Istilah "Robot" yang hari ini identik dengan Kecerdasan Buatan (AI) modern dan revolusi industri terkini, ternyata baru berusia seabad sejak pertama kali diciptakan. Kata tersebut dicetuskan oleh dramawan Ceko, Karel Čapek, pada 1920 melalui lakon distopia berjudul *R.U.R. (Rossumovi Univerzalni Roboti)*, yang lantas mengubah lanskap fiksi ilmiah dan teknologi global. Namun, jauh sebelum penamaan formal ini, konsep dasar mengenai makhluk buatan yang memiliki kecerdasan telah mengakar kuat dalam peradaban manusia selama ribuan tahun, terbukti dari narasi mitologi dan filosofi kuno.
Čapek, dibantu saudaranya Josef, mengambil inspirasi dari kata *robota* dalam Bahasa Slavia Lama yang berarti kerja paksa atau perbudakan. Konotasi ini segera melekat pada citra robot sebagai entitas pekerja keras yang diprogram, bukan sekadar mesin, melainkan makhluk yang menyerupai manusia tetapi tanpa jiwa.
Penemuan linguistik ini menjadi jembatan naratif yang menghubungkan fantasi kuno dengan realitas industri modern. Peristiwa ini terjadi tepat saat Eropa dan dunia sedang pulih dari perang besar, mendamba tenaga kerja yang tak kenal lelah.
Sebelum drama Čapek dipentaskan, masyarakat telah menyaksikan serangkaian evolusi teknologis yang mempersiapkan pikiran mereka menerima konsep Robot. Mulai dari penemuan otomaton mekanik yang rumit di era Pencerahan hingga mesin uap yang menggerakkan revolusi industri abad ke-19.
Transisi dari entitas mitologis yang dilayani dewa menjadi lema jurnalistik dan ilmiah menunjukkan bagaimana imajinasi kolektif selalu didorong oleh gagasan menciptakan kembaran artifisial. Jika Čapek memberikan namanya, maka para dewa dan filsuf kuno yang meletakkan fondasi konseptualnya.
Dalam Mitologi Yunani, figur Efesus (Hephaestus), dewa pandai besi dan api, seringkali digambarkan menciptakan asisten mekanik yang sangat cerdas. Efesus dikisahkan memiliki *automata* emas yang bergerak dan melayani dia, bahkan beberapa entitas mekanik ini mampu berpikir dan berbicara, menandai prototipe awal dari Kecerdasan Buatan.
Selain Efesus, mitos mengenai Prometeus yang mencuri api dari surga dan memberikan kehidupan kepada manusia juga seringkali ditafsirkan sebagai upaya 'pembuatan' artifisial yang menantang batas-batas penciptaan ilahi. Kedua narasi ini menegaskan bahwa ketertarikan manusia untuk membuat tiruan dirinya yang cerdas bukan hal baru, melainkan obsesi milenial.
Sejarah mencatat bahwa bukan hanya Yunani yang memiliki konsep ini. Di berbagai peradaban, termasuk Tiongkok kuno dan peradaban Islam di Abad Pertengahan, para insinyur telah menciptakan alat-alat mekanik yang bergerak secara otomatis (otomaton) untuk hiburan atau fungsi praktis, meskipun belum mencapai tingkat kecerdasan buatan seperti yang dibayangkan hari ini.
Karya-karya kuno ini memberikan konteks bahwa kehadiran Kecerdasan Buatan hari ini—sebuah topik krusial bagi pusat riset terdepan sebagaimana dalam laporan tentang Laboratorium ENS Pimpin Riset Global AI, Antipasi Disrupsi Teknologi Berikutnya—bukanlah lompatan eksistensial, melainkan babak lanjutan dari ambisi peradaban yang berumur ribuan tahun.
Čapek sendiri, saat menciptakan kata tersebut, seolah menangkap resonansi historis ini. Ia meramalkan bukan hanya mesin yang bekerja, tetapi juga dilema etis yang menyertainya: apakah makhluk buatan ini memiliki hak, ataukah mereka hanya alat yang ditakdirkan untuk melayani manusia. Isu ini tetap relevan saat dunia bergulat dengan regulasi AI modern.
Abad setelah *R.U.R.* dipublikasikan, istilah Robot menjadi payung besar yang mencakup segala hal, mulai dari lengan mekanik industri, drone, hingga algoritma belajar mandiri (Machine Learning). Jurnalisme masa kini wajib memahami bahwa akar kata ini berorientasi pada kerja paksa, yang ironisnya bertentangan dengan janji AI untuk membebaskan manusia dari pekerjaan rutin.
Penting bagi publik global memahami dikotomi ini. Sejak Efesus menciptakan pembantu emasnya hingga era ChatGPT, garis merahnya jelas: manusia berjuang untuk menciptakan kehidupan atau kecerdasan kedua yang dapat dikontrol dan dimanfaatkan.
Kata "Robot" mungkin baru lahir di Praha pada 1920, namun filosofi di baliknya adalah refleksi abadi tentang hakikat penciptaan dan batasan teknologi. Jurnalisme yang kredibel harus selalu menempatkan inovasi modern dalam bingkai sejarah yang lebih luas, memastikan bahwa kita belajar dari mitos kuno saat kita merangkul masa depan yang serba otomatis.