TEHERAN — Republik Islam Iran pada Selasa (20/01/2026) secara mengejutkan mengklaim telah melancarkan serangan rudal presisi yang berhasil menghantam area vital di dekat kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Yerusalem. Klaim tersebut segera memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di Timur Tengah yang telah tegang, sementara Tel Aviv belum memberikan konfirmasi atau sanggahan resmi atas insiden tersebut.
Juru Bicara Garda Revolusi Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ramezan Sharif, menyatakan bahwa operasi ini merupakan pesan tegas dan respons terhadap agresi Zionis yang berulang. Sharif mengklaim rudal-rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, dan mencapai target yang telah ditentukan.
Namun, laporan awal dari media-media Israel dan sumber intelijen Barat menunjukkan tidak ada tanda-tanda kerusakan signifikan atau korban jiwa di Yerusalem. Sistem peringatan dini juga tidak aktif di sebagian besar wilayah kota, menimbulkan keraguan serius terhadap validitas klaim Iran tersebut.
Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melalui seorang pejabat yang enggan disebut namanya, menolak berkomentar langsung, namun menegaskan bahwa Perdana Menteri tetap aman dan menjalankan tugasnya seperti biasa. Hal ini memperkeruh situasi informasi di tengah ketegangan yang membara.
Serangan yang diklaim Iran ini, jika terbukti benar, akan menandai peningkatan signifikan dalam konfrontasi langsung antara kedua negara yang telah lama berseteru. Iran sebelumnya bersumpah akan membalas setiap agresi Israel terhadap fasilitas nuklir atau personel militernya di Suriah atau Lebanon.
Insiden ini terjadi di tengah gejolak regional yang intens, termasuk perang berkepanjangan di Jalur Gaza dan konflik proksi di Lebanon serta Laut Merah. Analis geopolitik melihat klaim Iran sebagai upaya untuk menunjukkan kemampuan militer dan deterensi mereka di hadapan ancaman eksternal.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden, melalui juru bicaranya di Departemen Luar Negeri, menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan ini. Washington mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan provokatif yang dapat memperburuk stabilitas kawasan.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyerukan investigasi menyeluruh terhadap klaim tersebut. PBB mengingatkan semua anggota untuk mematuhi hukum internasional dan prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara lain.
Sejumlah pakar pertahanan dari lembaga think tank di London dan Washington mempertanyakan klaim presisi serangan Iran. Mereka menyoroti sejarah Iran yang kerap menggunakan retorika provokatif dalam konteks militer, yang terkadang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas lapangan.
Profesor Studi Timur Tengah dari Universitas Nasional Singapura, Dr. Aisha Rahman, berpendapat bahwa terlepas dari kebenaran klaim, pernyataan Iran ini sendiri sudah memiliki efek psikologis dan diplomatik yang signifikan. Ini menunjukkan niat Tehran untuk menjaga Israel tetap waspada.
Situasi di Yerusalem dilaporkan tetap tenang, meskipun ada peningkatan kehadiran pasukan keamanan Israel di sekitar gedung-gedung pemerintahan dan area-area strategis. Warga diminta untuk tetap tenang namun waspada terhadap perkembangan lebih lanjut.
Konflik antara Iran dan Israel telah lama menjadi titik didih di Timur Tengah. Teheran secara konsisten menuding Israel sebagai rezim Zionis ilegal dan mendukung kelompok-kelompok militan yang beroperasi melawan Israel, seperti Hamas dan Hizbullah.
Sebaliknya, Israel memandang program nuklir Iran dan pengembangan rudal balistiknya sebagai ancaman eksistensial. Tel Aviv sering kali melakukan serangan rahasia terhadap target-target yang terkait dengan Iran di luar perbatasannya, terutama di Suriah.
Klaim serangan rudal ini, benar atau tidak, berfungsi sebagai pengingat akan kerapuhan perdamaian di kawasan tersebut. Ini menyoroti risiko salah perhitungan dan eskalasi yang tidak disengaja, dengan konsekuensi yang berpotensi menghancurkan.
Komunitas internasional kini menunggu konfirmasi independen dan reaksi resmi dari otoritas Israel. Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah ketegangan antara dua kekuatan regional yang paling berpengaruh ini.