DENPASAR — Ribuan penumpang memadati Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada hari Rabu, 18 Maret 2026, sehari menjelang penutupan total operasional bandara untuk memperingati Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948. Antrean panjang terpantau di berbagai konter check-in dan area keberangkatan, mencerminkan upaya terakhir para pelancong untuk menyesuaikan jadwal penerbangan mereka sebelum seluruh aktivitas berhenti selama 24 jam penuh.
Penutupan bandara yang berlangsung dari Kamis, 19 Maret pukul 06.00 WITA hingga Jumat, 20 Maret pukul 06.00 WITA, merupakan kebijakan rutin tahunan yang selalu diterapkan demi menghormati kekhusyukan umat Hindu dalam menjalankan Catur Brata Penyepian. Kebijakan ini secara efektif menghentikan 338 jadwal penerbangan, meliputi 176 rute domestik dan 162 rute internasional, baik keberangkatan maupun kedatangan.
General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, I Wayan Darma, menyatakan bahwa seluruh persiapan telah rampung. “Kami telah berkoordinasi intensif dengan seluruh maskapai, ground handling, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan kelancaran proses pengalihan dan pembatalan penerbangan,” ujar I Wayan Darma dalam konferensi pers, Selasa (17/3/2026). Ia menambahkan, sosialisasi telah dilakukan jauh hari sebelumnya kepada publik.
Fenomena antrean mengular ini menjadi pemandangan biasa setiap menjelang Nyepi. Penumpang yang tidak memiliki opsi untuk menunda perjalanan, terpaksa berdesak-desakan di terminal. Banyak di antara mereka adalah wisatawan domestik maupun mancanegara yang memilih untuk meninggalkan Bali, atau sebaliknya, datang sebelum batas waktu penutupan bandara.
“Saya harus tiba di Jakarta untuk urusan pekerjaan penting. Sudah pesan tiket jauh-jauh hari, jadi tidak ada pilihan lain selain terbang hari ini,” kata Rina Permata, seorang pebisnis dari Surabaya, sambil menunggu antrean check-in yang panjang. Sementara itu, John Smith, turis asal Australia, mengaku memahami dan menghormati tradisi Nyepi. “Ini pengalaman unik. Kami memilih pulang lebih awal agar tidak terjebak di Bali tanpa aktivitas selama Nyepi,” tuturnya.
Maskapai penerbangan telah memberlakukan kebijakan khusus, termasuk pengembalian dana tiket atau penjadwalan ulang tanpa biaya tambahan. Namun, terbatasnya kursi di penerbangan pengganti seringkali menimbulkan kendala tersendiri bagi penumpang. Sejumlah penerbangan telah dialihkan ke bandara terdekat atau dibatalkan sepenuhnya untuk periode tersebut.
Dampak penutupan tidak hanya dirasakan oleh penumpang, tetapi juga sektor pariwisata dan ekonomi Bali secara keseluruhan. Hotel-hotel mengalami penurunan tingkat hunian, meskipun beberapa di antaranya menawarkan paket “Nyepi Getaway” bagi mereka yang memilih tinggal dan menikmati ketenangan. Penyedia jasa transportasi daring juga membatasi operasional mereka secara ketat.
Pemerintah Provinsi Bali, melalui Dinas Pariwisata, mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk menghormati pelaksanaan Nyepi. “Ini adalah momen sakral bagi umat Hindu di Bali. Kami memohon pengertian dan kerja sama dari semua pihak untuk menjaga ketenangan dan kekhusyukan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali, Dr. Ni Luh Gede Sri Wahyuni.
Penutupan Bandara Ngurah Rai saat Nyepi merupakan satu-satunya bandara internasional di dunia yang menghentikan operasionalnya selama 24 jam penuh karena alasan keagamaan. Kebijakan ini telah menjadi bagian integral dari identitas Bali sebagai destinasi budaya yang kuat, sekaligus tantangan logistik tahunan yang harus diatasi dengan cermat.
Meskipun menimbulkan tantangan operasional dan mobilitas, kearifan lokal dalam menjaga kesucian Nyepi tetap menjadi prioritas utama. Otoritas bandara bersama pemerintah daerah berkomitmen untuk terus meningkatkan koordinasi dan informasi kepada publik, memastikan setiap individu dapat merencanakan perjalanan mereka dengan baik dan nyaman di tahun-tahun mendatang.
Antisipasi lonjakan penumpang pasca-Nyepi juga sudah disiapkan secara matang. Tim Angkasa Pura I akan bersiaga penuh untuk melayani arus balik pada Jumat, 20 Maret 2026, mulai pukul 06.00 WITA, begitu operasional bandara dibuka kembali dengan standar keamanan yang tinggi.
Pengamanan di area bandara selama masa penutupan juga akan ditingkatkan secara signifikan, melibatkan personel gabungan dari kepolisian, TNI AU, dan petugas keamanan internal bandara. Mereka akan memastikan tidak ada aktivitas mencurigakan dan menjaga area steril sesuai prosedur standar keamanan penerbangan internasional.