LUMAJANG — Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Rabu pagi, 15 April 2026, dengan erupsi menyemburkan kolom abu setinggi tiga kilometer di atas puncak. Kejadian ini memicu peringatan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang mengimbau masyarakat agar tidak mendekati zona bahaya di sekitar kawah.
Erupsi, yang terpantau pada pukul 08.40 WIB, menghasilkan guguran lava pijar serta awan panas guguran yang mengarah ke sektor tenggara. Petugas pos pengamatan Gunung Semeru di Lumajang melaporkan visual letusan yang intens dan berpotensi menimbulkan dampak bagi permukiman warga terdekat.
PVMBG melalui Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat, Ibu Nurul Huda, menyatakan status Gunung Semeru tetap pada Level III (Siaga). Kewaspadaan ekstra ditekankan kepada seluruh pihak, terutama masyarakat yang bermukim di lereng gunung maupun daerah aliran sungai yang berhulu di Semeru.
"Kami terus memonitor secara ketat aktivitas Gunung Semeru. Kolom abu setinggi tiga kilometer di atas puncak ini merupakan indikasi energi yang cukup besar," ujar Ibu Nurul dalam keterangan resminya. Ia menambahkan, warga diminta mematuhi rekomendasi zona aman yang telah ditetapkan.
Zona bahaya yang direkomendasikan PVMBG mencakup radius lima kilometer dari puncak, serta sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer. Area tersebut merupakan jalur guguran awan panas dan lahar dingin yang berpotensi membawa material vulkanik berbahaya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang bergerak cepat menyiagakan tim di beberapa titik strategis. Mereka melakukan patroli dan edukasi kepada warga mengenai jalur evakuasi serta prosedur keselamatan jika terjadi peningkatan aktivitas yang lebih serius.
Meskipun demikian, Kepala BPBD Lumajang, Bapak Agus Supriadi, memastikan belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur vital akibat erupsi terbaru ini. "Kami telah mengaktifkan posko siaga dan menyalurkan masker kepada masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik," jelasnya.
Erupsi Semeru bukanlah fenomena baru. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memiliki riwayat letusan berulang dalam beberapa dekade terakhir, termasuk kejadian besar pada akhir 2021 dan 2022 yang menimbulkan kerugian signifikan serta menelan korban jiwa.
Aktivitas Semeru yang fluktuatif menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus mengupayakan mitigasi bencana secara komprehensif, mulai dari pembangunan sabo dam hingga sosialisasi kebencanaan yang intensif.
Para pakar geologi mengingatkan, karakteristik letusan Semeru yang sering mengeluarkan awan panas dan guguran lava menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami dan mengikuti instruksi dari otoritas berwenang demi keselamatan bersama.
Seluruh masyarakat diimbau untuk tidak terpancing informasi hoaks dan hanya merujuk pada sumber resmi dari PVMBG dan BPBD. Peningkatan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi kunci utama menghadapi potensi ancaman dari Gunung Semeru.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk memperketat koordinasi dan memastikan bantuan logistik siap sedia jika sewaktu-waktu diperlukan. Kesiapsiagaan kolektif menjadi prioritas menghadapi tantangan alam ini.