BAGHDAD — Qasem Soleimani, jenderal Garda Revolusi Islam Iran yang memimpin Pasukan Quds, tewas dalam serangan pesawat nirawak Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020. Insiden yang memicu ketegangan global itu, masih resonan kuat hingga tahun 2026, mengubah peta kekuatan regional dan memanaskan hubungan antara Teheran, Washington, serta Tel Aviv.
Sosok Soleimani selama beberapa dekade dikenal sebagai arsitek utama kebijakan luar negeri dan keamanan Iran di Timur Tengah. Dia bertanggung jawab atas strategi ekspansi pengaruh Iran melalui jaringan proksi dan operasi rahasia. Kematiannya menandai hilangnya salah satu perwira militer paling berpengaruh dan misterius di kawasan.
Pemerintah Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump saat itu, membenarkan serangan tersebut sebagai tindakan preemtif untuk mencegah serangan yang mereka klaim akan dilakukan Soleimani terhadap diplomat dan personel militer AS di Irak dan sekitarnya. Washington dan sekutunya, termasuk Israel, telah lama menuduh Soleimani sebagai dalang terorisme dan destabilisasi.
Sebaliknya, Iran segera mengutuk tindakan tersebut sebagai “terorisme negara” dan bersumpah akan membalas. Soleimani, yang lahir di sebuah desa miskin di Kerman pada 1957, dipuja sebagai pahlawan nasional dan martir di tanah airnya. Jutaan warga Iran tumpah ruah di jalanan dalam upacara pemakamannya yang monumental, menuntut balas dendam atas kematiannya.
Pasukan Quds, unit elit Garda Revolusi, di bawah komando Soleimani, memainkan peran kunci dalam mendukung rezim Bashar al-Assad di Suriah, membangun kekuatan Hizbullah di Lebanon, serta mendukung milisi Syiah di Irak dan pemberontak Houthi di Yaman. Jaringan ini menjadi tulang punggung proyeksi kekuatan Iran, menantang dominasi Amerika dan Israel di kawasan.
Kematian Soleimani memang menyebabkan eskalasi cepat, termasuk serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Irak beberapa hari kemudian. Meskipun tidak ada korban jiwa dari pihak Amerika, insiden tersebut menunjukkan kapasitas Iran untuk menargetkan kepentingan AS dan menandai periode ketegangan yang mendalam.
Para analis geopolitik hingga tahun 2026 masih memperdebatkan dampak jangka panjang dari penghilangan Soleimani. Beberapa berpendapat bahwa kematiannya melumpuhkan kemampuan Iran untuk mengoordinasikan jaringan proksi mereka secara efektif, setidaknya untuk sementara. Namun, yang lain melihatnya sebagai faktor pendorong bagi Iran untuk semakin memperkuat kemampuan pertahanan asimetrisnya dan mencari cara baru untuk menantang musuh-musuhnya.
Mayor Jenderal Esmail Ghaani, yang segera ditunjuk sebagai pengganti Soleimani, menghadapi tantangan berat untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pendahulunya. Meskipun Ghaani berupaya mempertahankan warisan Soleimani, banyak pihak meyakini ia belum memiliki karisma dan jaringan pribadi yang sekuat Soleimani.
Hubungan Washington-Teheran tetap tegang, dengan perundingan nuklir yang terus mengalami pasang surut. Warisan Soleimani terasa dalam setiap manuver strategis Iran di Irak, Suriah, dan Lebanon, yang bertujuan untuk mempertahankan dan memperluas pengaruhnya di tengah tekanan sanksi dan ancaman militer.
Bagi Israel, kematian Soleimani dianggap sebagai kemenangan signifikan dalam upaya mereka melawan ancaman regional Iran. Namun, hal itu juga meningkatkan kewaspadaan akan potensi serangan balasan dari kelompok-kelompok yang setia kepada Teheran, menciptakan ketidakpastian keamanan yang terus berlanjut hingga kini.
Kehidupan dan kematian Soleimani adalah cerminan kompleksitas Timur Tengah, sebuah saga tentang kekuasaan, keyakinan, dan intrik geopolitik yang terus membentuk lanskap politik global, bahkan enam tahun setelah insiden tragis di Baghdad tersebut.