BANDUNG — Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi gelombang kritik tajam dari masyarakat setelah sebuah rekaman video yang menampilkan sekelompok mahasiswa menyanyikan lagu bermuatan pelecehan seksual viral di berbagai platform media sosial akhir pekan lalu. Insiden ini memicu amarah publik dan sorotan serius terhadap lingkungan akademik kampus.
Video yang beredar luas tersebut memperlihatkan anggota salah satu himpunan mahasiswa ITB menyanyikan lirik yang secara eksplisit dinilai merendahkan dan melecehkan, khususnya terhadap kelompok tertentu. Konten lagu tersebut dengan cepat memancing reaksi keras dari warganet, aktivis gender, hingga alumni ITB, yang menuntut tindakan tegas dari pihak universitas.
Pihak rektorat ITB segera merespons gejolak ini dengan mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menyatakan penyesalan mendalam atas insiden tersebut dan secara terbuka meminta maaf kepada publik serta pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Dalam pernyataan tertulis yang diterima Cognito Daily pada Selasa (14/4/2026), Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Nadiem Makarin, menyampaikan bahwa institusi tidak akan menoleransi segala bentuk pelecehan atau perbuatan yang melanggar norma etika dan kesusilaan akademik. Beliau menegaskan komitmen ITB untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika.
“Kami sangat menyesalkan insiden yang terjadi. Perilaku semacam ini sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh Institut Teknologi Bandung,” ujar Prof. Nadiem.
Manajemen universitas telah membentuk tim investigasi internal untuk menelusuri secara mendalam kronologi kejadian, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, dan menentukan sanksi yang sesuai. Proses ini diharapkan berjalan transparan dan akuntabel guna memastikan keadilan bagi semua pihak.
Beberapa pengamat pendidikan menilai insiden ini sebagai alarm penting bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia terkait edukasi etika dan moralitas di kalangan mahasiswa. Kasus serupa yang pernah terjadi di institusi lain menunjukkan perlunya pengawasan ketat dan pembinaan berkelanjutan.
“Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya tentang akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan moral,” kata Dr. Indah Permata, seorang sosiolog pendidikan dari Universitas Indonesia.
ITB juga berencana untuk memperkuat program edukasi pencegahan pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender di kampus. Kurikulum orientasi mahasiswa baru serta kegiatan rutin himpunan mahasiswa akan diintegrasikan dengan materi-materi etika dan kesusilaan untuk menekan potensi terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Komitmen ITB untuk menyelesaikan kasus ini secara tuntas dan transparan diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik serta memastikan lingkungan akademik yang sehat dan berintegritas. Investigasi masih berjalan, dan pihak universitas berjanji akan memberikan informasi terkini secara berkala kepada masyarakat.