BAKAUHENI — Lonjakan drastis volume kendaraan dan penumpang memadati Pelabuhan Bakauheni, Lampung, pada Minggu (5/4/2026), menandai puncak arus balik H+7 Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Ribuan pemudik dari berbagai wilayah Sumatera membanjiri jalur penyeberangan menuju Pulau Jawa, menciptakan antrean panjang dan menguji kapasitas infrastruktur maritim nasional. Situasi ini terjadi saat masyarakat kembali dari kampung halaman setelah merayakan Idulfitri, memicu keprihatinan atas potensi kemacetan parah.
Kepadatan telah terlihat sejak Sabtu malam dan semakin intens pada Minggu pagi, dengan dominasi kendaraan pribadi, bus antarkota antarprovinsi, serta truk logistik. Data dari PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni menunjukkan peningkatan signifikan dibanding hari-hari sebelumnya, bahkan melampaui prediksi awal otoritas pelabuhan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni, Rudi Suhartono, menyatakan pihaknya telah mengerahkan seluruh armada kapal yang beroperasi serta memaksimalkan dermaga yang tersedia. "Kami mengoperasikan 34 kapal dengan total 120 trip perjalanan per hari. Seluruh personel juga siaga penuh 24 jam untuk mempercepat proses bongkar muat dan keberangkatan," ujar Rudi Suhartono.
Kendati demikian, volume kendaraan yang datang tidak sebanding dengan kecepatan proses penyeberangan, terutama pada jam-jam sibuk. Antrean kendaraan mengular hingga lima kilometer di jalur masuk pelabuhan, menyebabkan penumpukan yang signifikan di sejumlah titik strategis Jalan Lintas Sumatera.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Bapak Ira Puspadewi, menambahkan bahwa upaya digitalisasi pembelian tiket sudah cukup membantu mengurai antrean di loket, namun tingginya jumlah pemudik tetap menjadi tantangan. "Kami terus melakukan evaluasi dan perbaikan sistem untuk pengalaman penyeberangan yang lebih baik di masa mendatang," katanya.
Pihak kepolisian, melalui Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Rahmat Prabowo, mengonfirmasi bahwa rekayasa lalu lintas telah diterapkan untuk mengurai kemacetan. "Sistem buka tutup jalur dan pengalihan arus sementara kami lakukan secara situasional. Koordinasi intensif dengan ASDP dan Dinas Perhubungan juga terus berjalan untuk memastikan kelancaran arus," jelas Irjen Rahmat Prabowo.
Pemudik harus bersabar menunggu giliran masuk kapal selama berjam-jam. Banyak di antara mereka yang memilih beristirahat di rest area darurat atau bahu jalan sambil menanti. Suasana lelah terpancar dari wajah para pengemudi dan penumpang yang telah menempuh perjalanan jauh.
Salah seorang pemudik asal Palembang, Bapak Budi Santoso, mengungkapkan pengalamannya. "Kami sudah antre sejak dini hari. Ini perjalanan yang sangat menguras tenaga, tetapi mau bagaimana lagi, harus kembali bekerja di Jakarta besok," kata Budi dengan nada pasrah.
Kementerian Perhubungan sebelumnya telah mengimbau pemudik untuk mengatur waktu perjalanan guna menghindari puncak arus balik. Namun, faktor cuti bersama yang berakhir serentak menjadi pemicu utama konsentrasi massa pada H+7 Lebaran ini.
Upaya pemerintah untuk menyosialisasikan penundaan perjalanan atau penggunaan jalur alternatif, seperti Pelabuhan Panjang untuk logistik, tampaknya belum sepenuhnya efektif dalam mendistribusikan volume kendaraan pemudik secara merata. Fokus utama tetap pada Bakauheni sebagai gerbang utama.
Fenomena kepadatan arus balik Lebaran di Bakauheni ini menjadi agenda rutin yang membutuhkan solusi jangka panjang. Peningkatan kapasitas pelabuhan, penambahan jumlah kapal, serta pembangunan infrastruktur penunjang yang lebih modern dan terintegrasi menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk tahun-tahun mendatang.
Prediksi volume kendaraan masih akan tinggi hingga Senin (6/4/2026), meskipun intensitasnya diperkirakan sedikit menurun. Otoritas pelabuhan dan kepolisian tetap menyiagakan personel serta sarana prasarana guna mengantisipasi kemungkinan lonjakan lanjutan hingga seluruh pemudik berhasil menyeberang.