JAKARTA — Terminal Bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) Kampung Rambutan, Jakarta Timur, mencatat peningkatan signifikan jumlah pemudik yang memulai perjalanan pulang kampung pada awal pekan kedua April 2026. Ribuan warga memadati area keberangkatan, memilih untuk berangkat lebih awal guna mengantisipasi puncak arus mudik Idul Fitri 1447 H yang diprediksi jatuh pada pertengahan bulan, menghindari kemacetan parah dan kenaikan harga tiket.
Lonjakan pemudik ini terjadi seiring dimulainya periode cuti sebagian besar karyawan dan pekerja, serta libur sekolah di beberapa daerah. Data dari Posko Terpadu Terminal Kampung Rambutan menunjukkan kenaikan penumpang mencapai 30 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Terminal Kampung Rambutan, Yoyok Kusumo, menyatakan, "Peningkatan sudah mulai terasa sejak akhir pekan pertama April. Kami memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada tanggal 15 hingga 17 April mendatang. Para pemudik memilih berangkat lebih awal demi kenyamanan dan efisiensi waktu perjalanan." Pernyataan ini disampaikan Yoyok saat memantau kondisi terminal pada Selasa pagi.
Mayoritas tujuan perjalanan masih didominasi oleh kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian kecil Sumatera. Rute favorit meliputi Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, hingga Lampung dan Palembang.
Pihak terminal, berkolaborasi dengan Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, telah melakukan berbagai persiapan. Pemeriksaan kelayakan jalan atau 'ram check' terhadap ratusan unit bus dilakukan secara intensif. Hasilnya, beberapa bus ditemukan belum memenuhi standar keselamatan dan langsung dilarang beroperasi sebelum perbaikan selesai.
Selain itu, tes kesehatan bagi para pengemudi bus juga menjadi prioritas. Tes urine dan pemeriksaan tekanan darah dilaksanakan untuk memastikan pengemudi dalam kondisi prima dan bebas dari pengaruh narkoba atau obat-obatan terlarang. Langkah ini krusial demi menjamin keselamatan perjalanan pemudik.
Menurut salah seorang pemudik tujuan Yogyakarta, Sumarni (45), keputusan untuk mudik lebih awal diambil setelah mempertimbangkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. "Setiap tahun selalu macet parah kalau mepet Lebaran, ditambah harga tiket juga melonjak tinggi. Kali ini saya sengaja cuti lebih awal supaya lebih tenang di jalan dan bisa lebih lama di kampung," ujarnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Hartono, melalui keterangan resminya, mengimbau masyarakat agar tidak menunda keberangkatan untuk menghindari penumpukan di hari-hari terakhir jelang Lebaran. Ia juga mengingatkan pemudik untuk selalu memprioritaskan keselamatan dan tidak memaksakan diri jika merasa lelah.
Kementerian Perhubungan bersama Korps Lalu Lintas Polri juga telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas di sejumlah titik rawan kemacetan, terutama di ruas tol dan jalur arteri utama menuju daerah. Posko kesehatan dan rest area diperbanyak untuk memberikan fasilitas optimal bagi pemudik.
Antisipasi terhadap lonjakan penumpang ini juga terlihat dari penambahan armada bus oleh sejumlah perusahaan otobus. Beberapa PO bahkan telah membuka penjualan tiket tambahan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, meskipun dengan penyesuaian harga sesuai ketentuan yang berlaku.
Pengamanan di Terminal Kampung Rambutan juga diperketat. Puluhan personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan Satpol PP disiagakan untuk menjaga ketertiban dan mencegah tindak kriminalitas, seperti copet atau penipuan, yang kerap terjadi selama periode padat.
Dengan segala persiapan dan imbauan yang telah diberikan, diharapkan arus mudik Lebaran 2026 dapat berjalan lancar, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat yang merayakan Idul Fitri di kampung halaman. Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan yang relevan, terutama saat berada di tempat umum dan transportasi publik.
Fenomena mudik lebih awal ini merefleksikan kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan perjalanan yang matang, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dan operator transportasi dalam mengelola mobilitas massa berskala besar. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menyerukan agar seluruh jajaran pemerintah memastikan kelancaran dan keamanan arus mudik dan balik, sebagai bentuk pelayanan prima kepada rakyat.
Terminal Kampung Rambutan sebagai salah satu gerbang utama pemudik di Jakarta, menjadi barometer awal kesuksesan pengelolaan arus mudik nasional. Kesiapan infrastruktur dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci untuk meminimalkan potensi masalah di kemudian hari.
Penjual makanan dan minuman di sekitar terminal juga merasakan dampak positif dari lonjakan pemudik. Omzet mereka meningkat drastis, memberikan angin segar bagi ekonomi lokal selama musim ramai ini. Para pedagang kecil ini turut menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem mudik.
Otoritas terminal terus mengimbau pemudik untuk membeli tiket di loket resmi dan melaporkan jika menemukan praktik calo atau harga tiket yang tidak wajar. Transparansi dan pelayanan prima menjadi prioritas utama demi kenyamanan dan keamanan perjalanan masyarakat.