BANDUNG — Kepolisian Resor Kota Besar Bandung sedang mendalami penemuan jenazah tak dikenal yang ditemukan sekelompok pemuda di kawasan bekas wisata Kampung Gajah, Lembang, pada Rabu malam.
Penemuan mengejutkan ini terjadi ketika para pemuda tersebut sedang mencari lokasi untuk membuat konten horor, namun justru menemukan sesosok mayat yang kondisinya mulai membusuk di salah satu reruntuhan bangunan.
Insiden bermula sekitar pukul 23.00 WIB. Lima orang pemuda memasuki area yang sudah lama tidak terurus tersebut, yang dikenal angker, demi merekam materi untuk kanal digital mereka. Mereka menyisir bagian belakang kompleks sebelum mencium bau tidak sedap yang sangat menyengat.
Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, mereka mendapati tubuh korban tergeletak di balik tumpukan puing. Salah satu saksi, Rian (23), segera menghubungi pihak keamanan setempat yang kemudian meneruskan laporan tersebut kepada Polsek setempat.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung, Komisaris Polisi (Kompol) Budi Santoso, membenarkan adanya penemuan jenazah tersebut. “Tim kami segera meluncur ke lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sejak dini hari,” ujar Kompol Budi saat dikonfirmasi Kamis pagi.
Pihak kepolisian belum dapat memastikan identitas jenazah. Korban diperkirakan berjenis kelamin laki-laki, mengenakan pakaian lusuh, dan diduga sudah meninggal lebih dari 48 jam sebelum ditemukan oleh kelompok pemuda tersebut.
Jenazah kini telah dievakuasi menuju Rumah Sakit Sartika Asih untuk proses autopsi. Langkah ini krusial untuk menentukan penyebab pasti kematian, apakah murni karena faktor alam, bunuh diri, atau terdapat indikasi tindak pidana kekerasan.
Kawasan Kampung Gajah, yang dahulu merupakan salah satu destinasi wisata populer di Jawa Barat, kini terbengkalai setelah mengalami masalah finansial dan penutupan beberapa tahun lalu. Kondisi yang sunyi dan tidak terurus ini menjadikannya lokasi ideal bagi para pembuat konten horor, namun juga rawan dijadikan tempat kriminalitas.
Kepolisian menghimbau kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri tertentu untuk segera melapor. “Kami juga mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi dan memeriksa rekaman CCTV di sekitar akses masuk utama, meskipun area inti penemuan jenazah tidak terjangkau kamera pengawas,” tambah Kompol Budi.
Kasus penemuan jenazah ini menjadi pengingat serius tentang bahaya mencari ketegangan demi konten digital di lokasi yang tidak terjamin keamanannya. Pencarian sensasi yang mereka lakukan justru berakhir dengan temuan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar hantu fiksi: realitas tragis kematian manusia di tengah puing-puing.