TEHERAN — Ribuan anak-anak di Iran menghadapi krisis psikis akut akibat ketegangan berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memburuk hingga tahun 2026. Konflik geopolitik ini tidak hanya memicu ketidakstabilan regional tetapi juga menorehkan trauma mendalam, kecemasan kronis, dan depresi pada populasi anak-anak yang rentan, mengancam satu generasi dengan dampak jangka panjang yang tak terbayangkan.
Sebuah laporan terbaru dari lembaga kemanusiaan independen di kawasan itu, yang dirilis awal tahun ini, mengungkapkan peningkatan signifikan kasus gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan tidur, dan regresi perilaku pada anak-anak di berbagai provinsi di Iran. Laporan tersebut menyoroti bagaimana ancaman perang, sanksi ekonomi yang melumpuhkan, dan dislokasi sosial telah menciptakan lingkungan yang sangat tidak kondusif bagi tumbuh kembang mental anak.
Dokter dan psikolog anak di rumah sakit Teheran melaporkan peningkatan pasien dengan gejala psikosomatik, seperti sakit kepala dan masalah pencernaan, yang tidak memiliki penyebab fisik jelas. “Anak-anak ini seringkali mengalami mimpi buruk berulang, sulit berkonsentrasi di sekolah, dan menunjukkan perilaku menarik diri,” ujar Dr. Reza Ahmadi, seorang psikiater anak senior di Rumah Sakit Milad, dalam wawancara eksklusif pekan lalu.
Eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran, yang ditandai dengan ancaman sanksi baru dan retorika militer yang kian tajam, memperparah rasa takut dan ketidakpastian di kalangan masyarakat Iran. Orang tua kesulitan melindungi anak-anak mereka dari berita perang dan tekanan hidup yang meningkat, sehingga menciptakan siklus stres yang berkelanjutan dalam keluarga.
PBB, melalui laporan kantornya untuk koordinasi urusan kemanusiaan, telah menyuarakan keprihatinan serius mengenai dampak krisis ini terhadap kemanusiaan. Mereka menyerukan perlindungan anak-anak dari efek samping konflik politik yang tak henti-hentinya, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental yang sangat terbatas di Iran.
Krisis ekonomi yang diakibatkan sanksi juga berkontribusi pada kerusakan psikis ini. Keluarga berjuang memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan dan obat-obatan, yang menciptakan lingkungan rumah tangga penuh tekanan. Anak-anak menyaksikan perjuangan orang tua mereka, menumbuhkan perasaan tidak aman dan putus asa yang mendalam.
Organisasi nirlaba lokal berupaya memberikan dukungan psikososial melalui program bermain dan terapi seni, namun skala masalahnya terlalu besar untuk ditangani sendiri. Mereka membutuhkan bantuan internasional yang signifikan, baik dalam bentuk pendanaan maupun keahlian, untuk menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan.
Sejumlah ahli menyamakan situasi ini dengan dampak perang yang terjadi di wilayah konflik lain, dimana anak-anak menjadi korban paling rentan. “Mereka adalah generasi yang dibentuk oleh ancaman konstan, dan dampak jangka panjangnya bisa berlangsung seumur hidup,” kata Dr. Fatemeh Karimi, sosiolog dari Universitas Teheran, yang mengkaji fenomena ini.
Pemerintah Iran, meskipun menghadapi tekanan internal dan eksternal, telah berjanji meningkatkan anggaran untuk layanan kesehatan mental, tetapi implementasinya terhambat oleh keterbatasan sumber daya dan prioritas lain. Fokus utama masih pada upaya mempertahankan stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
Komunitas internasional harus mengakui bahwa kerusakan psikis pada anak-anak di Iran adalah konsekuensi nyata dari Perang AS-Iran, meskipun konflik tersebut tidak selalu melibatkan konfrontasi militer langsung. Ini adalah krisis kemanusiaan yang menuntut perhatian segera dan solusi diplomatik yang berkelanjutan untuk meredakan ketegangan dan menyelamatkan masa depan anak-anak Iran.
Tanpa intervensi serius dan upaya de-eskalasi yang tulus, bayang-bayang trauma perang akan terus menghantui anak-anak Iran, membentuk pandangan dunia mereka dengan ketakutan dan kecemasan, serta menghambat potensi penuh mereka untuk berkontribusi pada perdamaian dan kemajuan di masa depan.
Ini bukan sekadar isu domestik Iran, melainkan panggilan darurat global. Kesejahteraan psikologis anak-anak tidak boleh menjadi jaminan dalam permainan geopolitik yang brutal. Mereka memerlukan perdamaian, stabilitas, dan akses ke dukungan yang memungkinkan mereka tumbuh tanpa bayang-bayang perang dan trauma.