JAKARTA — Beberapa kelompok masyarakat di Depok, Jawa Barat, dan Makassar, Sulawesi Selatan, secara mengejutkan telah melaksanakan Salat Idul Adha pada Minggu, 19 April 2026. Peristiwa ini mendahului ketetapan resmi pemerintah yang diperkirakan akan mengumumkan hari raya jatuh pada Senin, 20 April 2026, setelah sidang isbat Kementerian Agama.
Perbedaan waktu pelaksanaan ibadah Idul Adha ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Jemaah dari beberapa komunitas, termasuk kelompok An-Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan, dan sejumlah jemaah lain di Depok, mengambil keputusan berdasarkan metode perhitungan mereka sendiri, terpisah dari penetapan pemerintah.
Di Depok, pelaksanaan Salat Idul Adha terpantau berlangsung khidmat di beberapa lokasi. Ratusan jemaah memenuhi lapangan terbuka dan musala komunitas sejak pagi hari. Mereka tampak antusias mengikuti rangkaian salat dan khotbah yang disampaikan oleh tokoh agama setempat.
Seorang pemimpin komunitas jemaah di Depok, Ustaz Ahmad Fauzi, menyatakan, "Kami berpegang teguh pada metode hisab yang telah kami yakini turun-temurun. Penentuan awal bulan Zulhijah bagi kami sudah jelas sejak jauh hari, sehingga pelaksanaan Salat Idul Adha dapat kami laksanakan hari ini."
Sementara itu, di Makassar, situasi serupa juga terjadi. Jemaah An-Nadzir yang dikenal konsisten dengan metodenya, telah menggelar Salat Idul Adha di daerah mereka. Penampilan jemaah dengan busana khas hitam-hitam menjadi pemandangan yang menarik perhatian warga sekitar.
Puasa Arafah, yang merupakan bagian tak terpisahkan sebelum Idul Adha, juga telah mereka laksanakan sehari sebelumnya, yakni pada Sabtu, 18 April 2026. Konsistensi ini menjadi ciri khas yang selalu mereka pertahankan setiap tahunnya dalam penetapan hari raya.
Kepala Pusat Informasi Keagamaan Kementerian Agama, Dr. Budi Santoso, menanggapi fenomena ini dengan bijak. "Kementerian Agama menghormati perbedaan tafsir dan metode penentuan awal bulan yang dianut oleh berbagai kelompok masyarakat. Namun, keputusan resmi pemerintah tetap akan didasarkan pada hasil sidang isbat yang mempertimbangkan rukyatul hilal serta perhitungan hisab," ujarnya.
Sidang isbat yang akan digelar Kementerian Agama merupakan forum musyawarah yang melibatkan para ulama, pakar astronomi, perwakilan organisasi masyarakat Islam, dan instansi terkait. Proses ini mengintegrasikan data hisab (perhitungan astronomi) dengan hasil rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) di berbagai titik di Indonesia.
Ketetapan pemerintah ini menjadi panduan bagi mayoritas umat Islam di Tanah Air untuk melaksanakan ibadah puasa Arafah dan Salat Idul Adha secara serentak. Meskipun terdapat perbedaan, semangat kebersamaan dalam merayakan hari besar Islam tetap terasa kuat.
Pemerintah selalu menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama dan toleransi terhadap perbedaan pandangan dalam praktik keagamaan. Perbedaan interpretasi ini memperkaya khazanah Islam di Indonesia tanpa mengurangi esensi ibadah itu sendiri.
Sejarah mencatat, perbedaan penetapan hari raya keagamaan kerap mewarnai dinamika kehidupan beragama di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beragamnya mazhab dan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Meskipun demikian, perbedaan tersebut umumnya tidak sampai menimbulkan konflik yang berarti. Masyarakat Indonesia telah terbiasa menyikapi keragaman ini dengan saling menghargai dan memahami keyakinan masing-masing kelompok.
Jemaah yang melaksanakan Salat Idul Adha lebih awal hari ini berharap ibadah mereka diterima. Mereka juga menyerukan pesan kedamaian dan kebersamaan kepada seluruh umat Islam, terlepas dari perbedaan waktu perayaan.
Fenomena ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara majemuk dengan kekayaan budaya dan agama. Saling menghormati menjadi kunci utama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah perbedaan yang ada.