Hizbullah Hantam Markas Israel, Dua Tentara Zionis Gugur dalam Serangan Rudal

Chris Robert Chris Robert 10 Mar 2026 13:52 WIB
Hizbullah Hantam Markas Israel, Dua Tentara Zionis Gugur dalam Serangan Rudal
Gambar satelit menunjukkan asap membubung dari area yang diyakini sebagai markas militer Israel setelah serangan rudal Hizbullah. (Foto: Ilustrasi/Net)

BEIRUT — Konflik di Timur Tengah kembali memanas hari ini setelah kelompok paramiliter Hizbullah dari Lebanon melancarkan serangan rudal masif terhadap sebuah markas militer Israel di perbatasan utara. Insiden ini mengakibatkan tewasnya dua tentara Zionis dan melukai beberapa lainnya, memicu respons cepat dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Serangan yang terjadi pada dini hari tersebut menargetkan pos komando vital di dekat permukiman Metula, wilayah yang kerap menjadi titik ketegangan. Sumber-sumber militer Israel mengonfirmasi bahwa rentetan rudal presisi menghantam langsung fasilitas tersebut, menimbulkan kerusakan signifikan.

Melalui saluran media al-Manar, Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, menyebutnya sebagai tanggapan sah terhadap agresi Israel yang terus-menerus di Lebanon selatan dan Gaza. Mereka menegaskan serangan ini merupakan bagian dari upaya membela kedaulatan Lebanon.

Sebagai balasan, Angkatan Udara Israel segera melancarkan serangkaian serangan udara intensif terhadap sejumlah posisi Hizbullah di Lebanon selatan. Juru Bicara IDF, Laksamana Muda Daniel Hagari, menyatakan bahwa Israel tidak akan mentolerir serangan terhadap tentaranya dan akan merespons dengan kekuatan penuh.

Kementerian Kesehatan Israel merilis identitas kedua prajurit yang gugur sebagai Sersan Mayor Eitan Cohen dan Sersan Pertama Maya Levi. Keduanya bertugas di unit intelijen. Pihak rumah sakit melaporkan empat prajurit lain juga dirawat karena luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi serius.

Insiden ini menambah daftar panjang eskalasi di garis perbatasan Israel-Lebanon, sebuah wilayah yang telah menjadi medan pertempuran sengit sejak pecahnya konflik di Gaza. Analis militer memperkirakan serangan rudal Hizbullah ini dapat mendorong wilayah tersebut ke ambang perang terbuka.

Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan beberapa negara kekuatan besar, segera menyerukan pengekangan diri dari kedua belah pihak. Mereka mendesak agar semua pihak kembali ke meja perundingan guna mencegah krisis kemanusiaan yang lebih besar.

"Serangan ini bukan sekadar respons taktis, melainkan pesan strategis dari Hizbullah," ujar Dr. Amir Baruch, pakar keamanan regional dari Universitas Tel Aviv. "Mereka menunjukkan kemampuan rudal yang canggih dan kemauan untuk menanggung risiko eskalasi demi tujuan politik mereka."

Tanpa intervensi diplomatik yang kuat, situasi di perbatasan Israel-Lebanon diperkirakan akan tetap volatil. Kedua pihak menunjukkan sedikit tanda-tanda de-eskalasi, dan setiap provokasi baru berpotensi memicu gelombang kekerasan yang lebih besar.

Warga sipil di kedua sisi perbatasan kini hidup dalam ketakutan. Banyak keluarga di wilayah utara Israel dan Lebanon selatan telah mengungsi, mencari perlindungan dari tembakan artileri dan serangan udara yang semakin sering terjadi. Sekolah dan fasilitas umum di zona merah ditutup tanpa batas waktu.

Sejarah konflik antara Israel dan Hizbullah memiliki akar yang dalam, melibatkan serangkaian perang dan konfrontasi. Ketegangan saat ini mengingatkan pada Perang Lebanon Kedua tahun 2006, meskipun skala dan jenis persenjataan yang digunakan kini jauh lebih modern dan mematikan.

Para ahli pertahanan meyakini Hizbullah memiliki gudang rudal yang ekstensif, mencakup rudal anti-tank, rudal anti-pesawat, hingga rudal balistik dengan jangkauan ratusan kilometer. Kemampuan ini menjadi ancaman serius bagi infrastruktur dan pusat populasi di Israel.

Di sisi lain, Israel mengandalkan sistem pertahanan rudal canggih seperti Iron Dome dan David's Sling untuk menangkal ancaman tersebut. Namun, volume dan presisi serangan terbaru Hizbullah menunjukkan bahwa tidak ada sistem yang kebal sepenuhnya.

Serangan ini juga memiliki implikasi politik domestik bagi kedua belah pihak. Di Israel, tekanan publik terhadap pemerintah untuk memberikan respons tegas semakin meningkat. Sementara itu, di Lebanon, Hizbullah terus memperkuat posisinya sebagai aktor militer dan politik yang dominan.

PBB dan Uni Eropa terus berupaya memfasilitasi dialog, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan dari perbatasan. Namun, upaya ini masih menghadapi tantangan besar dari kompleksitas konflik regional.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Chris Robert

Tentang Penulis

Chris Robert

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!