BEIRUT — Kelompok Hizbullah melancarkan serangan proyektil masif ke Israel utara, menghujani wilayah itu dengan lebih dari 600 roket, rudal anti-tank, dan pesawat tak berawak dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Insiden yang dimulai sejak Rabu, 19 Juni 2026 pagi ini, menandai lonjakan eskalasi konflik paling signifikan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel sejak awal tahun ini, memicu kekhawatiran serius akan potensi perang skala penuh. Serangan gencar tersebut merupakan respons tegas Hizbullah terhadap serangkaian serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon yang menewaskan beberapa komandan senior mereka.
Aksi balasan Hizbullah kali ini tidak hanya mencakup serangan roket Grad dan Burkan, tetapi juga penggunaan drone peledak canggih yang berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome Israel di beberapa titik. Target utama serangan berantai ini terfokus pada pangkalan militer Israel, instalasi radar, dan permukiman sipil di kota-kota seperti Kiryat Shmona dan Metula, menyebabkan kerusakan infrastruktur yang meluas serta memicu kebakaran hutan.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) segera merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke puluhan target Hizbullah di wilayah selatan Lebanon. Jet tempur Israel dilaporkan menargetkan fasilitas penyimpanan senjata, pos komando, dan peluncur roket yang tersembunyi. Sirene peringatan terus meraung di seluruh wilayah utara Israel, memaksa ribuan warga sipil mencari perlindungan di bunker.
Peristiwa dramatis ini terjadi di tengah ketegangan yang kian memuncak di kawasan Timur Tengah. Sejak konflik Gaza meletus pada Oktober 2023, perbatasan Lebanon-Israel telah menjadi titik api eskalasi sekunder, dengan Hizbullah dan Israel secara teratur terlibat dalam baku tembak lintas batas. Namun, intensitas serangan terbaru ini melampaui insiden-insiden sebelumnya, mengindikasikan pergeseran taktik yang lebih agresif dari pihak Hizbullah.
Pemerintah Lebanon, melalui Kementerian Luar Negeri, menyerukan deeskalasi segera dan meminta komunitas internasional untuk turun tangan mencegah bencana kemanusiaan. "Kami mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati resolusi internasional," ujar seorang juru bicara kementerian dalam pernyataan resmi. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidatonya, bersumpah akan merespons setiap ancaman terhadap keamanan nasional Israel "dengan kekuatan penuh yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyatakan keprihatinannya yang mendalam, memperingatkan bahwa "kawasan ini berada di ambang jurang yang sangat berbahaya." PBB mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang menyerukan penghentian permusuhan. Utusan khusus PBB untuk Timur Tengah dilaporkan telah memulai upaya mediasi darurat untuk meredakan situasi.
Para analis geopolitik memperingatkan bahwa serangan masif Hizbullah ini dapat menjadi pemicu perang regional yang lebih luas. Profesor Youssef Haddad, pakar keamanan dari Universitas Beirut, menilai bahwa Hizbullah kini tampaknya bersedia mengambil risiko yang lebih besar untuk menunjukkan kemampuan militernya dan mengirim pesan tegas kepada Israel. "Ini bukan sekadar balasan sporadis, melainkan demonstrasi kekuatan yang terkoordinasi," jelas Haddad.
Dampak kemanusiaan dari konflik yang membara ini mulai terasa. Ribuan penduduk di kedua sisi perbatasan terpaksa mengungsi dari rumah mereka, mencari perlindungan di wilayah yang lebih aman. Organisasi kemanusiaan telah melaporkan peningkatan kebutuhan bantuan darurat, termasuk tempat tinggal sementara, makanan, dan pasokan medis bagi para pengungsi.
Amerika Serikat dan negara-negara Eropa telah mendesak warga negaranya untuk menunda perjalanan tidak penting ke Lebanon dan Israel utara, serta menyerukan pembentukan koridor diplomatik untuk menghindari salah perhitungan yang bisa memicu malapetaka lebih besar. Fokus utama diplomasi saat ini adalah mencegah Hizbullah melancarkan serangan lebih lanjut yang dapat memancing respons militer Israel yang lebih dahsyat.
Meskipun demikian, prospek deeskalasi tampak suram mengingat tingkat kemarahan dan kerusakan yang ditimbulkan. Pertaruhan politik internal di Israel dan tekanan dari faksi-faksi garis keras di Lebanon juga mempersulit jalan menuju solusi damai. Komunitas internasional kini menahan napas, berharap agar siklus kekerasan ini tidak menyeret seluruh kawasan ke dalam jurang konflik yang tak berkesudahan.