Rupiah Terjun Bebas: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 26 Februari 2026

Chris Robert Chris Robert 28 Feb 2026 01:59 WIB
Rupiah Terjun Bebas: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 26 Februari 2026
Tumpukan uang kertas rupiah dan dolar AS yang melambangkan dinamika nilai tukar mata uang di pasar global, dengan latar belakang grafik ekonomi yang menunjukkan volatilitas.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Kamis 26 Februari 2026, mengalami pelemahan signifikan, menembus angka Rp15.875 per dolar AS di pasar spot. Kejatuhan ini dipicu oleh sentimen negatif dari kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS yang tak terduga serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global yang kian mendalam. Bank Indonesia (BI) segera menyatakan kesiapsiagaan untuk melakukan intervensi demi menjaga stabilitas mata uang.

Pergerakan kurs mata uang Garuda tersebut menciptakan kegelisahan di kalangan pelaku pasar dan pengambil kebijakan. Analis mencermati bahwa tekanan eksternal kini menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kinerja rupiah, melebihi dinamika internal perekonomian nasional yang relatif stabil.

Federal Reserve AS, dalam rapat komite terbuka (FOMC) yang hasilnya diumumkan dini hari tadi waktu Indonesia, memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Langkah agresif ini melampaui ekspektasi pasar yang semula memprediksi kenaikan 25 basis poin, atau bahkan tidak ada perubahan sama sekali. Kebijakan ini segera memicu penguatan masif dolar AS secara global.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers virtual dari kantor pusat BI di Jakarta, menegaskan komitmen lembaganya. “Kami terus mencermati dinamika pasar keuangan global dan domestik. Bank Indonesia akan selalu hadir di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar spot maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujar Perry Warjiyo.

Tidak hanya itu, kekhawatiran atas proyeksi pertumbuhan ekonomi global juga menambah beban. Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2026 menjadi 2,8 persen dari sebelumnya 3,2 persen, merujuk pada dampak inflasi persisten dan konflik geopolitik yang berlarut-larut.

Pelemahan rupiah hingga menembus level psikologis Rp15.800 per dolar AS dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga barang impor, yang pada gilirannya dapat mendorong laju inflasi domestik. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyatakan terus berkoordinasi erat dengan BI guna memitigasi dampak buruk terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menyatakan pemerintah akan mengkaji langkah-langkah fiskal yang diperlukan untuk meredam dampak inflasi. “Kami menyiapkan bantalan fiskal yang kuat untuk melindungi masyarakat, utamanya dari kenaikan harga pangan dan energi yang mungkin timbul akibat depresiasi rupiah,” kata Sri Mulyani, dalam sesi rapat terbatas kabinet di Istana Negara.

Para eksportir justru merasakan angin segar dari kondisi ini. Depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional karena harganya menjadi lebih murah bagi pembeli asing. Namun, bagi importir, biaya impor bahan baku dan barang modal akan membengkak, berisiko menekan margin keuntungan atau mendorong kenaikan harga jual di pasar domestik.

Kepala Ekonom PT Mandiri Sekuritas, Leo Putra, menilai bahwa kondisi saat ini memerlukan respons kebijakan yang terkoordinasi dan terukur. “Intervensi BI memang penting, namun pemerintah juga perlu memastikan fundamental ekonomi tetap kuat, terutama melalui peningkatan investasi dan menjaga inflasi pada level yang terkendali,” jelas Leo.

Potensi kenaikan biaya utang luar negeri berdenominasi dolar AS juga menjadi perhatian serius bagi korporasi dan pemerintah. Kenaikan nilai dolar AS secara otomatis meningkatkan beban pembayaran pokok dan bunga utang, menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan fiskal dan korporasi. Situasi ini menggarisbawahi urgensi mitigasi risiko mata uang.

Secara historis, rupiah memang rentan terhadap gejolak eksternal, terutama kebijakan moneter AS dan sentimen pasar global. Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki rekam jejak dalam menghadapi tantangan serupa, namun skala tekanan saat ini menuntut strategi yang lebih komprehensif dan antisipatif.

Pasar kini menantikan langkah konkret selanjutnya dari Bank Indonesia untuk meredam tekanan. Sinyal keberanian dan ketegasan dari otoritas moneter diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan pasar serta menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang semakin pekat.

Situasi ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan utama hingga beberapa pekan ke depan, mengingat belum adanya tanda-tanda meredanya tensi geopolitik atau perubahan kebijakan agresif dari bank sentral negara maju. Investor dihimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap perkembangan selanjutnya.

Meski demikian, sejumlah ekonom meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan surplus neraca perdagangan, masih cukup kokoh untuk menahan guncangan. Namun, tantangan terbesarnya adalah seberapa cepat dan efektif kebijakan dapat diimplementasikan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap sektor riil dan kesejahteraan masyarakat.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Chris Robert

Tentang Penulis

Chris Robert

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!