MUSKAT — Sebuah kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran dikabarkan "dalam jangkauan kita", demikian disampaikan seorang mediator senior dari Oman yang terlibat dalam perundingan rahasia. Pernyataan optimis ini muncul di tengah upaya diplomatik intensif yang bertujuan memulihkan kembali Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang mandek, serta meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sumber anonim ini menyampaikan progres signifikan setelah serangkaian diskusi tak langsung antara Teheran dan Washington yang difasilitasi oleh kesultanan Oman.
Pernyataan dari Muskat ini menandai titik terang dalam negosiasi yang berlarut-larut sejak Amerika Serikat di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan pada tahun 2018. Sejak saat itu, Iran secara bertahap mengurangi kepatuhannya terhadap pembatasan nuklir dalam JCPOA, termasuk memperkaya uranium hingga tingkat yang mendekati ambang batas senjata.
Oman, yang dikenal sebagai negara netral dan penengah ulung di kawasan Teluk, telah lama memainkan peran krusial dalam memfasilitasi dialog antara Teheran dan Washington. Kesultanan ini secara konsisten menawarkan wilayahnya sebagai platform netral untuk komunikasi diplomatik sensitif, terutama ketika saluran resmi tertutup atau menemui jalan buntu.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden, yang memasuki tahun terakhir masa jabatannya pada 2026, telah berulang kali menyatakan kesediaannya untuk kembali ke kesepakatan nuklir, asalkan Iran kembali patuh penuh terhadap pembatasan program nuklirnya. Washington menegaskan tujuan utamanya adalah mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir, sembari tetap menjaga stabilitas regional.
Di sisi lain, Iran di bawah Presiden Ebrahim Raisi terus menuntut pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat secara menyeluruh, yang dinilai Teheran sebagai penghalang utama bagi kemajuan ekonominya. Iran juga berpendapat bahwa program nuklirnya bersifat damai dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi serta medis negara.
Meskipun ada harapan baru, jalan menuju kesepakatan definitif masih diwarnai oleh berbagai tantangan kompleks. Kelompok garis keras di kedua belah pihak tetap skeptis terhadap prospek diplomasi, sementara isu-isu regional seperti program rudal balistik Iran dan dukungan terhadap proksi di Timur Tengah juga memperumit perundingan.
Menurut sumber yang dekat dengan perundingan, diskusi terkini berfokus pada mekanisme verifikasi, jumlah sentrifugal yang diperbolehkan, serta batas waktu pencabutan sanksi. Proses ini memerlukan konsesi signifikan dari kedua belah pihak guna mencapai titik temu yang dapat diterima secara politis dan teknis.
Keberhasilan atau kegagalan perundingan ini memiliki implikasi mendalam bagi keamanan Timur Tengah. Sebuah kesepakatan dapat meredakan eskalasi ketegangan antara Iran dan negara-negara Arab sekutu Amerika Serikat, serta membuka pintu bagi dialog regional yang lebih luas. Sebaliknya, kegagalan berisiko memicu perlombaan senjata nuklir dan destabilisasi yang lebih besar.
Komunitas internasional, terutama Uni Eropa, Rusia, dan Tiongkok, menyambut baik indikasi kemajuan ini. Mereka telah lama mendesak pemulihan JCPOA sebagai pilar penting bagi rezim non-proliferasi global. Para diplomat dari negara-negara tersebut terus memberikan dukungan diplomatik bagi upaya mediasi Oman.
Langkah selanjutnya diperkirakan akan melibatkan serangkaian pertemuan teknis yang lebih rinci, mungkin masih melalui jalur tidak langsung. Meskipun belum ada kerangka waktu pasti, pernyataan mediator Oman mengindikasikan bahwa momentum positif telah terbangun, membuka peluang nyata untuk mencapai terobosan sebelum pergantian tahun.
Para analis menilai bahwa pernyataan "dalam jangkauan kita" bukanlah janji kosong, melainkan refleksi dari kemajuan substansial yang telah dicapai di balik layar. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena negosiasi semacam ini rentan terhadap gejolak politik dan insiden tak terduga yang dapat dengan cepat menggagalkan upaya yang telah terbangun.