YORDANIA — Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Yordania terjebak dalam pusaran ketegangan geopolitik ekstrem saat gempuran rudal masif antara Iran dan Israel memuncak pada medio April 2024. Mereka menyaksikan langsung kengerian eskalasi konflik di Timur Tengah, merasakan dentuman keras yang mengguncang dan kepanikan akibat lalu-lalang ambulans, menciptakan situasi "buntu" tanpa arah jelas bagi keselamatan mereka.
Peristiwa yang terjadi pasca serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus itu memicu balasan Iran dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel. Lintasan proyektil tersebut melewati ruang udara Yordania, secara langsung menempatkan negara itu dalam zona bahaya yang tidak terduga, jauh dari garis depan langsung namun tetap merasakan dampak eskalasi.
"Kami mendengar suara dentuman yang sangat kencang, berkali-kali," ujar Sarah, seorang pekerja migran Indonesia yang tinggal di Amman, menceritakan pengalamannya kepada Cognito Daily. Ia menggambarkan bagaimana langit malam diterangi oleh kilatan-kilatan cahaya dan suara ledakan yang memekakkan telinga, menciptakan atmosfer mencekam di seluruh kota.
Kepanikan menyelimuti masyarakat setempat, termasuk para WNI, yang bergegas mencari perlindungan. Banyak warga Yordania dan ekspatriat, termasuk WNI, mengikuti instruksi pemerintah untuk tetap berada di dalam rumah, menjauhi jendela, dan memantau perkembangan situasi melalui media.
Rizky, seorang mahasiswa Indonesia di Yordania, menambahkan, "Rasanya seperti di tengah-tengah perang, padahal kami bukan pihak yang bertikai. Kami buntu, tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa dan menunggu." Ungkapan 'buntu' ini mencerminkan minimnya pilihan bagi mereka yang terjebak di lokasi tak terduga dalam konflik antarnegara.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman segera mengaktifkan pusat krisis dan mengeluarkan imbauan keselamatan bagi seluruh WNI. Pihak KBRI juga melakukan pendataan dan memantau kondisi warga Indonesia secara intensif, memastikan jalur komunikasi tetap terbuka bagi mereka yang membutuhkan bantuan.
Posisi geografis Yordania yang berbatasan langsung dengan Israel, Suriah, dan Irak, serta relatif dekat dengan Iran, menjadikan wilayah tersebut sangat rentan terhadap dampak spillover dari konflik regional. Serangan rudal yang melintasi wilayah udara negara-negara tetangga menjadi ancaman nyata bagi keamanan penerbangan dan keselamatan sipil.
Dampak dari eskalasi ini tidak hanya terasa pada aspek keamanan, tetapi juga mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi di Yordania. Penerbangan dibatalkan, aktivitas masyarakat terhambat, dan kekhawatiran akan ketidakpastian masa depan regional semakin meningkat.
Meskipun insiden gempuran rudal tersebut telah berlalu, pengalaman pahit itu menyisakan trauma dan kekhawatiran mendalam bagi para WNI yang masih berada di Yordania. Mereka tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi, mengingat dinamika geopolitik kawasan yang masih sangat volatil hingga awal tahun 2026 ini.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, terus memantau situasi keamanan di Timur Tengah dan secara berkala mengingatkan WNI untuk meningkatkan kewaspadaan. Protokol evakuasi dan rencana kontingensi juga senantiasa diperbarui untuk menjamin perlindungan maksimal bagi warga negara di luar negeri, terutama di zona konflik.
Para WNI berharap stabilitas di kawasan dapat segera pulih. Kisah mereka menjadi pengingat pahit tentang dampak konflik geopolitik yang merambah hingga ke kehidupan warga sipil yang tidak bersalah, bahkan di negara yang dianggap relatif aman.