YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengimbau seluruh elite bangsa menjadikan momentum Idulfitri 1447 Hijriah sebagai jalan persatuan. Ia secara tegas mendesak para pemegang kebijakan dan figur publik untuk memberikan teladan kerukunan pasca-berbagai dinamika sosial dan politik yang menguras energi bangsa.
Imbauan ini disampaikan Haedar di Kantor Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, pada Senin, 16 Februari 2026, dua hari menjelang Hari Raya Idulfitri. Menurutnya, perayaan hari kemenangan umat Islam seharusnya menjadi titik tolak bagi setiap elemen bangsa untuk menanggalkan perbedaan dan mengedepankan kepentingan bersama.
“Idulfitri bukan hanya perayaan ritual keagamaan, melainkan juga kesempatan emas untuk rekonsiliasi sosial dan spiritual. Ini adalah momen untuk saling memaafkan, merajut kembali tali silaturahmi, dan memperkuat fondasi kebangsaan kita,” ujar Haedar.
Haedar menyoroti pentingnya peran elite bangsa, baik dari kalangan politik, ekonomi, maupun sosial, dalam menunjukkan kematangan berdemokrasi dan keutamaan moral. Ia berpendapat bahwa teladan dari atas akan menjadi penentu bagi terciptanya suasana damai dan kondusif di tengah masyarakat.
“Masyarakat senantiasa melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh para pemimpinnya. Jika elite menunjukkan persatuan dan kerukunan, maka energi positif itu akan menular ke akar rumput. Sebaliknya, polarisasi akan terus berlarut jika elite masih terpecah belah,” tegasnya.
Dalam konteks nasional 2026, dengan pemerintah yang telah memasuki tahun kedua masa jabatannya, Haedar menekankan bahwa konsolidasi dan sinergi antar elite adalah kunci untuk menghadapi berbagai tantangan. Tantangan tersebut meliputi pemulihan ekonomi global, penanganan isu lingkungan, serta pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
Muhammadiyah, melalui berbagai amal usahanya, terus berkomitmen untuk menjadi perekat bangsa. Haedar mengajak semua pihak untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.
“Persatuan adalah modal dasar kita. Tanpa persatuan, sebesar apa pun potensi yang kita miliki, akan sulit dioptimalkan. Elite harus menjadi arsitek persatuan, bukan justru menjadi pemicu perpecahan,” kata Haedar, menggarisbawahi urgensi imbauannya.
Beliau juga mengingatkan agar semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia tidak luntur. Nilai-nilai ini, lanjutnya, semakin relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari guna mengatasi berbagai persoalan bersama.
Idulfitri 1447 H diharapkan dapat menjadi penanda bangkitnya kesadaran kolektif untuk memprioritaskan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau pribadi. Haedar berharap para pemimpin dapat menahan diri dari retorika yang memecah belah dan mulai membangun narasi kebersamaan yang konstruktif.
“Mari kita gunakan energi kita untuk membangun, bukan untuk bertikai. Idulfitri adalah seruan untuk kembali ke fitrah, kembali pada kemanusiaan yang utuh, dan kembali pada semangat kebangsaan yang sejati,” pungkas Haedar Nashir, berharap pesannya sampai ke seluruh penjuru negeri.
Seruan ini relevan dengan kondisi bangsa yang membutuhkan ketenangan dan fokus dalam menjalankan agenda-agenda pembangunan jangka menengah dan panjang. Kehadiran teladan dari elite sangat dinantikan masyarakat untuk menciptakan stabilitas dan optimisme.