JAKARTA — Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal pada dini hari Selasa, 24 Maret 2026. Insiden brutal ini terjadi di depan kediamannya di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, saat Andrie baru saja tiba pulang usai melakukan aktivitas advokasi.
Penyiraman cairan korosif itu mengakibatkan Andrie Yunus mengalami luka bakar serius pada wajah, leher, dan tangannya. Korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina untuk mendapatkan penanganan medis intensif, di mana kondisinya dilaporkan stabil namun memerlukan perawatan jangka panjang.
Menurut keterangan saksi mata yang enggan disebut namanya, dua orang pelaku diduga mengendarai sepeda motor. Mereka berhenti di dekat Andrie saat korban sedang memarkir kendaraannya, lalu secara tiba-tiba menyiramkan air keras dan langsung melarikan diri ke arah jalan raya yang sepi.
Koordinator KontraS, Fatia Maulidiyanti, dalam pernyataan resminya di kantor mereka, mengecam keras tindakan pengecut ini. "Serangan terhadap Andrie Yunus merupakan bentuk teror brutal yang ditujukan untuk membungkam suara-suara kritis dan gerakan advokasi hak asasi manusia," ujar Fatia.
Fatia mendesak aparat kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya dan Mabes Polri, untuk segera melakukan investigasi mendalam dan transparan. "Kami menuntut agar pelaku dan otak di balik serangan ini ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku. Jangan sampai kasus ini menambah daftar panjang impunitas di negara ini," tambahnya.
Pihak kepolisian dari Polres Metro Jakarta Timur telah mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur, Kompol Budi Santoso, menyatakan pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti, termasuk rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian, serta keterangan dari sejumlah saksi.
"Kami serius menangani kasus ini. Tim sudah diterjunkan untuk memburu para pelaku. Kami juga akan berkoordinasi dengan tim medis untuk mendapatkan informasi kondisi korban," jelas Kompol Budi kepada awak media di lokasi.
Serangan ini menambah deretan panjang kekerasan terhadap aktivis dan pembela HAM di Indonesia. Andrie Yunus sendiri dikenal sebagai aktivis yang vokal mengadvokasi isu-isu hak asasi manusia, termasuk kasus-kasus pelanggaran berat HAM di masa lalu dan isu agraria yang kerap memicu konflik.
Solidaritas datang dari berbagai organisasi masyarakat sipil dan pegiat HAM. Mereka mengecam keras aksi tersebut dan menyerukan perlindungan lebih kuat bagi para aktivis. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga menyatakan keprihatinannya dan akan memantau ketat proses penyelidikan kasus ini.
Insiden penyiraman air keras ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap iklim demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Banyak pihak menilai, jika kasus ini tidak diusut tuntas, akan menciptakan preseden buruk dan meningkatkan rasa takut di kalangan pegiat hak asasi manusia.
Masyarakat luas pun menanti langkah konkret dari pemerintah dan aparat penegak hukum untuk memastikan keamanan para pembela HAM. Mereka berharap agar keadilan ditegakkan dan para pelaku kejahatan keji ini tidak bisa melenggang bebas.
KontraS menegaskan, insiden ini tidak akan menyurutkan semangat mereka dalam memperjuangkan keadilan. "Kami tidak akan gentar. Perjuangan untuk hak asasi manusia akan terus berlanjut, bahkan semakin kuat," pungkas Fatia.