tantangan tersendiri.

Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau pergerakan pasar secara cermat dan siap untuk mengambil langkah-langkah tambahan yang diperlukan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik, serta mendukung upaya pemerintah dan bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga memastikan berbagai stimulus fiskal dan program reformasi struktural tetap berjalan sesuai rencana. Tujuannya adalah untuk memperkuat fundamental ekonomi, meningkatkan daya tarik investasi, dan pada akhirnya, memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah.

Langkah-langkah strategis ini, termasuk percepatan proyek infrastruktur dan peningkatan iklim investasi melalui perbaikan regulasi, diharapkan dapat menciptakan efek berganda yang positif bagi perekonomian. Dengan demikian, kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika global.

BI berharap, dengan kombinasi kebijakan moneter yang hati-hati, intervensi pasar yang terukur, dan dukungan kebijakan fiskal yang pro-pertumbuhan, tekanan terhadap rupiah dapat dikelola dengan baik. Target utama adalah mengembalikan rupiah ke jalur apresiasi yang berkelanjutan seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan domestik.

Meskipun tantangan masih besar, Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan inflasi tetap terkendali. Ini krusial demi menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Dorry Archiles

Tentang Penulis

Dorry Archiles

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!