Paris — Program edukasi keuangan yang digulirkan oleh otoritas publik di Prancis dan Eropa baru-baru ini menuai kritik tajam dari Jézabel Couppey-Soubeyran, seorang ekonom terkemuka. Dalam kolomnya di surat kabar Le Monde, Couppey-Soubeyran menuding bahwa program-program tersebut, alih-alih memberdayakan individu dengan pemahaman kritis tentang sistem finansial, justru cenderung mendorong kepatuhan semata.
Kritik ini mencuat di tengah upaya berkelanjutan pemerintah dan Uni Eropa untuk meningkatkan literasi finansial, khususnya di kalangan generasi muda dan perempuan. Niat mulia di balik inisiatif ini, yang bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan mengelola keuangan pribadi, dipertanyakan efektivitasnya dalam konteks pengembangan daya nalar.
Couppey-Soubeyran berpendapat, pendekatan edukasi yang ada kini lebih fokus pada bagaimana individu harus beradaptasi dan mengikuti aturan main sistem finansial, daripada membongkar dan memahami struktur fundamental serta potensi risikonya. Konsekuensinya, subjek pendidikan finansial kurang mampu berpikir independen dan menganalisis secara mendalam dinamika pasar yang kompleks.
Ia menyoroti bahwa tujuan sejati literasi finansial seharusnya tidak hanya menjadikan individu 'melek angka' dalam konteks ekonomi, melainkan juga menumbuhkan kemampuan untuk mempertanyakan, mengevaluasi, dan bahkan menantang praktik-praktik finansial yang merugikan. Ketiadaan dimensi kritis ini berpotensi menciptakan populasi yang rentan terhadap manipulasi atau gejolak ekonomi.
Analisis Couppey-Soubeyran mengemuka saat dunia memasuki fase ekonomi yang makin tidak menentu pada tahun 2026. Literasi finansial bukan sekadar kemampuan menabung atau berinvestasi, tetapi juga kapasitas untuk memahami produk keuangan yang makin beragam dan seringkali rumit, serta risiko yang melekat padanya.
Pengajaran yang mengedepankan kepatuhan tanpa disertai pemahaman mendalam bisa saja membentuk individu yang patuh pada rekomendasi standar tanpa bisa menilai apakah rekomendasi tersebut benar-benar sesuai dengan kepentingan terbaik mereka. Ini, menurut Couppey-Soubeyran, adalah sebuah kegagalan fundamental dalam misi edukasi.
Eropa, sebagai salah satu kawasan ekonomi terbesar, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk masa depan finansial warganya. Kebijakan edukasi finansial publik harus direvisi untuk memastikan bahwa generasi mendatang memiliki peralatan kognitif yang lengkap, tidak hanya untuk berpartisipasi, tetapi juga untuk secara aktif membentuk lingkungan finansial yang lebih adil dan transparan.
Kritik ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat kebijakan agar tidak hanya berpuas diri dengan angka partisipasi dalam program edukasi, tetapi juga mengevaluasi secara kualitatif hasil dari program tersebut. Pertanyaan intinya: apakah kita mendidik warga yang otonom secara finansial atau hanya konsumen yang pasif?
Pentingnya pemikiran kritis dalam konteks finansial juga relevan dengan isu perlindungan konsumen. Ketika individu tidak dibekali kemampuan untuk menganalisis risiko dan menelaah informasi secara skeptis, mereka menjadi sasaran empuk praktik-praktik predatorik yang seringkali menyertai inovasi finansial.
Implikasi jangka panjang dari pendekatan edukasi yang berfokus pada kepatuhan ini sangat besar. Hal ini bisa menghambat inovasi, mengurangi akuntabilitas institusi keuangan, dan pada akhirnya, merugikan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Oleh karena itu, para ahli dan pembuat kebijakan perlu duduk bersama, merumuskan kembali kurikulum edukasi keuangan yang lebih komprehensif. Kurikulum baru harus menekankan analisis sistemik, etika finansial, serta hak dan tanggung jawab sebagai konsumen.
Kritik dari Jézabel Couppey-Soubeyran ini bukan sekadar keluhan, melainkan seruan untuk revolusi dalam cara kita memandang dan menyampaikan edukasi finansial. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas finansial, tetapi juga kritis, berdaya, dan mampu menjadi agen perubahan dalam sistem ekonomi.