TEHERAN — Sebuah laporan mengejutkan yang dirilis Kementerian Kebudayaan dan Warisan Iran pada awal tahun 2026 mengungkap dampak mengerikan dari serangkaian serangan militer yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Lebih dari 120 museum dan gedung bersejarah di berbagai provinsi Iran mengalami kerusakan signifikan, memicu kecaman keras dari komunitas internasional dan organisasi pelestarian budaya. Insiden ini menandai eskalasi serius dalam konflik regional, dengan kerugian tak ternilai bagi warisan peradaban.
Penilaian awal menunjukkan beberapa situs warisan dunia UNESCO, termasuk di kota-kota kuno seperti Isfahan dan Shiraz, turut terdampak. Kerusakan bervariasi mulai dari retakan struktural minor hingga kehancuran sebagian, mengancam integritas artefak dan koleksi museum yang tak tergantikan.
Kementerian Luar Negeri Iran segera memanggil duta besar negara-negara yang diduga terlibat, melayangkan protes keras. Mereka menuntut pertanggungjawaban penuh dan kompensasi atas kerugian budaya yang besar ini, menyebutnya sebagai kejahatan perang terhadap kemanusiaan dan warisan peradaban global.
Laporan tersebut merinci bahwa target serangan tidak hanya fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil dan, secara tidak langsung, situs-situs budaya. Pihak Iran menuduh serangan tersebut sengaja ditujukan untuk menghancurkan identitas bangsa atau setidaknya kurangnya kehati-hatian ekstrem dalam operasi militer.
Amerika Serikat dan Israel, melalui pernyataan resmi, membantah tuduhan penargetan situs budaya. Juru bicara Pentagon menyatakan bahwa semua operasi militer dilakukan sesuai hukum internasional, dengan upaya maksimal untuk menghindari kerugian sipil dan properti budaya. Namun, mereka belum memberikan detail spesifik mengenai insiden yang menyebabkan kerusakan tersebut.
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah menyuarakan keprihatinan mendalam. Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, mendesak semua pihak yang berkonflik untuk mematuhi Konvensi Den Haag 1954 tentang Perlindungan Properti Budaya dalam Konflik Bersenjata, serta protokol-protokol terkait.
Para ahli arkeologi dan konservasi dari seluruh dunia menyatakan keprihatinan serius. Mereka menekankan bahwa kehancuran warisan budaya tidak hanya merugikan satu negara, tetapi juga umat manusia secara keseluruhan, karena situs-situs ini menyimpan jejak sejarah dan evolusi peradaban.
Konflik yang memicu kerusakan ini telah berlangsung selama beberapa waktu, melibatkan ketegangan geopolitik yang kompleks di Timur Tengah. Serangan-serangan udara dan rudal telah menjadi bagian dari dinamika tersebut, dengan Iran menjadi salah satu pusat ketegangan.
Kondisi keamanan di Iran, khususnya di wilayah yang terdampak, masih belum stabil, menghambat upaya penilaian kerusakan lebih lanjut dan proses restorasi. Tim konservasi lokal menghadapi tantangan besar dalam mengamankan situs-situs yang rentan.
Salah satu museum yang paling parah terdampak adalah Museum Nasional Arkeologi Iran di Teheran, yang menyimpan koleksi artefak prasejarah hingga era Islam. Meskipun kerusakan pada koleksi utama belum dikonfirmasi secara luas, laporan awal menyebutkan kerusakan struktural yang signifikan pada bangunan itu sendiri.
Kementerian Kebudayaan Iran mengestimasi biaya restorasi dan konservasi mencapai miliaran dolar AS, sebuah angka yang membebani anggaran negara di tengah sanksi ekonomi dan ketidakpastian. Mereka berharap adanya dukungan internasional untuk upaya pemulihan ini.
Insiden ini menggarisbawahi urgensi dialog dan deeskalasi di kawasan. Para pengamat politik dan pakar hubungan internasional menyerukan agar komunitas global lebih proaktif dalam mencari solusi damai, demi mencegah kehancuran lebih lanjut terhadap kehidupan manusia dan warisan peradaban.
Profesor Hassan Rouhani, pakar sejarah Timur Tengah dari Universitas Teheran, menyatakan, "Kehancuran situs-situs ini adalah luka tak tersembuhkan bagi jiwa bangsa. Setiap batu, setiap artefak, adalah narasi yang menghubungkan kita dengan leluhur kita. Melenyapkannya berarti mencoba menghapus ingatan kolektif."
Pernyataan Rouhani mencerminkan sentimen publik yang luas di Iran, di mana kerugian budaya dipandang sebagai serangan langsung terhadap identitas dan kedaulatan mereka. Demonstrasi damai telah berlangsung di beberapa kota, menyerukan diakhirinya agresi.
Di sisi lain, beberapa analis militer Barat berpendapat bahwa kerusakan tersebut mungkin merupakan konsekuensi tidak sengaja dari serangan presisi yang menargetkan infrastruktur militer atau fasilitas nuklir yang dituduhkan Iran sembunyikan. Namun, klaim ini tidak mengurangi keprihatinan atas kerugian budaya.
Situasi ini menciptakan preseden berbahaya dalam konflik modern, di mana warisan budaya seringkali menjadi korban tak terlihat dari pertikaian geopolitik. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi terkait diharapkan dapat memainkan peran mediasi yang lebih kuat.
Upaya penyelamatan dan dokumentasi sedang diintensifkan oleh tim-tim sukarelawan dan profesional di lapangan, meskipun dengan keterbatasan sumber daya. Mereka berusaha mendata dan mengamankan artefak yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka akan membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional jika diperlukan, mencari keadilan atas apa yang mereka anggap sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan perlindungan warisan budaya.
Respons global terhadap insiden ini akan menjadi ujian bagi komitmen komunitas internasional terhadap pelestarian warisan budaya di tengah konflik bersenjata, serta kemampuan mereka untuk menahan eskalasi yang mengancam stabilitas regional.