Merayakan Toleransi: Lautan Manusia Padati Festival Imlek Bundaran HI

Gabriella Gabriella 15 Feb 2026 11:12 WIB
Merayakan Toleransi: Lautan Manusia Padati Festival Imlek Bundaran HI
Foto udara menunjukkan ribuan warga memadati kawasan Bundaran HI, Jakarta, di tengah dekorasi lampion dan ornamen naga raksasa, selama perayaan Festival Imlek.

JAKARTA — Ribuan warga Ibu Kota memadati area Car Free Day di Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada Minggu (18/2/2024), merayakan momentum Tahun Baru Imlek yang ditandai dengan Festival Kebudayaan Tionghoa. Pemandangan lautan manusia menjadi saksi antusiasme publik yang memburu instalasi dekorasi khas Tiongkok, terutama lampion raksasa dan ornamen naga, sebagai spot foto ikonik.

Sejak pagi hari, arus pejalan kaki telah mengalir deras menuju jantung kota. Mereka tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga untuk menikmati atmosfer multikultural yang disuguhkan oleh pemerintah daerah dalam perayaan Imlek yang meriah. Fokus utama pengunjung adalah kemegahan visual yang ditawarkan.

“Saya datang khusus dari Bekasi hanya untuk foto di dekat lampion-lampion itu,” ujar Siti Nurmala (35), seorang pengunjung yang membawa dua anaknya, saat diwawancarai Cognito Daily. Ia menambahkan, “Dekorasinya benar-benar maksimal tahun ini. Kami merasa ini bukan sekadar perayaan etnis, tapi milik semua orang.”

Peristiwa ini menggarisbawahi semakin terintegrasinya perayaan Imlek sebagai bagian dari kalender budaya nasional. Peristiwa di Bundaran HI menegaskan spirit toleransi dan kohesi sosial di tengah heterogenitas masyarakat Jakarta.

Instalasi yang paling menarik perhatian adalah replika Gapura Klasik Cina setinggi lima meter yang diapit dua patung singa penjaga (Shi-Shi) berwarna emas. Area ini secara konsisten diserbu pengunjung yang rela mengantre panjang untuk mendapatkan sudut gambar terbaik.

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Bapak Rian Firmansyah, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival ini telah dipersiapkan matang. Pihak keamanan, termasuk Satpol PP dan petugas Dinas Perhubungan, dikerahkan untuk memastikan kelancaran arus manusia dan ketertiban selama acara berlangsung.

“Tujuan kami adalah menghadirkan ruang publik yang inklusif. Kami melihat peningkatan signifikan dalam jumlah pengunjung dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Bapak Rian. Ia menekankan bahwa dekorasi sengaja dirancang agar interaktif dan ‘instagrammable’ guna menarik generasi muda.

Selain Gapura, spot lain yang menjadi primadona adalah area payung kertas minyak tradisional yang digantung secara masif, menciptakan kanopi berwarna-warni di atas jalur pejalan kaki. Cahaya matahari yang menembus payung-payung tersebut menghasilkan efek visual dramatis, sempurna untuk konten media sosial.

Para pengunjung memanfaatkan berbagai sudut, mulai dari latar belakang air mancur ikonik Bundaran HI hingga karangan bunga besar berwarna merah dan emas yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Mereka berburu sudut yang minim kerumunan, meskipun hal itu sulit dicapai mengingat kepadatan area.

Antusiasme pengunjung turut memicu peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi. Pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjajakan makanan ringan, minuman segar, dan suvenir khas Imlek melaporkan peningkatan omzet yang substansial.

Festival Imlek di Bundaran HI tahun ini berhasil melampaui fungsi perayaan religius semata; ia bertransformasi menjadi pameran budaya terbuka. Peristiwa ini membuktikan bahwa keragaman di Ibu Kota bukan hanya diterima, melainkan dirayakan bersama, meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung yang berhasil mengabadikan momen tersebut.

Informasi Valid Sumber Referensi Resmi
www.google.com
Gabriella

Tentang Penulis

Gabriella

Jurnalis dan Editor di Cognito Daily. Menyajikan informasi terkini dan faktual untuk pembaca.

Bagikan Artikel:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!