KABUL — Afghanistan menuduh Pakistan mendalangi serangan terhadap Pangkalan Udara Bagram pada Selasa (21/1/2026), insiden yang meningkatkan ketegangan di antara kedua negara bertetangga. Tuduhan ini dikeluarkan Kementerian Pertahanan Afghanistan, menuntut klarifikasi dan tindakan tegas dari Islamabad atas apa yang mereka sebut sebagai agresi terang-terangan terhadap kedaulatan nasional. Insiden ini berpotensi memicu eskalasi konflik di wilayah perbatasan yang sudah rentan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Jenderal Ahmad Zia, dalam konferensi pers di Kabul, menyatakan bukti-bukti awal menunjukkan keterlibatan elemen-elemen yang beroperasi dari wilayah Pakistan dalam serangan tersebut.
"Kami memiliki informasi intelijen yang mengarah pada dalang di balik aksi provokatif ini. Ini bukan kali pertama kedaulatan kami dilanggar," tegas Jenderal Zia, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis serangan atau kerugian spesifik yang diderita pangkalan.
Pangkalan Udara Bagram, yang sebelumnya menjadi markas operasi militer utama Amerika Serikat dan sekutunya, memegang nilai strategis vital bagi keamanan Afghanistan. Lokasi ini menjadi pusat komando dan logistik penting bagi Angkatan Udara Afghanistan.
Tuduhan ini muncul di tengah hubungan yang memburuk antara Kabul dan Islamabad, yang seringkali diwarnai oleh sengketa perbatasan dan saling tuduh mengenai dukungan terhadap kelompok militan. Kedua belah pihak memiliki sejarah panjang ketidakpercayaan dan perbedaan pandang mengenai manajemen keamanan regional.
Pakistan, melalui Kementerian Luar Negerinya, segera membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Aisha Khan, dalam pernyataan resminya di Islamabad, menyebut tuduhan Afghanistan sebagai "klaim tanpa dasar".
"Pakistan berkomitmen pada perdamaian dan stabilitas regional. Kami tidak pernah terlibat dalam tindakan agresi terhadap negara tetangga manapun. Tuduhan ini bertujuan mengalihkan perhatian dari masalah internal Afghanistan," kata Khan.
Insiden di Bagram ini menambah daftar panjang ketegangan di garis perbatasan Durand, yang belum terselesaikan secara resmi. Garis demarkasi ini telah lama menjadi sumber friksi karena dianggap sepihak oleh Afghanistan.
Analis politik regional, Dr. Sadiqullah Mansoor dari Universitas Kabul, menyoroti bahwa insiden semacam ini bukan hanya merusak hubungan bilateral. "Setiap serangan lintas batas, nyata atau dugaan, memiliki potensi besar untuk memicu siklus pembalasan yang sulit dihentikan," ujarnya.
Dr. Mansoor juga menambahkan bahwa komunitas internasional harus segera bertindak sebagai mediator. "Krisis kepercayaan antara Kabul dan Islamabad membutuhkan intervensi diplomatis yang kuat sebelum situasi memburuk," jelasnya.
Selama beberapa bulan terakhir tahun 2025, terjadi peningkatan insiden kecil di perbatasan, termasuk baku tembak dan infiltrasi yang dilaporkan. Namun, serangan yang menargetkan fasilitas militer utama seperti Bagram merupakan eskalasi yang signifikan.
Pemerintah Afghanistan telah berulang kali menyerukan Pakistan untuk menghentikan dugaan dukungan terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu stabilitas Afghanistan. Islamabad secara konsisten menolak tuduhan ini, menegaskan upaya mereka dalam memerangi terorisme di wilayahnya.
Situasi ini semakin rumit dengan dinamika politik internal di kedua negara. Pemilihan umum yang akan datang di Afghanistan pada akhir tahun 2026 diperkirakan akan memperparah retorika nasionalistik.
Sementara itu, pihak militer Pakistan menyatakan kesiapan penuh untuk melindungi kedaulatan negaranya dari segala bentuk ancaman. Sebuah pernyataan dari Markas Besar Militer Pakistan di Rawalpindi menggarisbawahi komitmen mereka terhadap keamanan perbatasan.
Masyarakat internasional, termasuk PBB dan beberapa negara Barat, telah menyatakan keprihatinan atas laporan ini. Mereka mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog konstruktif.
Utusan khusus PBB untuk Afghanistan dan Pakistan dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat dengan perwakilan kedua negara dalam beberapa hari mendatang. Tujuannya adalah meredakan ketegangan dan mencari jalan keluar diplomatik.
Kekhawatiran utama adalah bahwa konflik terbuka antara dua negara bersenjata nuklir ini dapat destabilisasi seluruh kawasan Asia Selatan, dengan dampak yang jauh melampaui perbatasan mereka.
Analis militer juga mencatat bahwa setiap peningkatan serangan terhadap pangkalan militer dapat merusak kapasitas pertahanan Afghanistan, mengingat dukungan internasional yang semakin berkurang setelah penarikan pasukan asing.
Dengan demikian, desakan global untuk deeskalasi dan dialog menjadi semakin mendesak. Masa depan hubungan Afghanistan-Pakistan dan stabilitas regional kini bergantung pada respons bijak dari para pemimpin kedua negara.