JAKARTA — Politikus senior dan penasihat utama Presiden, Pramono Anung, baru-baru ini mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera memperluas operasi penangkapan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) secara masif. Seruan ini muncul menyusul kekhawatiran mendalam atas dampak spesies invasif tersebut terhadap ekosistem perairan ibu kota, ancaman terhadap keanekaragaman hayati lokal, serta potensi risikonya terhadap kualitas air dan sanitasi perkotaan pada awal tahun 2026.
Ancaman yang ditimbulkan ikan sapu-sapu terhadap lingkungan perairan Jakarta bukan isu baru. Spesies ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi serta tingkat reproduksi cepat, yang mengakibatkan dominasi populasi di banyak sungai dan danau. Dominasi tersebut secara langsung mengganggu keseimbangan rantai makanan alami dan habitat spesies ikan asli yang kian terdesak.
Pramono Anung menyoroti bahwa upaya penanganan selama ini, meskipun telah dilakukan, masih bersifat sporadis dan belum menyentuh skala permasalahan sesungguhnya. "Jakarta membutuhkan tindakan yang lebih terkoordinasi dan terstruktur untuk menekan laju pertumbuhan ikan sapu-sapu. Ini bukan hanya masalah estetika, namun menyangkut keberlanjutan ekosistem air dan bahkan kesehatan masyarakat," ujar Pramono Anung dalam sebuah pernyataan yang diterima Cognito Daily.
Penyebaran ikan sapu-sapu yang tidak terkendali juga memicu berbagai persoalan lingkungan lainnya. Mereka cenderung mengaduk dasar sungai dan danau, meningkatkan kekeruhan air, serta merusak infrastruktur air seperti tanggul dan irigasi. Kerusakan ini pada akhirnya memperparah kondisi sanitasi dan mempercepat pendangkalan saluran air di beberapa wilayah ibu kota.
Menurut Pramono, perluasan operasi penangkapan ikan sapu-sapu harus melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya komunitas pemancing dan warga yang tinggal di sekitar aliran sungai. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi program-program insentif atau kampanye edukasi untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya spesies invasif ini.
"Edukasi publik tentang dampak ikan sapu-sapu menjadi krusial. Masyarakat perlu memahami mengapa spesies ini harus dikendalikan dan bagaimana peran mereka dapat berkontribusi dalam menjaga kebersihan serta kesehatan lingkungan perairan," tambahnya.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, pada tahun 2025 lalu, sebenarnya telah memulai beberapa inisiatif untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu, termasuk melalui lomba memancing dan program pembersihan sungai. Namun, Pramono Anung menegaskan bahwa inisiatif tersebut perlu ditingkatkan secara signifikan baik dari segi anggaran maupun cakupan wilayah.
Intervensi pemerintah pusat, melalui kementerian terkait, juga diharapkan dapat memberikan dukungan teknis dan finansial. Kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kementerian lingkungan hidup, serta lembaga penelitian perikanan sangat penting untuk merumuskan strategi penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Para ahli ekologi perairan telah lama memperingatkan potensi bahaya jangka panjang jika populasi ikan sapu-sapu terus dibiarkan tanpa kontrol efektif. Mereka dapat menjadi bioakumulator logam berat dan polutan lain dari lingkungan yang tercemar, berpotensi memindahkan zat berbahaya tersebut ke rantai makanan yang lebih tinggi, termasuk manusia, apabila dikonsumsi.
Oleh karena itu, operasi penangkapan ikan sapu-sapu ini tidak sekadar mengurangi populasi, melainkan bagian dari upaya restorasi ekosistem yang lebih besar. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang untuk kualitas hidup warga Jakarta, menjaga keanekaragaman hayati, dan memastikan keberlanjutan fungsi hidrologis kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan segera merespons desakan ini dengan langkah konkret dan terukur.
Pengawasan paska operasi juga menjadi kunci keberhasilan. Penanganan ikan sapu-sapu memerlukan pemantauan berkala dan evaluasi efektivitas program. Dengan demikian, setiap strategi yang diterapkan dapat disesuaikan untuk mencapai hasil optimal dalam menjaga kelestarian perairan ibu kota dari invasi ikan sapu-sapu yang meresahkan.
Pramono Anung berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat berkolaborasi dengan pihak swasta dan organisasi non-pemerintah. Sinergi ini akan mempercepat pencapaian target penekanan populasi ikan sapu-sapu sekaligus meningkatkan kesadaran kolektif terhadap isu lingkungan.
Langkah proaktif ini diharapkan mampu mengembalikan vitalitas ekosistem perairan Jakarta. Dengan perairan yang lebih sehat, kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan akan meningkat, dan kota ini dapat terhindar dari dampak buruk ekologis dan sanitasi yang ditimbulkan oleh invasi spesies asing.
Ikan sapu-sapu, yang awalnya diperkenalkan sebagai ikan hias dan agen pembersih akuarium, kini telah menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan air tawar di Indonesia, khususnya di wilayah urban padat seperti Jakarta. Penanganan yang sistematis dan berkelanjutan menjadi sebuah keharusan mendesak.