JAKARTA — Ratusan keluarga di Ciracas, Jakarta Timur, harus merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran pada Februari 2026 dalam kondisi memprihatinkan setelah permukiman mereka terendam banjir setinggi hingga dua meter. Peristiwa nahas ini terjadi menyusul hujan deras yang mengguyur ibu kota selama lebih dari 12 jam, menyebabkan luapan Sungai Cipinang dan Kali Sunter sejak malam takbiran.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta segera menurunkan tim evakuasi untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyatakan setidaknya 750 jiwa dari delapan Rukun Warga (RW) di Kelurahan Ciracas dan Kelapa Dua Wetan terpaksa mengungsi ke posko darurat yang didirikan di aula kelurahan dan masjid setempat.
Musibah ini menjadi pukulan telak bagi warga Ciracas, terutama saat umat Islam seharusnya berbahagia merayakan hari kemenangan. Banyak di antara mereka yang kehilangan harta benda, bahkan rumah mereka nyaris tenggelam sepenuhnya, menyisakan kerugian materiil yang tidak sedikit.
Presiden Prabowo Subianto, melalui juru bicaranya, menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana ini dan menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan, dari pusat hingga daerah, untuk memberikan bantuan maksimal. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga dijadwalkan meninjau langsung lokasi terdampak pada keesokan harinya untuk memastikan penanganan berjalan optimal.
"Prioritas utama kami adalah keselamatan jiwa. Setelah itu, kami akan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, mulai dari logistik makanan, air bersih, hingga layanan kesehatan," ujar Isnawa Adji, menekankan komitmen pemerintah dalam penanganan darurat banjir Ciracas ini.
Beberapa titik terparah meliputi RT 01 hingga RT 10 di RW 04 Kelurahan Ciracas, yang berbatasan langsung dengan aliran Sungai Cipinang. Wilayah ini memang dikenal sebagai langganan banjir saat musim penghujan tiba, memperparah kondisi lantaran terjadi saat Lebaran.
Analisis awal BPBD menyebutkan, selain intensitas hujan yang sangat tinggi, buruknya sistem drainase dan penyempitan badan sungai akibat sedimentasi serta pembangunan permukiman di bantaran sungai turut menjadi faktor pemicu utama.
Langkah cepat pemerintah daerah, bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), telah mengaktifkan dapur umum dan posko kesehatan. Bantuan berupa makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan mulai didistribusikan kepada para pengungsi.
Situasi ini memunculkan kembali desakan publik agar pemerintah serius menggarap program normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta. Warga berharap, insiden serupa tidak terulang, terutama pada momen-momen penting seperti hari raya.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, dalam pernyataannya, mengklaim bahwa proyek-proyek mitigasi banjir sedang berjalan progresif, namun mengakui bahwa tantangan adaptasi terhadap perubahan iklim ekstrem masih perlu direspons lebih cepat.
"Kami tidak bisa hanya mengandalkan normalisasi. Perlu pendekatan komprehensif, termasuk revitalisasi tata ruang kota dan edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah," tegas Basuki, menggarisbawahi kompleksitas penanganan banjir ibu kota.
Para warga Ciracas berharap, setelah air surut, pemerintah dapat segera membantu proses pemulihan dan pembersihan lingkungan. Rasa solidaritas antarwarga juga terlihat jelas dengan berbagai inisiatif swadaya untuk membantu sesama yang terdampak banjir Lebaran ini.
Peristiwa banjir yang melanda Ciracas saat Lebaran 2026 ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan Jakarta terhadap bencana hidrometeorologi, menuntut solusi jangka panjang yang berkelanjutan dan implementasi kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjanji akan mengidentifikasi penyebab spesifik di Ciracas dan merumuskan langkah-langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang, memastikan perayaan hari besar keagamaan dapat dilalui dengan tenang dan aman bagi seluruh warganya.
Banjir di Ciracas ini tidak hanya merendam permukiman, melainkan juga menenggelamkan asa sebagian warga untuk menikmati Lebaran dengan suka cita, menjadikannya cerita pilu di tengah gegap gempita hari kemenangan yang seharusnya penuh kebahagiaan.