TANGERANG — Ribuan liter ecoenzyme secara masif dituang ke aliran Sungai Cisadane oleh relawan lingkungan sebagai upaya darurat mengatasi tingginya kontaminasi pestisida yang mengancam ekosistem, namun langkah mitigasi biologis ini memicu perdebatan di kalangan akademisi mengenai efektivitas dan potensi dampak jangka panjang terhadap kualitas air baku.
Aksi pelepasan cairan fermentasi tersebut dilakukan pekan lalu oleh berbagai komunitas pegiat lingkungan, didorong oleh laporan peningkatan residu kimia pertanian yang berasal dari kawasan hulu sungai.
Sungai Cisadane, yang melintasi wilayah Bogor hingga Tangerang, merupakan sumber vital air minum bagi jutaan penduduk. Belakangan, sungai ini menghadapi tekanan berat akibat limbah domestik dan, yang lebih merisaukan, akumulasi senyawa organofosfat dan karbamat dari sektor pertanian intensif di kawasan hulu.
Ecoenzyme, yang dihasilkan dari fermentasi sisa kulit buah, gula, dan air, diyakini oleh para pegiat lingkungan mampu mempercepat proses degradasi senyawa kimia beracun, termasuk pestisida. Mereka berharap cairan ini dapat berfungsi sebagai katalisator alami untuk mengembalikan keseimbangan mikrobiologis sungai.
Ketua koordinator aksi, Maya Puspita, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan respons cepat komunitas terhadap mandeknya penanganan polusi air. "Kami tidak bisa menunggu regulasi. Ecoenzyme adalah solusi berbasis alam yang telah terbukti secara mikro dapat menetralkan racun. Kami mengaplikasikannya dalam skala yang lebih besar untuk Cisadane," ujarnya.
Namun, efektivitas penggunaan ecoenzyme dalam skala makro sungai besar segera dipertanyakan oleh para pakar toksikologi lingkungan. Mereka menekankan perbedaan signifikan antara uji coba di laboratorium dan implementasi di lingkungan alam yang dinamis.
Profesor Dr. Bima Sakti, seorang toksikolog lingkungan dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa volume polutan yang masuk ke Cisadane jauh melebihi kapasitas bioremediasi dari ribuan liter ecoenzyme. "Pestisida memiliki laju pelarutan dan degradasi yang kompleks. Ecoenzyme mungkin membantu di titik tertentu, tetapi dampaknya hanya bersifat lokal dan sementara. Ini bersifat paliatif," tegas Prof Bima.
Prof Bima menambahkan, tanpa pengendalian sumber polusi yang berkelanjutan di sektor pertanian hulu, penambahan ecoenzyme hanyalah upaya yang memerlukan dosis terus-menerus dan masif. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang biaya operasional dan keberlanjutan program.
Kekhawatiran lain disampaikan oleh Dr. Sari Dewi, pakar hidrologi dan kualitas air. Menurutnya, meski ecoenzyme umumnya aman, pelepasan material organik dalam jumlah besar secara tiba-tiba dapat mengubah parameter pH dan oksigen terlarut (DO) di sungai.
"Perubahan drastis ini berpotensi mengganggu biota akuatik yang sensitif terhadap fluktuasi lingkungan. Konsentrasi bahan organik yang tinggi dapat memicu eutrofikasi lokal, bahkan jika niatnya adalah dekomposisi racun. Kita harus memantau interaksi mikroba sungai yang sudah ada dengan enzim tambahan tersebut," jelas Dr. Sari.
Data terkini dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menunjukkan bahwa setidaknya tiga titik uji di sepanjang Cisadane memiliki kadar residu pestisida yang melebihi baku mutu air kelas II selama enam bulan terakhir. Angka ini semakin menguatkan urgensi intervensi, meskipun metodenya masih diperdebatkan.
Pemerintah Kota Tangerang, melalui Dinas Lingkungan Hidup, mengapresiasi semangat komunitas tetapi juga menyerukan pendekatan yang lebih terukur dan berbasis ilmiah. Kepala Dinas, Ahmad Fahruddin, menyatakan pihaknya akan segera melibatkan tim peneliti independen untuk memantau titik-titik lokasi penumpahan ecoenzyme.
"Kami menyambut baik partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Namun, kami akan melakukan uji sampel air secara intensif untuk memverifikasi klaim penetralan pestisida dan memastikan tidak ada dampak buruk lain yang timbul pada ekosistem sungai secara keseluruhan," kata Ahmad Fahruddin.
Para ahli menyimpulkan bahwa sementara ecoenzyme menawarkan potensi sebagai teknologi hijau komplementer, ia tidak dapat menggantikan kebutuhan akan regulasi pertanian yang ketat, penggunaan pestisida yang bertanggung jawab, dan penegakan hukum terhadap pembuangan limbah ilegal ke sungai. Pendekatan holistik tetap menjadi kunci utama keberhasilan restorasi Sungai Cisadane.